Senin, 05 Januari 2026

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf
(Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025)

Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan salah satunya dengan keyakinan mengenai dirinya sendiri. Hal inilah yang disebut sebagai Self-Worth. Menurut Rogers (1959), dikutip dalam Imaniar, S. A., & Pratisti, W. D. (2023), Self-Worth adalah sebuah keyakinan dasar milik seseorang atas dirinya sendiri bahwa dirinya berharga dan berarti. Dalam kutipan yang sama, menurut Anthoneta & Pa (2017), Self-Worth diartikan sebagai kesadaran seseorang terhadap diri sendiri bahwa dirinya bernilai dan berhak untuk bahagia. Dengan demikian, dapat disimpulkan, Self-Worth merupakan sebuah penilaian seseorang terhadap keberhargaan atau keberartian dirinya sendiri sehingga merasa layak untuk bahagia.

Self-Worth menurut Croker et al (2003) dalam kutipan Imaniar, S. A., & Pratisti, W. D. (2023), memiliki tujuh komponen yang mendasari, meliputi; 1) Kompetensi; bahwa harga diri individu diperoleh dari sebuah kompetensi akademik seseorang, 2) Penampilan; karena di zaman sekarang, seseorang lebih sering terlebih dulu menilai dari segi penampilan, terutama fisik, 3) Kompetisi; tanpa bisa dipungkiri, seringkali, apabila seseorang mampu mengalahkan orang lain dalam suatu persaingan, maka hal tersebut menjadi faktor yang dapat meningkatkan SelfWorth untuk sebagian orang, 4) Validasi; pengakuan dari orang lain terhadap diri seseorang dapat menjadi suatu hal yang penting dalam pembentukan harga diri sehingga terkesan lebih percaya diri, 5) Dukungan keluarga; kasih sayang dari keluarga dapat menjadi support system bagi seseorang untuk menilai seberapa berharganya diri mereka, 6) Cinta Tuhan; agama memiliki peran positif terhadap Self-Worth, karena pada hakikatnya masing-masing agama memberikan pemahaman bahwa setiap manusia dicintai dan berharga di mata penciptanya, 7) Kebajikan; Self-Worth juga dipengaruhi oleh bagaimana seseorang dalam mempertahankan ketaatannya, baik kepada aturan maupun norma yang berlaku untuk membentuk penilaian kepribadian yang baik, berharga dan bermoral.

Maka dari itu, dapat diketahui, rasa bersaing sebagai bagian dari kompetisi menjadi salah satu faktor mendasar terbentuknya Self-Worth, yang kemudian dapat memicu munculnya sikap membandingkan diri dengan orang lain, baik dalam hal kepemilikan maupun pencapaian. Sikap ini berdampak positif apabila diterapkan untuk evaluasi diri, namun dapat menjadi negatif jika menimbulkan penilaian buruk tentang diri sendiri sehingga merasa berkecil hati. Dampak dari sikap ini sudah banyak dijumpai di lingkungan sekitar, terlebih dampak negatif. Padahal, pada komponen Self-Worth yang lain, yakni cinta Tuhan, menjelaskan bahwa setiap agama selalu meyakinkan pemeluknya, bahwasanya setiap darinya memiliki nilai, dicintai dan dihargai oleh Penciptanya. Contohnya, dalam agama Islam, Allah Swt menegaskan di dalam Al-Qur’an Surah At-tin ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ۝٤

Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya.”

Hal inilah yang kemudian perlu diperhatikan lebih dalam, karena sikap membandingkan diri sering kali melampaui batas evaluasi dan justru memicu ketidakpercayaan diri. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana seseorang dapat membatasi perilaku membandingkan diri agar tetap sehat dan tidak mengurangi nilai dirinya. Dalam konteks inilah penting untuk mengamati bagaimana Islam memandang dan membentuk konsep Self-Worth. Dengan demikian, artikel ini bertujuan membahas bagaimana Islam memberikan pemahaman tentang pembentukan Self-Worth serta cara menemukan nilai diri tanpa membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain. Artikel ini juga diharapkan dapat menumbuhkan perilaku cerdas dalam memilah sikap-sikap yang perlu dipertahankan dalam diri, supaya membentuk konsep Self-Worth yang stabil dan sehat.

Menurut Subagja et al (2025) dikutip pada Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025), dalam Islam, konsep harga diri dibangun dalam kerangka transendental atau hal-hal yang menonjolkan sifat kerohanian, yang berdasar pada hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhannya, yakni Allah Swt. Islam memandang nilai atau martabat manusia (‘izzah) tidak berasal dari status sosial, kekayaan ataupun pujian publik, akan tetapi bersumber pada nilai ketakwaan dan kualitas hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Konsep tersebut dipertegas sesuai firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

Artinya:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”. Hal ini menunjukan bahwa dalam Islam, nilai diri manusia bersifat ilahiah, bukan duniawi.

Sa’ari dan Harun (2018) dikutip pada Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025) juga menjelaskan bahwa konsep harga diri dalam Islam tidak dibangun berdasarkan ego personal ataupun pembentukan citra sosial seseorang yang dinilai dari persepsi publik, melainkan atas dasar identitas eksistensial manusia sebagai ‘abd Allah (hamba Allah) dan khalifah di muka bumi. Hablumminallah atau hubungan baik manusia dengan Allah menjadi fondasi utama pembentukan penilaian diri (Self-Worth) yang sehat, stabil dan bermakna.

Arroisi dan Badi’ (2022) dikutip pada Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025) dalam hal ini menegaskan bahwa bentuk spiritualitas dalam Islam bukanlah menjadi sebuah pelarian dari realitas dunia, akan tetapi sebagai sumber pengetahuan dan hakikat dalam memahami jati diri. Kegiatan seperti ibadah, penguatan akhlak, keikhlasan dan kedekatan spiritual tidak hanya dipandang sebagai ritual, melainkan menjadi bagian utuh dari pembentukan harga diri yang otentik dan kokoh.

Jika dikaitkan dengan konteks membandingkan diri, yang mana seseorang memiliki sikap tersebut cenderung disebabkan oleh rasa bersaing yang mungkin dipicu oleh opini publik. Misalnya, saat seseorang mengalami kegagalan pencapaian, kemudian menimbulkan orang lain berkomentar buruk. Seseorang akan menganggap bahwa dirinya tidak sekompeten orang lain, prosesnya lambat bahkan merasa kegagalan tersebut adalah akhir dari segala hal. Fenomena itulah yang kemudian menyebabkan pembentukan nilai diri atau Self-Worth menjadi buruk. Padahal dalam Islam, seperti yang sudah dipaparkan di atas, nilai atau harga diri seseorang tidak dibentuk berdasarkan ego personal maupun citra sosial seseorang yang dibangun dari opini publik, akan tetapi bersumber pada identitas eksistensial manusia sebagai ‘abd Allah (hamba Allah) dan khalifah di muka bumi, yang mana hal tersebut menjadi pondasi utama pada kesehatan dan kestabilan pembentukan penilaian diri atau Self-Worth supaya memiliki pemaknaan yang sesuai.

Pembentukan nilai diri berdasar pada hablumminallah menurut Abdul Hakim & Asep Sobari (2005) dalam kutipan Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025) menerangkan mengenai pemikiran Fathi Yakan dalam karyanya Al-Mutasaqitūn ʿAlā Ṭarīq al-Daʿwah, terdapat enam komponen utama yang menjadi dasar karakter spiritual sekaligus aspek penting harga diri, yakni: 1) Iman kokoh, sebagai sumber kekuatan sekaligus makna jiwa, 2) Ibadah khusyuk, sebagai bentuk keterikatan ekistensi manusia menjadi hamba Allah, 3) Akhlak mulia, memuat ekspresi nilai diri yang baik, 4) Pengendalian hawa nafsu, menjadi suatu bentuk kontrol diri, 5) Peran keluarga Islami, sebagai dukungan lingkungan edukatif spiritual, 6) Keyakinan terhadap masa depan Islam, sebagai tujuan dan harapan kehidupan. Sehingga, melalui keenam unsur tersebut, pembentukan nilai diri bukan sekadar wacana psikologis, tetapi juga sebagai proyek keberadaan manusia yang utuh dan bermisi.

Sa’ari & Harun (2018) dalam kutipan Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025), menyimpulkan bahwa pembentukan nilai diri atau Self-Worth dalam Islam memberikan pandangan bahwa ʿizzah rūḥiyyah (kemuliaan jiwa) dibangun melalui relasi spiritual dengan Allah SWT, internalisasi nilai-nilai Qur’ani, dan tujuan hidup yang bersifat ukhrawi. Hal ini menerangkan bahwa di tengah budaya popular digital yang menghubungkan nilai diri kepada sebuah validasi, Islam memberikan jalan alternatif yang membebaskan, meyakinkan dan memuliakan manusia bukan dari suatu penampilan, melainkan kualitas pribadi di dalamnya. Menurut Sunandar & Wasehudin (2022) dalam kutipan yang sama, memiliki sebuah kesadaran bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh validasi eksternal, melainkan oleh hubungan spiritual yang mendalam dengan Tuhan, merupakan prinsip kunci dalam pembentukan harga diri (Self-Worth) yang stabil dan kuat terhadap tekanan sosial.

Maka dengan demikian, perilaku yang perlu diamalkan untuk menerapkan prinsip tersebut adalah dengan mengurangi sikap membandingkan diri terhadap proses orang lain supaya tidak merasa gagal ataupun tertinggal. Selain itu, apabila terjadi sebuah kegagalan dalam hidup, yang kemudian memicu opini publik berkomentar buruk, maka yang perlu diingat adalah bahwa Islam tidak menilai berdasarkan apa yang kita capai secara duniawi, melainkan melalui pembentukan nilai ukhrawi. Hal yang perlu diperkuat adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt untuk memperkuat iman, memperkhusyuk ibadah, membentuk karakter akhlak yang mulia, mengendalikan hawa nafsu, membentuk peran keluarga yang Islami dan meyakini prinsip masa depan Islam sebagai tujuan. Dengan mengamalkan prinsip-prinsip tersebut, maka akan tersbentuk suatu nilai diri atau Self-Worth yang utuh, kokoh dan memiliki visi serta misi.

SUMBER REFERENSI

Gumelar, W. D., & Mubin, K. (2025). Fomo Sebagai Refleksi Krisis Harga Diri: Tinjauan Integratif Psikologi Modern dan Nilai Islam. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(03), 717-734.

https://quran.nu.or.id/al-hujurat/13 https://quran.nu.or.id/at-tin/4

Imaniar, S. A., & Pratisti, W. D. (2023). Hubungan antara Self-Worth, Self-Compassion dengan Subjective Well-Being pada Mahasiswa Pengguna Instagram (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Teknologi Informasi Dakwah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...