![]() |
| Gambar hanya ilustrasi (Sumber: https://linimassa.id/asal-mula-pengamen-sudah-ada-sejak-abad-pertengahan/) |
“Realitas Sosial di Balik Profesi Pengamen Jalanan: Antara
Hiburan, Stigma, dan Bertahan Hidup”
Fenomena
pengamen jalanan merupakan salah satu bentuk aktivitas ekonomi informal yang
marak dijumpai di berbagai wilayah, khususnya di kawasan perkotaan. Kehadiran
pengamen di ruang-ruang publik seperti perempatan lampu merah, pasar, warung
makan, hingga perkampungan warga menjadi bagian dari realitas sosial yang
tumbuh di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang tidak merata. Aktivitas
mengamen biasanya dilakukan oleh individu atau kelompok yang mengalami
keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal, sehingga memilih jalur ini
sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Salah
satu faktor utama yang melatarbelakangi munculnya profesi ini adalah
permasalahan ekonomi yang semakin kompleks. Selain itu, faktor pendidikan,
lingkungan sosial, serta minimnya keterampilan kerja turut mendorong seseorang
untuk bertahan hidup dengan menjadi pengamen jalanan. Untuk mengetahui secara
spesifik faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya pekerjaan tersebut, saya
melakukan observasi wawancara langsung dengan salah satu pengamen jalanan
berinisial Mas T, yang dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Jum’at, 25 April 2025
Waktu : 16.00 - 17.00 WIB
Tempat : Kawasan Pasar Cermai Purwokerto
Tujuan penelitian ini tidak hanya
untuk menggali faktor-faktor yang melatarbelakangi pilihan pekerjaan tersebut,
tetapi juga untuk menganalisis fungsi sosial profesi pengamen jalanan di
masyarakat, disfungsi sosial yang ditimbulkannya—yaitu situasi ketika suatu
aktivitas atau perilaku tidak mampu memenuhi fungsinya secara efektif bahkan
menimbulkan dampak negatif—serta masalah sosial yang muncul akibat keberadaan
pengamen jalanan tersebut.
Seperti
yang dialami Mas T, seorang pengamen asal Glempang, Bancarkembar, yang telah
menjalani profesi ini selama enam tahun terakhir. Ia mengaku bahwa kesulitan
mencari pekerjaan tetap, kondisi ekonomi keluarga, serta peluang kerja yang
terbatas menjadi alasan utamanya memilih mengamen. Terutama sejak terdampak
pandemi Covid-19, dimana lapangan kerja semakin sulit ditemukan dan banyak
sektor pekerjaan ditutup. Fenomena ini menjadi cerminan ketimpangan sosial yang
masih terjadi di tengah masyarakat dan memerlukan perhatian dari berbagai
pihak.
Kondisi
tersebut turut dirasakan oleh Mas T yang setelah menyelesaikan pendidikan
terakhir di bangku SMP, Ia bekerja serabutan sebagai kuli bangunan, tukang
angkut barang, hingga akhirnya mengamen. Aktivitas ini dilakukan setiap hari,
mulai pukul satu siang hingga sembilan malam, dengan berjalan kaki dari kampung
halamannya di Glempang.
Keberadaan
pengamen seperti Mas T di lingkungan masyarakat ternyata memiliki fungsi sosial
tersendiri. Ia merasa bahwa aktivitasnya bisa sedikit menghibur masyarakat dan
menjadi sumber penghasilan yang halal di tengah keterbatasan. Respon masyarakat
terhadap keberadaan pengamen seperti dirinya pun beragam, namun sebagian besar
bersikap menghargai usaha tersebut dengan memberikan uang seikhlasnya. Selain
itu, aktivitas ini membuka peluang interaksi sosial antar warga, antara
pengamen dan masyarakat, sehingga menciptakan relasi sosial sederhana di ruang
publik. Mas T juga menyatakan bahwa dengan mengamen, setidaknya ia tidak sampai
melakukan tindakan kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Meskipun
begitu, aktivitas pengamen jalanan tidak lepas dari potensi disfungsi sosial.
Mas T mengakui bahwa sebagian masyarakat masih memberikan stigma negatif
terhadap profesi pengamen. Ada anggapan bahwa pengamen bisa mengganggu
ketertiban atau membuat lingkungan tidak nyaman, meskipun ia pribadi mengaku
belum pernah mengalami perlakuan buruk secara langsung. Beberapa orang mungkin
merasa terganggu saat didatangi pengamen, terutama di tempat-tempat umum.
Selain itu, kondisi ini bisa berpotensi menimbulkan ketimpangan sosial ketika
profesi pengamen dianggap rendah atau tidak terhormat di mata sebagian
masyarakat.
Fenomena
pengamen jalanan seperti yang dialami Mas T merupakan salah satu wujud nyata
dari masalah sosial di masyarakat perkotaan. Penyebab utamanya adalah faktor
ekonomi yang memaksa sebagian masyarakat mencari penghasilan di sektor
informal, tanpa jaminan dan pengawasan yang memadai. Minimnya lapangan
pekerjaan tetap dan tidak meratanya distribusi bantuan sosial membuat
masyarakat kelas bawah kesulitan keluar dari situasi ini. Mas T mengungkapkan
bahwa meskipun dirinya ingin berhenti menjadi pengamen dan memiliki pekerjaan
yang lebih layak, situasi saat ini belum memungkinkan. Ia berharap ada
perhatian lebih dari pemerintah, seperti peningkatan Bantuan Langsung Tunai (BLT)
bagi warga kurang mampu. Menurutnya, masalah sosial semacam ini dapat
diminimalisir dengan membuka lebih banyak lapangan kerja formal, pelatihan
keterampilan, serta meningkatkan rasa saling menghargai antar sesama
masyarakat. Pesannya untuk masyarakat adalah agar lebih bijak dalam menilai
orang lain, karena setiap orang berjuang dengan caranya masing-masing untuk
bertahan hidup.
Oleh
karena itu, berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan,
dapat disimpulkan bahwa fenomena pengamen jalanan merupakan salah satu bentuk
aktivitas ekonomi informal yang lahir dari ketimpangan sosial dan keterbatasan
akses terhadap pekerjaan formal di masyarakat. Faktor ekonomi yang sulit,
rendahnya tingkat pendidikan, minimnya keterampilan, serta pengaruh lingkungan
sosial menjadi latar belakang utama seseorang memilih profesi ini.
Keberadaan pengamen jalanan tidak hanya memiliki fungsi ekonomi, tetapi juga fungsi sosial yakni sebagai sarana hiburan sederhana dan media interaksi antar warga di ruang publik. Meskipun demikian, profesi ini tetap tidak lepas dari potensi disfungsi sosial berupa stigma negatif dan anggapan mengganggu ketertiban oleh masyarakat.
Fenomena ini menjadi
cerminan nyata bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih,
khususnya dalam hal pemerataan kesempatan kerja, peningkatan kesejahteraan,
serta pelatihan keterampilan. Maka dari itu, diharapkan pemerintah dan
masyarakat dapat bersama-sama menciptakan solusi yang tepat untuk meminimalisir
permasalahan sosial ini, serta membangun sikap saling menghargai antar sesama,
karena setiap orang berjuang dengan cara dan jalan hidupnya masing-masing.
Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Sosiologi & Antropologi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar