![]() |
| Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) |
Dalam menjalani
sebuah proses kehidupan, individu bertahan salah satunya dengan keyakinan
mengenai dirinya sendiri. Hal inilah yang disebut sebagai Self-Worth. Menurut Rogers (1959), dikutip dalam Imaniar, S. A.,
& Pratisti, W. D. (2023), Self-Worth adalah
sebuah keyakinan dasar milik seseorang atas dirinya sendiri bahwa dirinya
berharga dan berarti. Dalam kutipan yang sama, menurut Anthoneta & Pa
(2017), Self-Worth diartikan sebagai
kesadaran seseorang terhadap diri sendiri bahwa dirinya bernilai dan berhak
untuk bahagia. Dengan demikian, dapat disimpulkan, Self-Worth merupakan sebuah penilaian seseorang terhadap
keberhargaan atau keberartian dirinya sendiri sehingga merasa layak untuk
bahagia.
Self-Worth menurut Croker et al (2003)
dalam kutipan Imaniar, S. A., & Pratisti, W. D. (2023), memiliki tujuh
komponen yang mendasari, meliputi; 1) Kompetensi; bahwa harga diri individu
diperoleh dari sebuah kompetensi akademik seseorang, 2) Penampilan; karena di
zaman sekarang, seseorang lebih sering terlebih dulu menilai dari segi
penampilan, terutama fisik, 3) Kompetisi; tanpa bisa dipungkiri, seringkali,
apabila seseorang mampu mengalahkan orang lain dalam suatu persaingan, maka hal
tersebut menjadi faktor yang dapat meningkatkan SelfWorth untuk sebagian orang, 4) Validasi; pengakuan dari orang
lain terhadap diri seseorang dapat menjadi suatu hal yang penting dalam
pembentukan harga diri sehingga terkesan lebih percaya diri, 5) Dukungan
keluarga; kasih sayang dari keluarga dapat menjadi support system bagi seseorang untuk menilai seberapa berharganya
diri mereka, 6) Cinta Tuhan; agama memiliki peran positif terhadap Self-Worth, karena pada hakikatnya
masing-masing agama memberikan pemahaman bahwa setiap manusia dicintai dan
berharga di mata penciptanya, 7) Kebajikan; Self-Worth
juga dipengaruhi oleh bagaimana seseorang dalam mempertahankan ketaatannya,
baik kepada aturan maupun norma yang berlaku untuk membentuk penilaian
kepribadian yang baik, berharga dan bermoral.
Maka dari itu, dapat diketahui, rasa
bersaing sebagai bagian dari kompetisi menjadi salah satu faktor mendasar
terbentuknya Self-Worth, yang
kemudian dapat memicu munculnya sikap membandingkan diri dengan orang lain,
baik dalam hal kepemilikan maupun pencapaian. Sikap ini berdampak positif
apabila diterapkan untuk evaluasi diri, namun dapat menjadi negatif jika
menimbulkan penilaian buruk tentang diri sendiri sehingga merasa berkecil hati.
Dampak dari sikap ini sudah banyak dijumpai di lingkungan sekitar, terlebih
dampak negatif. Padahal, pada komponen Self-Worth
yang lain, yakni cinta Tuhan, menjelaskan bahwa setiap agama selalu
meyakinkan pemeluknya, bahwasanya setiap darinya memiliki nilai, dicintai dan
dihargai oleh Penciptanya. Contohnya, dalam agama Islam, Allah Swt menegaskan
di dalam Al-Qur’an Surah At-tin ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ٤
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaikbaiknya.”
Hal inilah yang
kemudian perlu diperhatikan lebih dalam, karena sikap membandingkan diri sering
kali melampaui batas evaluasi dan justru memicu ketidakpercayaan diri. Kondisi
tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana seseorang dapat membatasi perilaku
membandingkan diri agar tetap sehat dan tidak mengurangi nilai dirinya. Dalam
konteks inilah penting untuk mengamati bagaimana Islam memandang dan membentuk
konsep Self-Worth. Dengan demikian,
artikel ini bertujuan membahas bagaimana Islam memberikan pemahaman tentang
pembentukan Self-Worth serta cara
menemukan nilai diri tanpa membandingkan diri secara berlebihan dengan orang
lain. Artikel ini juga diharapkan dapat menumbuhkan perilaku cerdas dalam
memilah sikap-sikap yang perlu dipertahankan dalam diri, supaya membentuk
konsep Self-Worth yang stabil dan
sehat.
Menurut Subagja et al (2025) dikutip pada
Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025), dalam Islam, konsep harga diri dibangun
dalam kerangka transendental atau hal-hal yang menonjolkan sifat kerohanian,
yang berdasar pada hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhannya, yakni
Allah Swt. Islam memandang nilai atau martabat manusia (‘izzah) tidak berasal dari status sosial, kekayaan ataupun pujian
publik, akan tetapi bersumber pada nilai ketakwaan dan kualitas hubungan
vertikal dengan Sang Pencipta. Konsep tersebut dipertegas sesuai firman Allah
Swt dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya:
“Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling
bertakwa.”. Hal ini menunjukan bahwa dalam Islam, nilai diri manusia
bersifat ilahiah, bukan duniawi.
Sa’ari dan Harun
(2018) dikutip pada Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025) juga menjelaskan
bahwa konsep harga diri dalam Islam tidak dibangun berdasarkan ego personal
ataupun pembentukan citra sosial seseorang yang dinilai dari persepsi publik,
melainkan atas dasar identitas eksistensial manusia sebagai ‘abd Allah (hamba Allah) dan khalifah di
muka bumi. Hablumminallah atau
hubungan baik manusia dengan Allah menjadi fondasi utama pembentukan penilaian
diri (Self-Worth) yang sehat, stabil
dan bermakna.
Arroisi dan
Badi’ (2022) dikutip pada Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025) dalam hal ini
menegaskan bahwa bentuk spiritualitas dalam Islam bukanlah menjadi sebuah
pelarian dari realitas dunia, akan tetapi sebagai sumber pengetahuan dan
hakikat dalam memahami jati diri. Kegiatan seperti ibadah, penguatan akhlak,
keikhlasan dan kedekatan spiritual tidak hanya dipandang sebagai ritual,
melainkan menjadi bagian utuh dari pembentukan harga diri yang otentik dan
kokoh.
Jika dikaitkan
dengan konteks membandingkan diri, yang mana seseorang memiliki sikap tersebut
cenderung disebabkan oleh rasa bersaing yang mungkin dipicu oleh opini publik.
Misalnya, saat seseorang mengalami kegagalan pencapaian, kemudian menimbulkan
orang lain berkomentar buruk. Seseorang akan menganggap bahwa dirinya tidak
sekompeten orang lain, prosesnya lambat bahkan merasa kegagalan tersebut adalah
akhir dari segala hal. Fenomena itulah yang kemudian menyebabkan pembentukan
nilai diri atau Self-Worth menjadi
buruk. Padahal dalam Islam, seperti yang sudah dipaparkan di atas, nilai atau
harga diri seseorang tidak dibentuk berdasarkan ego personal maupun citra
sosial seseorang yang dibangun dari opini publik, akan tetapi bersumber pada
identitas eksistensial manusia sebagai ‘abd
Allah (hamba Allah) dan khalifah di muka bumi, yang mana hal tersebut
menjadi pondasi utama pada kesehatan dan kestabilan pembentukan penilaian diri
atau Self-Worth supaya memiliki
pemaknaan yang sesuai.
Pembentukan
nilai diri berdasar pada hablumminallah menurut
Abdul Hakim & Asep Sobari (2005) dalam kutipan Gumelar, W. D., & Mubin,
K. (2025) menerangkan mengenai pemikiran Fathi Yakan dalam karyanya Al-Mutasaqitūn ʿAlā Ṭarīq al-Daʿwah, terdapat
enam komponen utama yang menjadi dasar karakter spiritual sekaligus aspek
penting harga diri, yakni: 1) Iman kokoh, sebagai sumber kekuatan sekaligus
makna jiwa, 2) Ibadah khusyuk, sebagai bentuk keterikatan ekistensi manusia
menjadi hamba Allah, 3) Akhlak mulia, memuat ekspresi nilai diri yang baik, 4)
Pengendalian hawa nafsu, menjadi suatu bentuk kontrol diri, 5) Peran keluarga
Islami, sebagai dukungan lingkungan edukatif spiritual, 6) Keyakinan terhadap
masa depan Islam, sebagai tujuan dan harapan kehidupan. Sehingga, melalui
keenam unsur tersebut, pembentukan nilai diri bukan sekadar wacana psikologis,
tetapi juga sebagai proyek keberadaan manusia yang utuh dan bermisi.
Sa’ari &
Harun (2018) dalam kutipan Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025), menyimpulkan
bahwa pembentukan nilai diri atau Self-Worth
dalam Islam memberikan pandangan bahwa ʿizzah
rūḥiyyah (kemuliaan jiwa) dibangun melalui relasi spiritual dengan Allah
SWT, internalisasi nilai-nilai Qur’ani, dan tujuan hidup yang bersifat ukhrawi.
Hal ini menerangkan bahwa di tengah budaya popular digital yang menghubungkan
nilai diri kepada sebuah validasi, Islam memberikan jalan alternatif yang
membebaskan, meyakinkan dan memuliakan manusia bukan dari suatu penampilan,
melainkan kualitas pribadi di dalamnya. Menurut Sunandar & Wasehudin (2022)
dalam kutipan yang sama, memiliki sebuah kesadaran bahwa nilai diri tidak
ditentukan oleh validasi eksternal, melainkan oleh hubungan spiritual yang
mendalam dengan Tuhan, merupakan prinsip kunci dalam pembentukan harga diri (Self-Worth) yang stabil dan kuat
terhadap tekanan sosial.
SUMBER REFERENSI
Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025). Fomo Sebagai Refleksi Krisis
Harga Diri: Tinjauan Integratif Psikologi Modern dan Nilai Islam. Pendas:
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(03), 717-734.
https://quran.nu.or.id/al-hujurat/13 https://quran.nu.or.id/at-tin/4
Imaniar, S. A., & Pratisti, W. D. (2023). Hubungan antara Self-Worth,
Self-Compassion dengan Subjective Well-Being pada Mahasiswa Pengguna Instagram
(Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).


