![]() |
| (Image by Amri Syarof Lazuardi; google) |
Letaknya
yang berada di ujung jalan utama mungkin jadi alasan strategis mengapa sebagian
banyak mahasiswa bersinggah di sana, sembari bernafas tenang atau untuk
beribadah, mungkin karena sejalan arah waktu pulang. Dengan suasana menaiki
anak tangga satu demi satu sampai mengarah kepada pintu yang tak pernah
tertutup itu, juga hirup angin khas kesibukan mahasiswa-mahasiswi yang lelahnya
menguar, lalu masuk dan duduk sebentar, untuk sekadar singgah meski rasanya
seperti pulang ; karena tenang.
Masjid
Darunnajah Universitas Islam Negeri Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
memang seringkali dinilai jadi tempat yang nyaman untuk disinggahi. Masjid
tersebut merupakan tempat ibadah yang mulai dirintis sejak tahun 1990 dengan
diprakarsai oleh Dr. H. Ahmad Moeghofir yang menjabat sebagai dekan fakultas
tarbiyah saat itu. Masjid yang sekarang banyak dikunjungi mahasiswa-mahasiswi
UIN SAIZU tersebut dulunya masih disebut sebagai mushala, karena pada waktu itu
belum diadakan kegiatan shalat Jum’at di sana. Pembangunannya masih bertahap
sampai akhirnya digunakan aktif pada tahun 1991 untuk aktifitas peribadatan dan
keagamaan dengan finishing pembangunan serambi masjid di tahun 1992.
Seiring
berjalannya waktu, dengan berbagai perkembangan yang membuat UIN SAIZU lebih
maju, juga begitu banyaknya kapasitas mahasiswa beserta segala aktifitas
akademiknya, salah satu pimpinan yang diketuai oleh Fauzi, M.Ag melemparkan
usulan mengenai keegiatan shalat Jum’at yang bisa dilaksanakan di mushala
tersebut. Dengan segala pertimangan, akhirnya keputusan tersebut berhasil
diresmikan, dan mushala Darunnajah kemudian berganti nama menjadi Masjid
Darunnajah. Yang mana sekarang tidak hanya dijadikan tempat untuk beribadah
saja, tetapi para mahasiwa dan mahasiswi juga seringkali singgah di sana untuk melepas
penat sembari menunggu kegiatan individualnya.
Ada
yang wudhu mengantri, mengaca sambil berdandan diri, memilih sepasang mukenah
yang rok bawahnya entah kemana lagi, juga beberapa yang mengistirahatkan diri
di serambi. Beberapa yang lain mungkin sembari memandang sana-sini, memperhatikan
ukiran kaligrafi di samping mihrab kanan-kiri. Di sebelah kanan ada surah
An-nisa ayat 103 dan surah Al-ankabut ayat 45 di sisi kirinya lagi. Saat
ditanya mengenai alasan mengapa kedua surah tersebut yang dijadikan estetika
kaligrafi di masjid ini, salah satu ta’mir masjid, Widhi Prayogo menyatakan
bahwa hal tersebut bisa jadi tergantung seniman yang mengukir, dengan
mempertimbangkan kesesuaian komposisi ruang dan keseimbangan visual kaligrafi.
Makna
dari kedua ayat tersebut juga ketika diteliti sesuai dengan kegiatan yang
memang sudah menjadi fungsi utama sebuah masjid, yakni mengenai shalat. Kegiatan
yang bertempat di masjid Darunnajah juga bertahap di tiap masa perkembangannya.
Berkat keuletan dan keikhlasan para ta’mir, masjid Darunnajah tidak hanya
dijadikan sekadar tempat beribadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan yang
lain.
Di
setiap tahunnya, diselenggarakan kegiatan seperti acara tadarusan, sima’an dan
berqurban, tepatnya pada waktu menjelang idul fitri dan hari idul adha. Tidak
jarang juga mengadakan acara maulidan yang berkolaborasi bersama pondok
pesantren Al-ikhlas dan El-fira, di tiap bulannya. Bahkan diadakan pula
kegiatan rutinitas mingguan, dengan partisipan UKM PIQSI dan ta’mir masjid
Birrulwalidain, salah satunya seperti pelatihan khotib. Dengan hal ini, Masjid
Darunnajah benar-benar berusaha dijadikan sebagai pusat kegiatan yang
memakmurkan.
Menurut
Widhi Prayogo, menjadi ta’mir masjid adalah sebuah panggilan. Panggilan yang
merupakan keikhlasan dengan mengedepankan kebermanfaatan dirinya untuk orang
lain dan sekitar. “Nah, jadi, ketika hidup di masjid jangan berharap kita hidup
makmur karena tinggal di masjid, tapi bagaimana cara kita bisa memakmurkan
masjid,” tutupnya.
Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Mandiri mata kuliah Penulisan Berita, Feature & Editorial

Tidak ada komentar:
Posting Komentar