Pengaruh
Media Sosial terhadap Pemaknaan Agama di Era Digital
Maraknya
konten di media sosial yang mengangkat topik agama dengan dalih kelancaran
urusan duniawi membentuk pola pikir masyarakat berubah sesuai dengan yang
dikemas oleh media. Banyak content creator membuat konten sejenis tips
and trick dengan balutan topik ajaran agama. Misalnya, konten seperti:
“Amalkan 3 Surah Ini Supaya Rezekimu Lancar!”, “Amalkan Shalat Tahajud Supaya
Derajatmu Diangkat Oleh Allah!” dan lain sebagainya. Fenomena ini menunjukkan
pergeseran pemahaman agama pada masyarakat, dimana komunikasi dengan Allah Swt
terkesan lebih transaksional. Sehingga, ibadahnya ditujukan semata-mata untuk
mengharapkan sesuatu urusan duniawinya.
Hal
ini memicu pertanyaan: apakah fenomena ini menunjukkan bahwa agama dipengaruhi
oleh perubahan sosial? Atau justru sebaliknya, apakah agama yang berkontribusi
pada perubahan sosial?
Menurut
Samuel Hoening (Sosiolog), perubahan sosial adalah modifikasi-modifikasi yang
terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia, baik itu terjadi karena sebab intern
ataupun ekstern. Di sini, disposisi agama, pada satu sisi dapat menjadi
penentang perubahan dan pada sisi lain dapat menjadi pendorong adanya perubahan
sosial. Perubahan sosial dalam masyarakat atau komunitas manusia tertentu dapat
berakibat atau berdampak positif maupun negatif. (Ali Imran, 2015)
Dalam
pemahaman keberagamaan, agama mengajarkan ketulusan dalam beribadah. Seperti
dalam agama Islam, “Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil
alamin” merupakan penggalan ayat dari surat Al-An'am ayat 162, yang
artinya: “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk
Allah, Tuhan semesta alam.” Hal ini menandakan bahwa tujuan ibadah
sebenarnya adalah semata-mata untuk ridha Sang Pencipta. Namun, di era digital
sekarang ini, muncul pola pikir bahwa ibadah dilakukan demi manfaat duniawi.
Misalnya, rezeki lancar, jodoh cepat datang, karir maju, derajat ditinggikan,
dan semacamnya.
Konten-konten
yang mengaitkan amalan agama dengan manfaat duniawi juga cenderung lebih menarik
perhatian masyarakat. Akibatnya, banyak orang beribadah dengan motivasi yang
kurang tulus atau hanya mengharapkan balasan instan. Contohnya, banyak orang
kemudian berbondong-bondong mengamalkan surah Al-Waqi’ah setiap pagi yang
dipercaya guna mendapatkan rezeki yang tidak terduga. Ada juga orang yang lalu
secara rutin melaksanakan shalat tahajud yang dianggap dapat mempercepat laju
karirnya serta cepat naik jabatan berdasarkan dalil janji Allah tentang shalat
tahajud yang terdapat dalam Al-Qur'an, yaitu QS. Al-Isra ayat 79 yang berbunyi:
"Dan
pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan
bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Hal
ini sejalan dengan konsep bahwa agama dipengaruhi oleh perubahan sosial, dimana
konten media sosial dapat menggeser perspektif masyarakat terhadap agama.
Jika
dilihat dari dampak positifnya, hal ini memang dapat meningkatkan kesadaran
masyarakat beragama karena banyak dari mereka yang kemudian lebih rajin dalam
mengamalkan ibadah. Media sosial juga dapat menjadi akses dakwah dengan
jangkauan yang lebih luas. Namun, di sisi lain, hal ini juga dapat memunculkan
pemahaman agama yang dangkal. Banyak masyarakat kemudian menganggap bahwa
ibadah adalah sekadar alat untuk meminta sesuatu. Maka, bentuk komunikasi
dengan Tuhannya tidak lebih dari sebatas komunikasi transaksional, bukan antara
ketulusan hamba kepada Tuhannya. Sehingga, dampak negatifnya, hal ini dapat
menyebabkan kekecewaan jika doa dan permintaannya tidak dikabulkan, sebab mereka
merasa sudah mengamalkan ibadah dengan sungguh-sungguh. Bahkan, nantinya akan
berujung pada menyalahkan Tuhan.
Pada
kesimpulannya, agama dan perubahan sosial memiliki keterkaitan yang saling
memengaruhi. Media sosial mengubah cara pandang masyarakat dalam beragama
menjadi lebih transaksional, yang menunjukkan bahwa agama dapat dipengaruhi
oleh perubahan sosial. Sementara itu, agama juga berkontribusi pada perubahan
sosial, ketika ajaran agama, meskipun dikemas dalam media digital, mampu
membuat masyarakat lebih sadar akan pentingnya ibadah dan mendukung penyebaran
dakwah. Namun, sebagai individu, penting untuk kembali pada esensi agama, bahwa
beribadah harus didasarkan pada ketulusan dan bentuk pengabdian kita kepada
Sang Pencipta, bukan karena ingin balasan instan. Oleh karena itu, perlunya pemahaman
agama yang lebih mendalam juga penting agar tidak terjebak dalam pola pikir
yang dangkal, sehingga dapat memaknai agama dengan benar meskipun di era
digital yang serba instan.
Kutipan:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar