Senin, 05 Januari 2026

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf
(Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025)

Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan salah satunya dengan keyakinan mengenai dirinya sendiri. Hal inilah yang disebut sebagai Self-Worth. Menurut Rogers (1959), dikutip dalam Imaniar, S. A., & Pratisti, W. D. (2023), Self-Worth adalah sebuah keyakinan dasar milik seseorang atas dirinya sendiri bahwa dirinya berharga dan berarti. Dalam kutipan yang sama, menurut Anthoneta & Pa (2017), Self-Worth diartikan sebagai kesadaran seseorang terhadap diri sendiri bahwa dirinya bernilai dan berhak untuk bahagia. Dengan demikian, dapat disimpulkan, Self-Worth merupakan sebuah penilaian seseorang terhadap keberhargaan atau keberartian dirinya sendiri sehingga merasa layak untuk bahagia.

Self-Worth menurut Croker et al (2003) dalam kutipan Imaniar, S. A., & Pratisti, W. D. (2023), memiliki tujuh komponen yang mendasari, meliputi; 1) Kompetensi; bahwa harga diri individu diperoleh dari sebuah kompetensi akademik seseorang, 2) Penampilan; karena di zaman sekarang, seseorang lebih sering terlebih dulu menilai dari segi penampilan, terutama fisik, 3) Kompetisi; tanpa bisa dipungkiri, seringkali, apabila seseorang mampu mengalahkan orang lain dalam suatu persaingan, maka hal tersebut menjadi faktor yang dapat meningkatkan SelfWorth untuk sebagian orang, 4) Validasi; pengakuan dari orang lain terhadap diri seseorang dapat menjadi suatu hal yang penting dalam pembentukan harga diri sehingga terkesan lebih percaya diri, 5) Dukungan keluarga; kasih sayang dari keluarga dapat menjadi support system bagi seseorang untuk menilai seberapa berharganya diri mereka, 6) Cinta Tuhan; agama memiliki peran positif terhadap Self-Worth, karena pada hakikatnya masing-masing agama memberikan pemahaman bahwa setiap manusia dicintai dan berharga di mata penciptanya, 7) Kebajikan; Self-Worth juga dipengaruhi oleh bagaimana seseorang dalam mempertahankan ketaatannya, baik kepada aturan maupun norma yang berlaku untuk membentuk penilaian kepribadian yang baik, berharga dan bermoral.

Maka dari itu, dapat diketahui, rasa bersaing sebagai bagian dari kompetisi menjadi salah satu faktor mendasar terbentuknya Self-Worth, yang kemudian dapat memicu munculnya sikap membandingkan diri dengan orang lain, baik dalam hal kepemilikan maupun pencapaian. Sikap ini berdampak positif apabila diterapkan untuk evaluasi diri, namun dapat menjadi negatif jika menimbulkan penilaian buruk tentang diri sendiri sehingga merasa berkecil hati. Dampak dari sikap ini sudah banyak dijumpai di lingkungan sekitar, terlebih dampak negatif. Padahal, pada komponen Self-Worth yang lain, yakni cinta Tuhan, menjelaskan bahwa setiap agama selalu meyakinkan pemeluknya, bahwasanya setiap darinya memiliki nilai, dicintai dan dihargai oleh Penciptanya. Contohnya, dalam agama Islam, Allah Swt menegaskan di dalam Al-Qur’an Surah At-tin ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ۝٤

Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya.”

Hal inilah yang kemudian perlu diperhatikan lebih dalam, karena sikap membandingkan diri sering kali melampaui batas evaluasi dan justru memicu ketidakpercayaan diri. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana seseorang dapat membatasi perilaku membandingkan diri agar tetap sehat dan tidak mengurangi nilai dirinya. Dalam konteks inilah penting untuk mengamati bagaimana Islam memandang dan membentuk konsep Self-Worth. Dengan demikian, artikel ini bertujuan membahas bagaimana Islam memberikan pemahaman tentang pembentukan Self-Worth serta cara menemukan nilai diri tanpa membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain. Artikel ini juga diharapkan dapat menumbuhkan perilaku cerdas dalam memilah sikap-sikap yang perlu dipertahankan dalam diri, supaya membentuk konsep Self-Worth yang stabil dan sehat.

Menurut Subagja et al (2025) dikutip pada Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025), dalam Islam, konsep harga diri dibangun dalam kerangka transendental atau hal-hal yang menonjolkan sifat kerohanian, yang berdasar pada hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhannya, yakni Allah Swt. Islam memandang nilai atau martabat manusia (‘izzah) tidak berasal dari status sosial, kekayaan ataupun pujian publik, akan tetapi bersumber pada nilai ketakwaan dan kualitas hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Konsep tersebut dipertegas sesuai firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

Artinya:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”. Hal ini menunjukan bahwa dalam Islam, nilai diri manusia bersifat ilahiah, bukan duniawi.

Sa’ari dan Harun (2018) dikutip pada Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025) juga menjelaskan bahwa konsep harga diri dalam Islam tidak dibangun berdasarkan ego personal ataupun pembentukan citra sosial seseorang yang dinilai dari persepsi publik, melainkan atas dasar identitas eksistensial manusia sebagai ‘abd Allah (hamba Allah) dan khalifah di muka bumi. Hablumminallah atau hubungan baik manusia dengan Allah menjadi fondasi utama pembentukan penilaian diri (Self-Worth) yang sehat, stabil dan bermakna.

Arroisi dan Badi’ (2022) dikutip pada Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025) dalam hal ini menegaskan bahwa bentuk spiritualitas dalam Islam bukanlah menjadi sebuah pelarian dari realitas dunia, akan tetapi sebagai sumber pengetahuan dan hakikat dalam memahami jati diri. Kegiatan seperti ibadah, penguatan akhlak, keikhlasan dan kedekatan spiritual tidak hanya dipandang sebagai ritual, melainkan menjadi bagian utuh dari pembentukan harga diri yang otentik dan kokoh.

Jika dikaitkan dengan konteks membandingkan diri, yang mana seseorang memiliki sikap tersebut cenderung disebabkan oleh rasa bersaing yang mungkin dipicu oleh opini publik. Misalnya, saat seseorang mengalami kegagalan pencapaian, kemudian menimbulkan orang lain berkomentar buruk. Seseorang akan menganggap bahwa dirinya tidak sekompeten orang lain, prosesnya lambat bahkan merasa kegagalan tersebut adalah akhir dari segala hal. Fenomena itulah yang kemudian menyebabkan pembentukan nilai diri atau Self-Worth menjadi buruk. Padahal dalam Islam, seperti yang sudah dipaparkan di atas, nilai atau harga diri seseorang tidak dibentuk berdasarkan ego personal maupun citra sosial seseorang yang dibangun dari opini publik, akan tetapi bersumber pada identitas eksistensial manusia sebagai ‘abd Allah (hamba Allah) dan khalifah di muka bumi, yang mana hal tersebut menjadi pondasi utama pada kesehatan dan kestabilan pembentukan penilaian diri atau Self-Worth supaya memiliki pemaknaan yang sesuai.

Pembentukan nilai diri berdasar pada hablumminallah menurut Abdul Hakim & Asep Sobari (2005) dalam kutipan Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025) menerangkan mengenai pemikiran Fathi Yakan dalam karyanya Al-Mutasaqitūn ʿAlā Ṭarīq al-Daʿwah, terdapat enam komponen utama yang menjadi dasar karakter spiritual sekaligus aspek penting harga diri, yakni: 1) Iman kokoh, sebagai sumber kekuatan sekaligus makna jiwa, 2) Ibadah khusyuk, sebagai bentuk keterikatan ekistensi manusia menjadi hamba Allah, 3) Akhlak mulia, memuat ekspresi nilai diri yang baik, 4) Pengendalian hawa nafsu, menjadi suatu bentuk kontrol diri, 5) Peran keluarga Islami, sebagai dukungan lingkungan edukatif spiritual, 6) Keyakinan terhadap masa depan Islam, sebagai tujuan dan harapan kehidupan. Sehingga, melalui keenam unsur tersebut, pembentukan nilai diri bukan sekadar wacana psikologis, tetapi juga sebagai proyek keberadaan manusia yang utuh dan bermisi.

Sa’ari & Harun (2018) dalam kutipan Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025), menyimpulkan bahwa pembentukan nilai diri atau Self-Worth dalam Islam memberikan pandangan bahwa ʿizzah rūḥiyyah (kemuliaan jiwa) dibangun melalui relasi spiritual dengan Allah SWT, internalisasi nilai-nilai Qur’ani, dan tujuan hidup yang bersifat ukhrawi. Hal ini menerangkan bahwa di tengah budaya popular digital yang menghubungkan nilai diri kepada sebuah validasi, Islam memberikan jalan alternatif yang membebaskan, meyakinkan dan memuliakan manusia bukan dari suatu penampilan, melainkan kualitas pribadi di dalamnya. Menurut Sunandar & Wasehudin (2022) dalam kutipan yang sama, memiliki sebuah kesadaran bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh validasi eksternal, melainkan oleh hubungan spiritual yang mendalam dengan Tuhan, merupakan prinsip kunci dalam pembentukan harga diri (Self-Worth) yang stabil dan kuat terhadap tekanan sosial.

Maka dengan demikian, perilaku yang perlu diamalkan untuk menerapkan prinsip tersebut adalah dengan mengurangi sikap membandingkan diri terhadap proses orang lain supaya tidak merasa gagal ataupun tertinggal. Selain itu, apabila terjadi sebuah kegagalan dalam hidup, yang kemudian memicu opini publik berkomentar buruk, maka yang perlu diingat adalah bahwa Islam tidak menilai berdasarkan apa yang kita capai secara duniawi, melainkan melalui pembentukan nilai ukhrawi. Hal yang perlu diperkuat adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt untuk memperkuat iman, memperkhusyuk ibadah, membentuk karakter akhlak yang mulia, mengendalikan hawa nafsu, membentuk peran keluarga yang Islami dan meyakini prinsip masa depan Islam sebagai tujuan. Dengan mengamalkan prinsip-prinsip tersebut, maka akan tersbentuk suatu nilai diri atau Self-Worth yang utuh, kokoh dan memiliki visi serta misi.

SUMBER REFERENSI

Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025). Fomo Sebagai Refleksi Krisis Harga Diri: Tinjauan Integratif Psikologi Modern dan Nilai Islam. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(03), 717-734.

https://quran.nu.or.id/al-hujurat/13 https://quran.nu.or.id/at-tin/4

Imaniar, S. A., & Pratisti, W. D. (2023). Hubungan antara Self-Worth, Self-Compassion dengan Subjective Well-Being pada Mahasiswa Pengguna Instagram (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Teknologi Informasi Dakwah

[ESAI] ANALISIS EFEKTIVITAS KONTEN DAKWAH

 

(Sumber: https://nasional.news/baiat-ustadz-hanan-attaki-tandai-resmi-gabung-ke-nu/)

EFEKTIVITAS DAKWAH DIGITAL USTADZ HANAN ATTAKI: “BANYAK MAIN, BANYAK MANFAAT, BANYAK PAHALA”

            Berbicara mengenai umat Islam tentu tidak lepas dari pembahasan tentang dakwah. Dalam kesehariannya, umat Islam selalu dihiasi dengan aktivitas dakwah, yang secara sederhana berarti mengajak.

            Menurut Kasir dan Awali (2024), dakwah berasal dari bahasa Arab “da‘wa” yang berarti seruan atau panggilan. Dalam konteks Islam, dakwah mengacu pada aktivitas menyebarkan ajaran Islam, mengajak orang untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Dakwah tidak hanya berbentuk ceramah atau khutbah, tetapi juga mencakup berbagai kegiatan yang bertujuan memperbaiki serta membangun masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

            Ali (2019) dikutip dalam Kasir dan Awali (2024) menjelaskan bahwa dakwah melibatkan proses komunikasi yang efektif, dimana pesan disampaikan dengan cara yang dapat dipahami dan diterima oleh audiens. Lebih lanjut, Kasir dan Awali (2024) juga menyampaikan, bahwa berdasarkan teori komunikasi, keberhasilan dakwah sangat bergantung pada unsur-unsur komunikasi seperti pengirim (da’i), pesan, media, penerima (mad’u), dan umpan balik.

            Di era modern seperti sekarang, dakwah tidak lagi terbatas pada cara konvensional atau tatap muka langsung. Dakwah kini juga bisa diakses melalui platform digital. Menurut Kasir & Awali (2024) Teori Uses and Gratifications (Blumler & Katz) menjelaskan bahwa audiens dapat secara aktif memilih media dan konten yang sesuai dengan kebutuhan serta keinginan mereka. Dengan demikian, setiap individu bebas memilih media dakwah yang paling sesuai dengan dirinya; apakah dakwah langsung secara tatap muka, atau melalui platform digital seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan lainnya. Pemilihan media ini biasanya menyesuaikan dengan rentang usia dan karakter audiens, misalnya kalangan orang tua, anak-anak, maupun para pemuda.

            Salah satu contoh da’i yang berhasil memanfaatkan media digital untuk menjangkau kalangan muda adalah Ustadz Hanan Attaki. Dalam salah satu platform dakwahnya, yaitu kanal YouTube @HananAttaki, beliau memiliki 2,98 juta subscriber, dengan total 302 video dengan sekitar 126,7 juta penonton. Dalam deskripsi kanalnya, beliau memperkenalkan diri sebagai Founder Shift Pemuda Hijrah serta Alumni Al-Azhar Kairo tahun 2004. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai programmer “Dakwah Lifestyle” anak muda dan pendiri Pesan_trend & Sekolah Rimba. Sebagai seorang da’i, beliau meneguhkan motto yang khas dan ringan bagi anak muda, yaitu: “Banyak main, banyak manfaat, banyak pahala.”

            Beberapa program yang dijalankan dalam konten dakwah Ustadz Hanan Attaki antara lain Booster & Lifehacks, Siroh Nabi & Sahabat, BBN (Barisan Bangun Negeri), Kata UHA, serta Q&A.

            Dalam program Booster & Lifehacks, Ustadz Hanan Attaki membahas berbagai keutamaan amalan sederhana seperti salat tahajud, sabar, dan sedekah. Beliau juga sering menyinggung tentang pentingnya menjaga keimanan serta selalu mengingat Allah. Selanjutnya, dalam program Siroh Nabi & Sahabat, beliau mengenalkan kepada audiens bagaimana pentingnya memahami sifat, sikap, dan kebiasaan Nabi Muhammad SAW serta para sahabatnya untuk dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

            Program yang ketiga, BBN (Barisan Bangun Negeri) menampilkan aksi nyata dari dakwah beliau dalam bentuk kegiatan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Tujuannya adalah memotivasi audiens agar turut berbuat kebaikan, serta menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga tindakan nyata. Kemudian, ada program Q&A, yakni sesi tanya jawab antara Ustadz Hanan Attaki dan audiensnya. Pertanyaan dikirim melalui Instagram, lalu dijawab oleh beliau dalam bentuk video singkat (shorts) di YouTube.

            Terakhir, program Kata UHA. Program ini memiliki konsep yang mirip dengan Q&A, namun disampaikan dalam format yang lebih panjang, yaitu melalui podcast. Dalam program ini, beliau menjawab berbagai pertanyaan dengan penjelasan yang lebih mendalam dan reflektif.

            Dalam dakwahnya, Ustadz Hanan Attaki menyampaikan bahwa gaya dakwahnya sengaja tidak menggunakan bahasa yang terlalu akademis agar audiens tidak kesulitan memahami dan tidak merasa terbebani. Oleh karena itu, beliau memilih gaya penyampaian yang hangat, menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana, jelas, dan tidak berbelit-belit. Gaya komunikasi yang ringan dan mudah dipahami inilah yang kemudian membuat dakwahnya diterima luas oleh masyarakat, terutama kalangan muda.

            Hal ini sejalan dengan respon positif dari para audiens. Misalnya, dalam konten Siroh Nabi & Sahabat berjudul “Perasaan Nabi itu Teladan”, yang telah ditonton 237 ribu kali dan mendapat 9,2 ribu likes. Komentar dari @febriyanto19 menuliskan, “Inilah ustadz yang dapat menarik pemuda-pemudi ke jalan Allah. Bahkan dengar suaranya saja hati terasa damai. Cara tutur kata dan penampilannya sederhana. Apalagi jika mendengarkan beliau melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Selalu dalam perlindungan Allah, ustadz. Dan buat pemuda-pemudi, tetap istiqamah di jalan Allah... insyaAllah.”

            Respon positif serupa juga terlihat pada konten Q&A berjudul “Saat Ragu Sama Allah, Gimana?”, seperti komentar dari @soem_279, “Subhanallah... suka sama pembawaan dakwahnya, merangkul semua kalangan, apalagi anak muda. Sehat terus ustadz, semoga terus menebar kebaikan dan bisa memberi nasihat-nasihat bermanfaat. Aamiin.”

            Gaya dakwah Ustadz Hanan Attaki tidak hanya menyentuh sisi emosional dan batin audiens, tetapi juga membantu mereka lebih memahami ilmu agama yang disampaikan.

            Hal ini tampak dalam komentar audiens pada konten Kata UHA berjudul “Mengejar Prioritas dari Cinta - Ustadz Hanan Attaki #KataUHA13”, dimana @mdjajusman9427 menulis, “Baru ngeh bahwa selama ini aku beribadah cuma transaksional, belum menghadirkan cinta. Makanya gampang patah, gampang kecewa, gampang futur. Astaghfirullah... trims ustadz ilmunya, walaupun cuma 10 menitan tapi mengena banget.”

            Dakwah Ustadz Hanan Attaki juga memberikan semangat dan motivasi bagi audiens untuk terus berproses menjadi lebih baik. Seperti komentar dari @masbroe8124, “Jujur, saya lagi mengalami masalah was-was soal akidah. Alhamdulillah dengan banyak dengar ceramah ustadz, saya jadi lebih semangat dalam berhijrah. Semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah SWT.”

            Komentar lainnya dari @primaoza menambahkan, “Setiap hati lelah, setiap iman melemah, salah satu yang merecharge hati dan iman saya adalah kajian-kajian Ustadz Hanan. Semoga Allah selalu menjaga ustadz. Jazakumullah khairan.”

            Berdasarkan data dan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa channel YouTube Ustadz Hanan Attaki sangat efektif sebagai media dakwah digital. Alasannya adalah gaya penyampaian beliau yang santai dan menenangkan membuat pesan agama mudah diterima oleh semua kalangan, terutama anak muda. Respons audiens yang positif dan reflektif juga menunjukkan bahwa konten beliau tidak hanya ditonton, tapi sekaligus dirasakan maknanya. Data statistic seperti jumlah views yang sudah mencapai jutaan, ribuan likes dan beragam komentar pun menunjukkan bahwa jangkauan dakwah beliau cukup luas dan relevan. Kontennya edukatif, inspiratif, dan aplikatif, membantu masyarakat memahami Islam bukan hanya secara teori, tapi juga dalam praktik hidup sehari-hari.

            Sebagai seorang da’i yang juga dikenal sebagai programmer “Dakwah Lifestyle” anak muda, isi ceramah Ustadz Hanan Attaki sangat relevan dengan kehidupan generasi muda masa kini. Seperti dalam program Kata UHA, dengan tema “Mengejar Prioritas dari Cinta”, menunjukkan bahwa beliau memahami keresahan dan dinamika anak muda, mulai dari urusan iman, semangat hidup, hingga masalah perasaan. Pada program Booster & Lifehack - “Menandingi Keutamaan Tahajud & Puasa? Bisa Banget!”, beliau juga menyampaikan pesan agar anak muda tidak merasa minder dalam beribadah dan tetap semangat mencari cara mendekatkan diri kepada Allah sesuai kemampuan masing-masing. Hal ini menjadikan dakwah beliau terasa relatable dan tidak terkesan menggurui.

            Dalam sebagian besar video, Ustadz Hanan juga menyertakan dalil dari Al-Qur’an dan hadis untuk memperkuat pesan dakwahnya. Misalnya, dalam konten Booster & Lifehack - “Menandingi Keutamaan Tahajud & Puasa? Bisa Banget!” bersumber pada surah An-Nisa ayat 32, yang artinya bahwa “janganlah kalian iri hati terhadap karunia Allah Ta'ala yang diberikan kepada sebagian yang lain”.

            Namun, terkadang tidak semua video menampilkan sumber ayat secara eksplisit di layar atau dalam narasi, sehingga penonton awam mungkin sulit mencatat referensi dengan jelas. Akan lebih baik jika setiap potongan ayat atau hadis juga ditampilkan secara visual agar semakin mudah dipahami dan diingat.

            Dengan pembawaan dakwahnya, Ustadz Hanan Attaki bisa dibilang santai, hangat, dan mudah diterima. Beliau menggunakan bahasa yang ringan dan akrab, sehingga membuat pendengar merasa nyaman dan tidak tertekan. Suaranya lembut dan penuh empati, cocok untuk audiens muda yang membutuhkan sosok panutan yang tidak menghakimi. Banyak penonton juga mengomentari bahwa mendengarkan ceramah beliau membuat hati terasa tenang dan termotivasi. Gaya ini menjadi salah satu kekuatan utama kontennya.

            Meskipun sebagian besar kontennya berupa potongan dari ceramah langsung maupun podcast bersama host podcast itu sendiri, Ustadz Hanan Attaki tetap mampu menjaga kedekatan dengan audiens, melalui gaya berbicara yang seolah-olah berinteraksi langsung kepada audiens. Selain itu, kolom komentar pada videonya menunjukkan interaksi aktif dari jamaah yang menanggapi dengan refleksi pribadi dan doa. Respon beliau terhadap anak muda juga terlihat di program BBN (Barisan Bangun Negeri) yang berisi kegiatan sosial nyata, seperti membantu pasien dan keluarga yang membutuhkan. Ini menunjukkan bahwa dakwahnya tidak hanya berhenti di kata-kata, tapi diwujudkan dalam aksi nyata.

            Secara keseluruhan, konten dakwah Ustadz Hanan Attaki berhasil menyentuh hati banyak anak muda karena kemasannya yang ringan, penuh makna, dan tidak menggurui. Beliau mampu membangun citra sebagai ustadz yang relevan, inspiratif, dan membumi. Namun, beberapa hal yang perlu ditingkatkan, seperti menampilkan sumber ayat dan hadis secara konsisten di layar agar penonton mudah mencatat dan belajar lebih dalam.

            Menurut Kolb & Whishaw (2014) yang dikutip dalam Khotimah dkk (2019), berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran menjadi lebih optimal melalui teknik visualisasi. Lebih lanjut, Khotimah dkk (2019) menambahkan bahwa mata manusia lebih cepat menangkap informasi dalam bentuk visual (grafis) dibandingkan teks, sehingga perhatian audiens pun menjadi lebih besar untuk memahami isi pesan yang disampaikan.

            Dengan beberapa penyempurnaan tersebut, kanal dakwah Ustadz Hanan Attaki nantinya akan berpotensi semakin kuat dalam berperan sebagai media edukasi spiritual yang dekat dengan generasi muda dan tetap menebarkan nilai-nilai Islam yang positif.


SUMBER REFERENSI

Kasir, I., & Awali, S. (2024). Peran dakwah digital dalam menyebarkan pesan Islam di era modern. Jurnal An-Nasyr: Jurnal Dakwah Dalam Mata Tinta11(1), 59-68.

Khotimah, H., Supena, A., & Hidayat, N. (2019). Meningkatkan attensi belajar siswa kelas awal melalui media visual. Jurnal Pendidikan Anak8(1), 17-28.

Penulis: Riris Rizki Maulida

Ditulis sebagai Tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Islam dan Media

ANALISIS MAJALAH SABILI

 

(Sumber: https://beritafotojakarta.wordpress.com/2012/10/28/penyembelihan-hewan-qurban-presiden-ri/logo-supported-sabili-jpg/)

A.    Profil Majalah Sabili (Sejarah, Pendiri dan Tujuan)

Majalah Sabili merupakan salah satu media pers Islam yang memiliki sejarah panjang dalam dunia dakwah dan jurnalistik di Indonesia. Media ini hadir dalam dua periode penting, yakni masa Orde Baru dan masa Reformasi. Sabili pertama kali muncul pada tahun 1985, lahir dari semangat kelompok aktivis dakwah Islam yang tergabung dalam Kelompok Telaah dan Amaliah Islam (KTAI). Kelompok ini berupaya mendistribusikan nilai-nilai Islam melalui media cetak sebagai sarana syiar di tengah kondisi politik yang represif di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

Usulan untuk menerbitkan Sabili dalam bentuk majalah pertama kali dicetuskan oleh Zainal Muttaqin dan disambut baik oleh anggota KTAI yang hadir dalam sebuah pertemuan pengajian. Kegiatan kelompok ini memang dilakukan secara bergiliran dari rumah ke rumah, dan dari pertemuan inilah terbentuk ide kolektif untuk menghadirkan media dakwah yang terorganisasi. Proses pendirian Sabili dilakukan secara gotong royong dengan semangat keislaman yang tinggi.

Tujuan utama penerbitan Sabili adalah untuk memberikan pendidikan kepada umat melalui penyebaran gagasan, ide, dan pemikiran Islam yang benar, serta membimbing masyarakat menuju jalan hidup yang hanif. Namun, pada periode awal penerbitannya, Sabili menghadapi berbagai kendala, termasuk kekurangan dana dan sumber daya manusia yang berpengalaman di bidang jurnalistik. Akibatnya, edisi perdana Sabili—yang tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulan terbitnya—juga menjadi edisi terakhir untuk sementara waktu. Dengan modal awal sebesar satu juta rupiah yang diperoleh dari hasil patungan para pengelola, Sabili sempat mengalami kevakuman selama tiga tahun.

Setelah masa kevakuman, Sabili kembali terbit dengan jumlah cetakan awal sebanyak 2.000 eksemplar. Penerbitan ini masih dilakukan oleh Kelompok Telaah Amaliah Islam (KTAI) Jakarta. Pada fase ini, proses produksi majalah dilakukan secara manual karena keterbatasan alat percetakan. Bahkan, kantor redaksi belum tersedia, sehingga kediaman Zainal Muttaqin difungsikan sebagai tempat kegiatan penerbitan. Meskipun dalam keterbatasan, Sabili mulai mendapat sambutan positif, khususnya dari kalangan aktivis muda Islam dan kelompok-kelompok pengajian. Konten-konten yang disajikan mencakup sejarah nabi, pengetahuan Islam, serta berita dan dinamika dunia Islam, khususnya kawasan Timur Tengah.

Namun, perlu dicatat bahwa pada awal kemunculannya, Sabili merupakan majalah ilegal karena tidak memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Kendati demikian, majalah ini tetap mampu berkembang secara signifikan dari tahun 1988 hingga 1993. Dalam konteks Orde Baru, Sabili bahkan menjadi simbol perlawanan kultural umat Islam terhadap rezim yang mengekang kebebasan berekspresi, khususnya dalam hal keagamaan. Dengan pendekatan editorial yang cukup berani, Sabili tidak segan mengkritik kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang berkembang saat itu. Hal inilah yang kemudian menyebabkan Sabili diberedel oleh pemerintah karena kontennya dianggap terlalu frontal dan berbahaya bagi stabilitas rezim.

Perubahan besar terjadi setelah runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998 dan naiknya Presiden B.J. Habibie sebagai pemimpin baru Indonesia. Masa transisi ini ditandai dengan berkembangnya sistem demokrasi dan keterbukaan pers. Iklim kebebasan yang baru ini menjadi peluang bagi Sabili untuk kembali bangkit sebagai media dakwah. Dalam suasana politik yang lebih kondusif, Sabili kembali hadir dan mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu media Islam yang berpengaruh di Indonesia.

B.     Segmentasi Pembaca

Majalah Sabili merupakan salah satu media pers Islam yang memiliki segmentasi pembaca yang sangat jelas. Sejak awal, Sabili membidik kalangan aktivis muslim yang tersebar di lingkungan kampus, kelompok-kelompok dakwah, serta komunitas pengajian. Kehadiran Sabili mendapat sambutan positif dari komunitas tersebut, terbukti dengan meningkatnya jumlah oplah dari sekitar 80 ribu eksemplar pada tahun 2000 menjadi 100 ribu eksemplar di tahun 2001. Pertumbuhan ini sejalan dengan semakin berkembangnya kelompok-kelompok dakwah muslim di Indonesia.

Setelah kembali terbit di pertengahan tahun 1998 di bawah naungan PT. Bina Media Sabili, majalah ini menetapkan posisinya sebagai bacaan bagi mereka yang memiliki kepedulian terhadap Islam dan umat Islam. Melalui rapat kerja pertama pada 10-11 Juli 1998, disepakati bahwa segmen pembaca Sabili berdasarkan demografis dan psikografis membidik:

1.      Usia                             : 16-40 tahun

2.      Pendidikan                  : Minimal SMA/sederajat

3.      Status ekonomi            : Menengah

4.      Kelompok                   :

                                                         a)         Remaja masjid

                                                         b)         Anggota Rohis sekolah

                                                         c)         Kelompok pengajian di sekolah, kampus, dan perkantoran

                                                         d)         Anggota Ormas dan organisasi pemuda/mahasiswa Islam

                                                         e)         Kalangan profesional muslim yang ingin memperdalam keislaman

Maknanya, dari segi demografis, pembaca Sabili berada dalam rentang usia 16 hingga 40 tahun, dengan tingkat pendidikan minimal SMA sederajat dan berasal dari kalangan ekonomi menengah. Dari sisi psikografis, pembaca Sabili umumnya memiliki minat besar terhadap wacana keislaman, isu-isu umat, dan aktivitas dakwah.

Namun, seiring masuknya investor yang turut mendanai operasional majalah, Sabili mengalami perubahan dalam format isi dan orientasi pasar. Majalah ini mulai mengejar kenaikan oplah demi memenuhi kebutuhan biaya operasional dan gaji pegawai. Selain itu, Sabili juga mulai membuka ruang iklan, di mana harga iklan disesuaikan dengan tingkat penjualan majalah. Perubahan ini menjadi bagian dari proses modernisasi Sabili sebagai media Islam.

Dampaknya, orientasi pasar yang lebih luas secara perlahan menggeser sebagian karakter pembaca fanatiknya, yaitu kelompok pembaca yang selama ini setia mencari informasi dan pengetahuan keislaman yang mendalam. Meski begitu, Sabili tetap berupaya mempertahankan karakter dakwahnya di tengah tuntutan industri media yang semakin kompetitif.

Kesimpulannya, segmentasi pembaca Majalah Sabili awalnya sangat kuat di kalangan aktivis dakwah muslim dengan demografi dan psikografi tertentu. Namun, seiring modernisasi dan tuntutan pasar, segmentasi tersebut sedikit bergeser, dengan Sabili mulai menjangkau pasar yang lebih luas demi keberlanjutan penerbitannya. Majalah Sabili menjadi salah satu contoh media dakwah yang mampu meraih segmen pembaca muslim aktif, meskipun harus beradaptasi di tengah dinamika perubahan zaman dan kebutuhan pasar.

C.    Periode Terbit dan Harga

1.      Periode Majalah Sabili

                                                         a)         Awal terbit sekitar tahun 1985 dengan adanya gerakan Dakwah oleh aktivis gerakan tarbiyah. Harga majalah sabili kala itu Rp.500-,

                                                         b)         Periode 1988-1993 berkembang secara pesat walaupun belum mempunyai surat izin perusahaan penerbit pers. Pada tahun ini juga majalah sabili berhasil menerbitkan sekitar 15 edisi .

                                                         c)         Pada tahun 1993 sempat dihentikan karena tidak memiliki izin usaha.

                                                         d)         Setelah beberapa tahun akhirnya majalan ini kembali aktif dengan harga Rp.2000..

                                                         e)         Pada tahun 2013 majalah sabili versi cetak berhenti beroperasi.

                                                          f)         Pada tahun 2023 majalah Sabili kembali hadir dalam bentuk online dan dapat diakses secara gratis.

2.      Harga Majalah Sabili

                                                         a)         Edisi khusus 100 tahun M. Nasir sekitar Rp. 39.000

                                                         b)         Edisi khusus "Islam: kawan atau lawan" Sekitar Rp.5000 - 50.000

                                                         c)         Edisi khusus sejarah emas muslim Indonesia Sekitar Rp. 23.200 - 70.000

D.    Rubrik Majalah Sablili : TNI Dan Aceh Tumbal Mega

1.      Sekitar Kita                 : Problem Bangsa

2.      Ibroh                            : Berdakwah dengan Kekuasaan

3.      Muhasabah                  : Luka Aceh salah kita

4.      Telaah Utama              : Menggugat rezim mega teror

5.      Wawancara                  : Suripto “ada CIA bermain di Aceh”

6.      Kolom                         : Signifikasi pemilu 2004

7.      Alam Islami                 : Mereka bersatu memaki Islam

8.      Tadabur                       : Pilar-pilar kebangkitan bangsa

9.      Tarqiyah                      : Pesan politik Rasul

10.  Menggapai Sakinah    : Do'a yang tak terkabulkan

11.  Konsultasi Agama       : Mewakilkan naik haji

12.  Profil                           : Da'i tunanetra lahirkan ribuan hafidz

13.  Ya Robbi                     : Ketika aku melahirkan anak ke delapan

14.  Keluarga                      : Alternatif bagi anak hiperaktif

15.  Bimbingan Tauhid      : Salah kaprah umat kristiani

16.  Takwin                        : Memutus jaringan hawa nafsu

17.  Tijarah                         : Saatnya keluar dari IMF

18.  Indonesia Kita             : Aksi sejuta umat untuk Sisdiknas

19.  Tafakur                        : Fatamorgana kebebasan

E.     Transformasi Media Digital

Setelah melalui perjalanan panjang, Majalah Sabili resmi berhenti terbit dalam bentuk cetak pada April 2013. Di tengah berbagai dinamika internal, persoalan bisnis, dan perubahan zaman, Sabili tetap meninggalkan jejak sebagai media Islam yang tegas membela kepentingan umat, baik di Indonesia maupun dunia. Meski sempat meredup, semangat itu tak pernah benar-benar padam. Pada 9 Februari 2023, Zainal Muttaqin bersama tim kembali menyalakan bara Sabili lewat platform daring, Sabili.id. Setelah setahun masa uji coba, kini Sabili siap diluncurkan secara resmi. Kehadiran kembali Sabili menjadi penanda bahwa perjuangan suara umat masih terus hidup, meski tantangan dunia media kian berat. Hanya dengan kebersamaan, kepedulian, dan dukungan umat, Sabili bisa kembali menjadi cahaya di tengah gelapnya ruang informasi arus utama.

Penulis: Andika Didik Satria, Lily Maulida Hasanah, Riri Izzatur Hasna, Riris Rizki Maulida

Ditulis sebagai Tugas Kelompok mata kuliah Manajemen Media Cetak, Elektronik & Online

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...