![]() |
| (KSR Organization/uinsaizu.ac.id publicated) |
Organisasi
KSR (Korp Sukarela) merupakan sebuah organisasi bagian dari Palang Merah
Indonesia (PMI) yang dibentuk dengan tujuan untuk memberikan kontribusi kepada
masyarakat melalui kegiatan sukarela yang berfokus pada kemanusiaan. Konsep
utama dari organisasi ini adalah penerapan prinsip-prinsip kemanusiaan,
tanggung jawab, dan solidaritas di tengah masyarakat. KSR biasanya bergerak
dalam bidang penyelamatan, pertolongan pertama, dan pengabdian masyarakat.
Anggota KSR diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan dan pengetahuan yang
mumpuni dalam bidangnya, tetapi juga memiliki rasa kepedulian yang tinggi
terhadap sesama dan situasi sosial yang ada di sekitar mereka.
Sebagai
sebuah organisasi, KSR memiliki sebuah budaya, iklim dan interaksi komunikasi
yang terjalin dalam lingkupnya. Budaya organisasi merujuk pada nilai-nilai,
norma-norma, kepercayaan, dan kebiasaan yang dianut dan diikuti oleh seluruh
anggota organisasi, mencakup cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi dalam
lingkungannya. Sementara iklim organisasi lebih mengarah pada suasana yang
dirasakan oleh anggota organisasi. Iklim ini mencerminkan tingkat kenyamanan,
motivasi, dan kepuasan kerja dalam suatu organisasi yang dapat dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti gaya kepemimpinan, hubungan antar anggota, serta sistem
penghargaan atau evaluasi yang diterapkan. Sedangkan interaksi komunikasi dalam
organisasi merujuk pada cara anggota organisasi saling berkomunikasi satu sama
lain, meliputi komunikasi formal (seperti rapat, laporan, dan instruksi) dan
informal (seperti obrolan santai di luar jam kerja atau dalam grup obrolan).
Nah,
untuk mengetahui secara lebih spesifik bentuk suatu budaya, iklim dan interaksi
komunikasi yang terjalin dalam organisasi KSR, Saya melakukan wawancara terkait
hal tersebut dengan salah satu anggota KSR UIN SAIZU, yaitu Mba Aninda, selaku
Divisi Diklat (Pendidikan dan Pelatihan), yang dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 26 April 2025
Waktu : 22.00 – 22.30
Tempat : Kos
Menurut pernyataan Mba Anin, budaya
dalam organisasi KSR sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kemanusiaan, sukarela,
dan tanggung jawab. Anggota diharapkan untuk memiliki semangat kemanusiaan dan
bersikap sukarela dalam menjalankan tugas mereka. Nilai-nilai ini terwujud
dalam berbagai kegiatan dan interaksi mereka sehari-hari. Norma yang berlaku di
dalam organisasi juga tercermin melalui adanya diskusi terbuka di markas, yang
melibatkan anggota muda (yakni anggota yang baru dilantik), biasa (anggota
kepengurusan), dan luar biasa (kepengurusan dua periode) dan menjadi kebiasaan
yang membantu anggota bertukar ide serta pengalaman. Selain itu, terdapat
ritual dan tradisi rutin seperti pelatihan yang diadakan setiap dua minggu
sekali, dimana anggota biasa sering menjadi pemateri, dan kegiatan ini diisi
dengan teori serta praktik. Hal ini memungkinkan anggota untuk berlatih dan
langsung terjun ke masyarakat. Bahasa yang digunakan dalam organisasi juga
memiliki ciri khas, dengan istilah seperti "siap," "sigap,"
dan "tanggap" yang menggambarkan kesiapan anggota dalam menjalankan
tugas. Mba Anin juga menyatakan bahwa gaya kepemimpinan dalam KSR cenderung
santai dan komunikatif, pemimpin atau yang sering disebut “Komandan” dalam KSR
UIN SAIZU ini merupakan pemimpin yang menjaga komunikasi dengan baik dan
memastikan setiap anggota merasa nyaman dalam menyampaikan pendapat.
Iklim dalam organisasi KSR juga
terbilang fleksibel dan penuh rasa kekeluargaan. Aturan dan kebijakan
organisasi tidak kaku, memberikan ruang bagi anggota untuk berinisiatif dan
berkontribusi dalam setiap program kerja. Anggota muda didorong untuk aktif dan
berpartisipasi, dan mereka diberi tanggung jawab sesuai dengan kemampuan
mereka, namun tetap mendapat dukungan penuh dari anggota yang lebih
berpengalaman. Hal ini membuat setiap anggota merasa dipercaya untuk
menjalankan tugasnya, dan organisasi berusaha memastikan bahwa semua anggota
memiliki kesempatan untuk berkembang. Akan tetapi, meski memiliki kebijakan
yang terbilang fleksibel, standar kerja dalam KSR cukup tinggi, dimana setiap
anggota harus menandatangani janji dalam AD-ART untuk memastikan mereka tidak
melanggar aturan dan tetap bertanggung jawab. Di balik itu, penghargaan dan
pengakuan terhadap usaha anggota diberikan dalam bentuk apresiasi berupa barang
di akhir periode atau di setiap bulan terselenggaranya program kerja untuk
anggota yang aktif dan berprestasi, seperti dalam bidang pelatihan PMR atau
pengabdian masyarakat.
Kemudian,
interaksi komunikasi dalam organisasi KSR berjalan dengan lancar, baik secara
vertikal maupun horizontal. Komunikasi vertikal, baik dari anggota ke pemimpin
maupun sebaliknya, dilakukan dengan cara yang sopan dan hati-hati. Kritik dan
saran biasanya disampaikan oleh anggota kepada pengurus terlebih dahulu dalam
rapat pengurus, sebelum diteruskan ke anggota lainnya untuk menghindari
kesalahpahaman. Di sisi lain, komunikasi horizontal antar anggota juga
berlangsung dalam suasana kekeluargaan, dimana tidak ada sekat antar anggota.
Dalam rapat formal, meskipun sebagian anggota masih pasif, pengurus berusaha
mencairkan suasana dengan memotivasi anggota muda untuk bertanya dan berbagi
pendapat. Komunikasi informal di luar jam kerja juga terjalin baik, dengan
anggota yang bisa berbicara santai dan bercanda satu sama lain, menciptakan
suasana yang seimbang antara serius dan santai dalam setiap pertemuan.
Kesimpulan
dari laporan hasil observasi ini menunjukkan bahwa organisasi KSR UIN SAIZU
memiliki budaya, iklim, dan interaksi komunikasi yang sangat mendukung
perkembangan anggotanya. Nilai-nilai kemanusiaan, sukarela, dan tanggung jawab
menjadi dasar yang kuat dalam setiap kegiatan dan interaksi anggota.
Norma-norma yang ada, seperti diskusi terbuka dan kebiasaan bertukar pikiran,
memperkuat kebersamaan dan kolaborasi antar anggota. Ritual dan tradisi seperti
pelatihan rutin juga menjadi sarana yang efektif bagi anggota untuk terus
belajar dan berkembang, baik dalam teori maupun praktik. Iklim organisasi yang
fleksibel dan penuh kekeluargaan juga memberikan ruang bagi setiap anggota
untuk berinisiatif dan merasa dihargai dalam setiap program kerja. Serta pemberian
penghargaan atas prestasi dan kontribusi juga menjadi salah satu faktor yang
menjaga motivasi dan semangat anggota. Di sisi lain, meskipun kebijakan yang
diterapkan tidak kaku, standar kerja yang tinggi tetap dijaga untuk memastikan
kualitas dan tanggung jawab setiap anggota. Selain itu, Interaksi komunikasi
dalam organisasi ini, baik secara vertikal maupun horizontal, terjalin dengan
baik. Secara keseluruhan, KSR UIN SAIZU berhasil menciptakan lingkungan
organisasi yang mendukung pengembangan individu dan kebersamaan, dengan fokus
pada kemanusiaan dan keberlanjutan dalam setiap kegiatan yang dijalankan.
Ditulis sebagai Tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Komunikasi Organisasi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar