Senin, 05 Januari 2026

[ESAI] AGAMA & PERUBAHAN SOSIAL

 

(Generate Image by Gemini AI)


Pengaruh Media Sosial terhadap Pemaknaan Agama di Era Digital

Maraknya konten di media sosial yang mengangkat topik agama dengan dalih kelancaran urusan duniawi membentuk pola pikir masyarakat berubah sesuai dengan yang dikemas oleh media. Banyak content creator membuat konten sejenis tips and trick dengan balutan topik ajaran agama. Misalnya, konten seperti: “Amalkan 3 Surah Ini Supaya Rezekimu Lancar!”, “Amalkan Shalat Tahajud Supaya Derajatmu Diangkat Oleh Allah!” dan lain sebagainya. Fenomena ini menunjukkan pergeseran pemahaman agama pada masyarakat, dimana komunikasi dengan Allah Swt terkesan lebih transaksional. Sehingga, ibadahnya ditujukan semata-mata untuk mengharapkan sesuatu urusan duniawinya.

Hal ini memicu pertanyaan: apakah fenomena ini menunjukkan bahwa agama dipengaruhi oleh perubahan sosial? Atau justru sebaliknya, apakah agama yang berkontribusi pada perubahan sosial?

Menurut Samuel Hoening (Sosiolog), perubahan sosial adalah modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia, baik itu terjadi karena sebab intern ataupun ekstern. Di sini, disposisi agama, pada satu sisi dapat menjadi penentang perubahan dan pada sisi lain dapat menjadi pendorong adanya perubahan sosial. Perubahan sosial dalam masyarakat atau komunitas manusia tertentu dapat berakibat atau berdampak positif maupun negatif. (Ali Imran, 2015)

Dalam pemahaman keberagamaan, agama mengajarkan ketulusan dalam beribadah. Seperti dalam agama Islam, “Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin” merupakan penggalan ayat dari surat Al-An'am ayat 162, yang artinya: “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.” Hal ini menandakan bahwa tujuan ibadah sebenarnya adalah semata-mata untuk ridha Sang Pencipta. Namun, di era digital sekarang ini, muncul pola pikir bahwa ibadah dilakukan demi manfaat duniawi. Misalnya, rezeki lancar, jodoh cepat datang, karir maju, derajat ditinggikan, dan semacamnya.

Konten-konten yang mengaitkan amalan agama dengan manfaat duniawi juga cenderung lebih menarik perhatian masyarakat. Akibatnya, banyak orang beribadah dengan motivasi yang kurang tulus atau hanya mengharapkan balasan instan. Contohnya, banyak orang kemudian berbondong-bondong mengamalkan surah Al-Waqi’ah setiap pagi yang dipercaya guna mendapatkan rezeki yang tidak terduga. Ada juga orang yang lalu secara rutin melaksanakan shalat tahajud yang dianggap dapat mempercepat laju karirnya serta cepat naik jabatan berdasarkan dalil janji Allah tentang shalat tahajud yang terdapat dalam Al-Qur'an, yaitu QS. Al-Isra ayat 79 yang berbunyi:

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

Hal ini sejalan dengan konsep bahwa agama dipengaruhi oleh perubahan sosial, dimana konten media sosial dapat menggeser perspektif masyarakat terhadap agama.

Jika dilihat dari dampak positifnya, hal ini memang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat beragama karena banyak dari mereka yang kemudian lebih rajin dalam mengamalkan ibadah. Media sosial juga dapat menjadi akses dakwah dengan jangkauan yang lebih luas. Namun, di sisi lain, hal ini juga dapat memunculkan pemahaman agama yang dangkal. Banyak masyarakat kemudian menganggap bahwa ibadah adalah sekadar alat untuk meminta sesuatu. Maka, bentuk komunikasi dengan Tuhannya tidak lebih dari sebatas komunikasi transaksional, bukan antara ketulusan hamba kepada Tuhannya. Sehingga, dampak negatifnya, hal ini dapat menyebabkan kekecewaan jika doa dan permintaannya tidak dikabulkan, sebab mereka merasa sudah mengamalkan ibadah dengan sungguh-sungguh. Bahkan, nantinya akan berujung pada menyalahkan Tuhan.

Pada kesimpulannya, agama dan perubahan sosial memiliki keterkaitan yang saling memengaruhi. Media sosial mengubah cara pandang masyarakat dalam beragama menjadi lebih transaksional, yang menunjukkan bahwa agama dapat dipengaruhi oleh perubahan sosial. Sementara itu, agama juga berkontribusi pada perubahan sosial, ketika ajaran agama, meskipun dikemas dalam media digital, mampu membuat masyarakat lebih sadar akan pentingnya ibadah dan mendukung penyebaran dakwah. Namun, sebagai individu, penting untuk kembali pada esensi agama, bahwa beribadah harus didasarkan pada ketulusan dan bentuk pengabdian kita kepada Sang Pencipta, bukan karena ingin balasan instan. Oleh karena itu, perlunya pemahaman agama yang lebih mendalam juga penting agar tidak terjebak dalam pola pikir yang dangkal, sehingga dapat memaknai agama dengan benar meskipun di era digital yang serba instan.

Kutipan:

Amran, A. (2015). Peranan agama dalam perubahan sosial masyarakat. Hikmah, 2(1), 23-39.

Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Mandiri mata kuliah Sosiologi & Antropologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...