Senin, 05 Januari 2026

ANALISIS REALITAS SOSIAL MASYARAKAT

 

Gambar hanya ilustrasi
(Sumber: https://linimassa.id/asal-mula-pengamen-sudah-ada-sejak-abad-pertengahan/)

“Realitas Sosial di Balik Profesi Pengamen Jalanan: Antara Hiburan, Stigma, dan Bertahan Hidup”

Fenomena pengamen jalanan merupakan salah satu bentuk aktivitas ekonomi informal yang marak dijumpai di berbagai wilayah, khususnya di kawasan perkotaan. Kehadiran pengamen di ruang-ruang publik seperti perempatan lampu merah, pasar, warung makan, hingga perkampungan warga menjadi bagian dari realitas sosial yang tumbuh di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang tidak merata. Aktivitas mengamen biasanya dilakukan oleh individu atau kelompok yang mengalami keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal, sehingga memilih jalur ini sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Salah satu faktor utama yang melatarbelakangi munculnya profesi ini adalah permasalahan ekonomi yang semakin kompleks. Selain itu, faktor pendidikan, lingkungan sosial, serta minimnya keterampilan kerja turut mendorong seseorang untuk bertahan hidup dengan menjadi pengamen jalanan. Untuk mengetahui secara spesifik faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya pekerjaan tersebut, saya melakukan observasi wawancara langsung dengan salah satu pengamen jalanan berinisial Mas T, yang dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal   : Jum’at, 25 April 2025

Waktu              : 16.00 - 17.00 WIB

Tempat            : Kawasan Pasar Cermai Purwokerto

            Tujuan penelitian ini tidak hanya untuk menggali faktor-faktor yang melatarbelakangi pilihan pekerjaan tersebut, tetapi juga untuk menganalisis fungsi sosial profesi pengamen jalanan di masyarakat, disfungsi sosial yang ditimbulkannya—yaitu situasi ketika suatu aktivitas atau perilaku tidak mampu memenuhi fungsinya secara efektif bahkan menimbulkan dampak negatif—serta masalah sosial yang muncul akibat keberadaan pengamen jalanan tersebut.

Seperti yang dialami Mas T, seorang pengamen asal Glempang, Bancarkembar, yang telah menjalani profesi ini selama enam tahun terakhir. Ia mengaku bahwa kesulitan mencari pekerjaan tetap, kondisi ekonomi keluarga, serta peluang kerja yang terbatas menjadi alasan utamanya memilih mengamen. Terutama sejak terdampak pandemi Covid-19, dimana lapangan kerja semakin sulit ditemukan dan banyak sektor pekerjaan ditutup. Fenomena ini menjadi cerminan ketimpangan sosial yang masih terjadi di tengah masyarakat dan memerlukan perhatian dari berbagai pihak.

Kondisi tersebut turut dirasakan oleh Mas T yang setelah menyelesaikan pendidikan terakhir di bangku SMP, Ia bekerja serabutan sebagai kuli bangunan, tukang angkut barang, hingga akhirnya mengamen. Aktivitas ini dilakukan setiap hari, mulai pukul satu siang hingga sembilan malam, dengan berjalan kaki dari kampung halamannya di Glempang.

Keberadaan pengamen seperti Mas T di lingkungan masyarakat ternyata memiliki fungsi sosial tersendiri. Ia merasa bahwa aktivitasnya bisa sedikit menghibur masyarakat dan menjadi sumber penghasilan yang halal di tengah keterbatasan. Respon masyarakat terhadap keberadaan pengamen seperti dirinya pun beragam, namun sebagian besar bersikap menghargai usaha tersebut dengan memberikan uang seikhlasnya. Selain itu, aktivitas ini membuka peluang interaksi sosial antar warga, antara pengamen dan masyarakat, sehingga menciptakan relasi sosial sederhana di ruang publik. Mas T juga menyatakan bahwa dengan mengamen, setidaknya ia tidak sampai melakukan tindakan kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Meskipun begitu, aktivitas pengamen jalanan tidak lepas dari potensi disfungsi sosial. Mas T mengakui bahwa sebagian masyarakat masih memberikan stigma negatif terhadap profesi pengamen. Ada anggapan bahwa pengamen bisa mengganggu ketertiban atau membuat lingkungan tidak nyaman, meskipun ia pribadi mengaku belum pernah mengalami perlakuan buruk secara langsung. Beberapa orang mungkin merasa terganggu saat didatangi pengamen, terutama di tempat-tempat umum. Selain itu, kondisi ini bisa berpotensi menimbulkan ketimpangan sosial ketika profesi pengamen dianggap rendah atau tidak terhormat di mata sebagian masyarakat.

Fenomena pengamen jalanan seperti yang dialami Mas T merupakan salah satu wujud nyata dari masalah sosial di masyarakat perkotaan. Penyebab utamanya adalah faktor ekonomi yang memaksa sebagian masyarakat mencari penghasilan di sektor informal, tanpa jaminan dan pengawasan yang memadai. Minimnya lapangan pekerjaan tetap dan tidak meratanya distribusi bantuan sosial membuat masyarakat kelas bawah kesulitan keluar dari situasi ini. Mas T mengungkapkan bahwa meskipun dirinya ingin berhenti menjadi pengamen dan memiliki pekerjaan yang lebih layak, situasi saat ini belum memungkinkan. Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, seperti peningkatan Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi warga kurang mampu. Menurutnya, masalah sosial semacam ini dapat diminimalisir dengan membuka lebih banyak lapangan kerja formal, pelatihan keterampilan, serta meningkatkan rasa saling menghargai antar sesama masyarakat. Pesannya untuk masyarakat adalah agar lebih bijak dalam menilai orang lain, karena setiap orang berjuang dengan caranya masing-masing untuk bertahan hidup.

Oleh karena itu, berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa fenomena pengamen jalanan merupakan salah satu bentuk aktivitas ekonomi informal yang lahir dari ketimpangan sosial dan keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal di masyarakat. Faktor ekonomi yang sulit, rendahnya tingkat pendidikan, minimnya keterampilan, serta pengaruh lingkungan sosial menjadi latar belakang utama seseorang memilih profesi ini.

Keberadaan pengamen jalanan tidak hanya memiliki fungsi ekonomi, tetapi juga fungsi sosial yakni sebagai sarana hiburan sederhana dan media interaksi antar warga di ruang publik. Meskipun demikian, profesi ini tetap tidak lepas dari potensi disfungsi sosial berupa stigma negatif dan anggapan mengganggu ketertiban oleh masyarakat.

Fenomena ini menjadi cerminan nyata bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih, khususnya dalam hal pemerataan kesempatan kerja, peningkatan kesejahteraan, serta pelatihan keterampilan. Maka dari itu, diharapkan pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama menciptakan solusi yang tepat untuk meminimalisir permasalahan sosial ini, serta membangun sikap saling menghargai antar sesama, karena setiap orang berjuang dengan cara dan jalan hidupnya masing-masing.

Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Sosiologi & Antropologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...