![]() |
| (Image by TIPD; google) |
Membangun Karakter atau Menghambat Potensi?
Universitas
Islam Negeri Prof. K. H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto telah
menetapkan kebijakan wajib mondok selama satu tahun bagi mahasiswa baru sejak
tahun ajaran 2021/2022. Kebijakan ini bertujuan memperkuat nilai keagamaan,
membangun karakter, dan meningkatkan kemandirian mahasiswa. Namun, penerapannya
memicu perdebatan beberapa pihak dengan argumen yang beragam antara pihak
pendukung dan penentang.
Beberapa
pihak yang mendukung menyatakan bahwa kebijakan ini dapat menjadi landasan
dasar untuk memperkuat materi setiap program studi, mengingat UIN memiliki
latar belakang Islami. Wajib mondok satu tahun juga membantu mahasiswa
mempersiapkan diri untuk tes Baca Tulis Al-Qur’an dan Praktik Pengamalan Ibadah
(BTA-PPI). Selain itu, mahasiswa sekaligus dilatih mengatur waktu dan menyeimbangkan
kefektifan antara kegiatan pondok dengan studi utama di universitas.
Sementara
itu, beberapa pihak yang menolak kebijakan ini berpendapat bahwa aturan
tersebut dapat mengganggu keefektifan studi utama di universitas akibat
keterbatasan waktu yang diatur ketat di pondok. Mereka juga khawatir fokus
perkuliahan berkurang, karena padatnya aktivitas pondok yang tak jarang hingga
larut malam dapat membuat mahasiswa kelelahan. Selain itu, kebijakan ini
menambah beban finansial, dengan biaya pondok yang sering kali lebih mahal
dibandingkan biaya kuliah, sehingga memberatkan mahasiswa dengan keterbatasan
finansial.
Adanya
pro dan kontra terhadap kebijakan tersebut berdampak pada mahasiswa dan
institusi. Meski kebijakan ini berpotensi melahirkan generasi mahasiswa dengan
karakter keagamaan yang matang, dampak negatifnya menjadi tantangan bagi
institusi dalam mempertanggungjawabkan aspek pendukung dan mempertimbangkan
minat mahasiswa pendaftar.
Pada
dasarnya, kebijakan ini memiliki tujuan yang baik, yaitu menciptakan mahasiswa
berintegritas dan berkarakter Islami. Namun, tujuan tersebut perlu didukung
oleh elemen pendukung yang memadai serta mempertimbangkan keberagaman situasi
dan kondisi mahasiswa agar tidak menimbulkan masalah baru.
Oleh
karena itu, evaluasi yang relevan dan efektif sangat diperlukan untuk
merealisasikan tujuan utama kebijakan ini. Misalnya, menyiapkan fasilitas dan
subsidi bagi mahasiswa yang kurang mampu, serta mempersiapkan tenaga pengajar
dan metode pengajaran yang selaras dengan tujuan kebijakan. Kampus juga perlu
menyediakan forum komunikasi yang baik antara institusi dan mahasiswa, sehingga
dapat ditemukan solusi yang tepat sasaran.
Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Mandiri mata kuliah Penulisan Berita, Feature & Editorial

Tidak ada komentar:
Posting Komentar