Sabtu, 03 Januari 2026

[FEATURE] DINAMIKA KETENANGAN MASJID DARUNNAJAH UIN SAIZU PURWOKERTO

 

(Image by Amri Syarof Lazuardi; google)


Letaknya yang berada di ujung jalan utama mungkin jadi alasan strategis mengapa sebagian banyak mahasiswa bersinggah di sana, sembari bernafas tenang atau untuk beribadah, mungkin karena sejalan arah waktu pulang. Dengan suasana menaiki anak tangga satu demi satu sampai mengarah kepada pintu yang tak pernah tertutup itu, juga hirup angin khas kesibukan mahasiswa-mahasiswi yang lelahnya menguar, lalu masuk dan duduk sebentar, untuk sekadar singgah meski rasanya seperti pulang ; karena tenang.

Masjid Darunnajah Universitas Islam Negeri Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto memang seringkali dinilai jadi tempat yang nyaman untuk disinggahi. Masjid tersebut merupakan tempat ibadah yang mulai dirintis sejak tahun 1990 dengan diprakarsai oleh Dr. H. Ahmad Moeghofir yang menjabat sebagai dekan fakultas tarbiyah saat itu. Masjid yang sekarang banyak dikunjungi mahasiswa-mahasiswi UIN SAIZU tersebut dulunya masih disebut sebagai mushala, karena pada waktu itu belum diadakan kegiatan shalat Jum’at di sana. Pembangunannya masih bertahap sampai akhirnya digunakan aktif pada tahun 1991 untuk aktifitas peribadatan dan keagamaan dengan finishing pembangunan serambi masjid di tahun 1992.

Seiring berjalannya waktu, dengan berbagai perkembangan yang membuat UIN SAIZU lebih maju, juga begitu banyaknya kapasitas mahasiswa beserta segala aktifitas akademiknya, salah satu pimpinan yang diketuai oleh Fauzi, M.Ag melemparkan usulan mengenai keegiatan shalat Jum’at yang bisa dilaksanakan di mushala tersebut. Dengan segala pertimangan, akhirnya keputusan tersebut berhasil diresmikan, dan mushala Darunnajah kemudian berganti nama menjadi Masjid Darunnajah. Yang mana sekarang tidak hanya dijadikan tempat untuk beribadah saja, tetapi para mahasiwa dan mahasiswi juga seringkali singgah di sana untuk melepas penat sembari menunggu kegiatan individualnya.

Ada yang wudhu mengantri, mengaca sambil berdandan diri, memilih sepasang mukenah yang rok bawahnya entah kemana lagi, juga beberapa yang mengistirahatkan diri di serambi. Beberapa yang lain mungkin sembari memandang sana-sini, memperhatikan ukiran kaligrafi di samping mihrab kanan-kiri. Di sebelah kanan ada surah An-nisa ayat 103 dan surah Al-ankabut ayat 45 di sisi kirinya lagi. Saat ditanya mengenai alasan mengapa kedua surah tersebut yang dijadikan estetika kaligrafi di masjid ini, salah satu ta’mir masjid, Widhi Prayogo menyatakan bahwa hal tersebut bisa jadi tergantung seniman yang mengukir, dengan mempertimbangkan kesesuaian komposisi ruang dan keseimbangan visual kaligrafi.

Makna dari kedua ayat tersebut juga ketika diteliti sesuai dengan kegiatan yang memang sudah menjadi fungsi utama sebuah masjid, yakni mengenai shalat. Kegiatan yang bertempat di masjid Darunnajah juga bertahap di tiap masa perkembangannya. Berkat keuletan dan keikhlasan para ta’mir, masjid Darunnajah tidak hanya dijadikan sekadar tempat beribadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan yang lain.

Di setiap tahunnya, diselenggarakan kegiatan seperti acara tadarusan, sima’an dan berqurban, tepatnya pada waktu menjelang idul fitri dan hari idul adha. Tidak jarang juga mengadakan acara maulidan yang berkolaborasi bersama pondok pesantren Al-ikhlas dan El-fira, di tiap bulannya. Bahkan diadakan pula kegiatan rutinitas mingguan, dengan partisipan UKM PIQSI dan ta’mir masjid Birrulwalidain, salah satunya seperti pelatihan khotib. Dengan hal ini, Masjid Darunnajah benar-benar berusaha dijadikan sebagai pusat kegiatan yang memakmurkan.

Menurut Widhi Prayogo, menjadi ta’mir masjid adalah sebuah panggilan. Panggilan yang merupakan keikhlasan dengan mengedepankan kebermanfaatan dirinya untuk orang lain dan sekitar. “Nah, jadi, ketika hidup di masjid jangan berharap kita hidup makmur karena tinggal di masjid, tapi bagaimana cara kita bisa memakmurkan masjid,” tutupnya.

Penulis: Riris Rizki Maulida

Ditulis sebagai Tugas Mandiri mata kuliah Penulisan Berita, Feature & Editorial


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...