![]() |
| (Lokasi Pura Pedalaman Giri Kendeng) |
Di tengah lanskap budaya Banyumas
yang kaya dengan tradisi Islam dan budaya Jawa, berdiri sebuah simbol
keberagaman yang menggugah perhatian: Pura Giri Kendeng. Berlokasi di Desa
Somagede, pura ini menjadi bagian dari dinamika masyarakat yang mayoritas Muslim,
mencerminkan semangat toleransi yang telah lama terjalin. Pura Giri Kendeng
bukan hanya sebuah tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga saksi sejarah tentang
bagaimana perbedaan dapat menjadi penguat dalam kehidupan bermasyarakat.
Banyumas, sebuah kabupaten di Jawa
Tengah yang dikenal dengan tradisi seni lengger, tembang macapat, dan keindahan
alamnya, ternyata menyimpan lebih dari sekadar warisan budaya Jawa yang
memikat. Di balik identitasnya sebagai wilayah yang mayoritas beragama Islam.
Keberadaan pura-pura di beberapa sudut Banyumas menjadi salah satu bukti nyata
bahwa daerah ini tidak hanya kaya secara budaya, tetapi juga dalam keberagaman
agama yang hidup berdampingan.
Kami sempat menelusuri tempat Pura
di salah satu wilayah banyumas, yakni Somagede. Tempat yang biasa disebut Pura
Pedaleman Giri Kendeng di desa Klinting ini tak banyak mendapat perhatian, baik
oleh masyarakat lokal maupun khalayak luas, mungkin karena tempatnya yang
berada di desa kecil, sepertinya. Ketika ditanyakan kepada pemangku adat, pura
ini memiliki sejarah, budaya dan spiritual yang tak kalah penting.
Pura Pedaleman Giri Kendeng di desa
Klinting ini memiliki nama yang bisa
jadi berkaitan secara simbolis atau filosofis dengan Sunan Giri, Kata
"Giri" dalam bahasa Sanskerta berarti "gunung." Sunan Giri
(Raden Paku) adalah salah satu Wali Songo yang mendirikan pesantren di wilayah
Giri, Gresik, dan namanya sangat dikenal dalam sejarah penyebaran Islam di
Jawa. Nama "Giri" pada Sunan Giri merujuk pada lokasi geografisnya.
Dalam konteks Pura Pedaleman Giri Kendeng, nama "Giri" kemungkinan
merujuk pada geografis yang terkait dengan gunung sebagai simbol kesucian atau
tempat yang tinggi secara spiritual.
Meski secara geografis tempat ini
tidak secara langsung berkaitan dengan Sunan Giri, nama "Giri" bisa
jadi menunjukkan pengaruh ajaran atau filosofi yang sejalan dengan nilai-nilai
yang diperkenalkan oleh Sunan Giri, terutama dalam memadukan aspek
spiritualitas Islam dan budaya lokal.
Pura Pedaleman Giri Kendeng mungkin
lebih terkait dengan tradisi lokal Banyumas yang memadukan unsur keislaman
dengan budaya Hindu-Jawa, mirip dengan cara Wali Songo memperkenalkan Islam
dengan pendekatan akulturasi budaya setempat. Jadi, hubungan ini lebih kepada
semangat penyebaran spiritualitas yang inklusif daripada hubungan langsung
secara historis.
Pura Pedaleman Giri Kendeng memiliki
sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Keberadaannya tidak hanya
merefleksikan perjalanan spiritual umat Hindu di wilayah Banyumas, tetapi juga
menyimpan cerita tentang perjumpaan budaya dan keyakinan yang unik. Pendirian
pura ini erat kaitannya dengan perjalanan para pengikut agama Hindu yang
menetap di wilayah tersebut, baik melalui jalur migrasi maupun persebaran
budaya dari masa ke masa.
Fenomena ini mengundang pertanyaan
menarik: bagaimana sebuah pura bisa bertahan dan menjadi bagian tak terpisahkan
dari komunitas di Banyumas? Jawabannya terletak pada semangat toleransi yang
diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, pura
ini juga menjadi saksi hidup kerukunan antarumat beragama yang menjadikan
Banyumas sebagai salah satu potret keberagaman Indonesia.
Pada mulanya masyarakat Banyumas
sekitar pura menganut kepercayaan Wayah Kaki yang dalam bahasa Jawa berarti
“cucu kakek”. Kakek dalam kepercayaan mereka merujuk pada Eyang Semar sebagai
Sang Pepunden. Para penghayatnya menyebut diri mereka sebagai wayah atau cucu
dari Semar.
Namun, saat era 80-an kebijakan pada
Pemerintahan Orde Baru mewajibkan mereka untuk memilih di antara lima agama
yang diresmikan, yaitu Islam, Hindu, Budha, Kristen dan Konghucu. Atas saran
dari salah satu tokoh Wayah Kaki yang dihormati yaitu Ranameja, mereka memilih
memeluk agama Hindu yang dianggap memiliki kesamaan dengan Wayah Kaki, di
antaranya dari aspek spiritual atau ritual-ritual yang dilakukan, namun tetap
kedua kepercayaan ini berbeda.
Tidak berselang lama setelah
memutuskan memeluk agama Hindu, Ranameja berangkat ke Bali untuk mempelajari
lebih dalam tentang agama Hindu dan sekembalinya beliau ke Banyumas, salah
seorang pemuka Hindu dari Bali men-sudhi-kan mereka (upacara masuk agama Hindu).
Pura Giri Kendeng dibangun pada
tahun 1987 di atas tanah warisan Ranameja oleh para penghayatnya sebagai tempat
ibadah umat Hindu karena belum adanya tempat untuk ibadah dan kegiatan
keagamaan di sana. Sekaligus sebagai bentuk usaha untuk memenuhi kebutuhan dari
umat Hindu yang berada di Banyumas.
Pura merupakan tempat suci dalam
agama Hindu yang memiliki peran sentral dalam praktik keagamaan dan sosial
masyarakat. Sebagai pusat peribadatan, pura tidak sekadar bangunan fisik,
melainkan ruang sakral yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan spiritual
umat Hindu. Fungsinya meliputi berbagai aspek keagamaan dan sosial, mulai dari
upacara keagamaan hingga acara-acara penting dalam siklus kehidupan masyarakat.
Keberadaan pura dan praktik-praktik
yang dilakukan di dalamnya mencerminkan filosofi Hindu yang kompleks. Setiap
elemen, dari aturan kesucian hingga ritual persembahyangan, memiliki makna
filosofis yang mendalam tentang hubungan manusia dengan kehidupan, alam
semesta, dan kekuatan spiritual.
Pura tidak hanya digunakan untuk
ibadah rutin, tetapi juga menjadi tempat diselenggarakannya berbagai kegiatan
spiritual dan sosial. Di sekitar Pura Giri Kendeng, umat Hindu menjalankan
berbagai kegiatan pendidikan agama non-formal yang dikenal sebagai asramantu.
Setiap hari Minggu, anak-anak dari PAUD hingga SMA berkumpul untuk mengikuti
program yang mencakup membaca kitab suci, mekidungan (nyanyi-nyanyian), dan
yoga. Kegiatan ini dipandu oleh pamong guru dan pemangku adat, yang berperan
penting dalam mendidik generasi muda tentang ajaran Hindu. Selain itu,
anak-anak juga diajarkan keterampilan tradisional seperti jejaitan, yaitu
membuat janur, yang dilatih sejak dini sebagai bagian dari warisan budaya.
Pura Giri Kendeng memiliki
norma-norma yang jelas terkait dengan pembagian area pura dalam tri mandala:
Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala. Utama Mandala diperuntukkan
bagi orang-orang yang berkepentingan beribadah, di mana perempuan yang sedang
haid atau dalam keadaan tidak suci dilarang masuk untuk menjaga kesucian tempat
tersebut. Sebelum beribadah, para umat juga diwajibkan mengenakan selendang dan
ikat kepala yang dianggap sebagai simbol untuk menjaga konsentrasi dan fokus.
Di area ini terdapat pelinggih atau altar kecil untuk memuja dewa-dewi seperti
Dewi Saraswati dan Ganesha, yang dipercaya bahwa Dewi Saraswati merupakan dewi
ilmu pendidikan dan Ganesha yang melindungi kemakmuran. Bahkan, di setiap rumah
warga umat Hindu disana terdapat penunggon karang, yaitu bangunan mirip mandala
yang dipercaya untuk melindungi area rumah mereka dari marabahaya, sehingga
sesajen juga disiapkan di sekitar penunggon karang tersebut sebagai bentuk
penghormatan kepada entitas spiritual yang melindungi mereka.
Rutinitas keagamaan di Pura Giri
Kendeng mencakup sembahyang bersama, yang disebut sebagai purnama tilem dan
dilaksanakan setiap bulan, serta perayaan Hari Nyepi yang berlangsung selama 24
jam dengan larangan bepergian dan aktivitas lainnya. Meskipun ada tantangan
dalam penerapan aturan Nyepi di tengah masyarakat yang beragam, umumnya umat
Hindu mematuhi tradisi tersebut. Seperti adat menonaktifkan semua akses
jejaring sosial serentak yang dilaksanakan di Bali, tidak bisa diterapkan di
Indonesia, terkhusus wilayah desa Klinting ini, karena bukan merupakan agama
mayoritas. Namun, keharmonisan sosial angat terjalin antara umat Hindu dan
masyarakat beragama lain di Desa Klinting, menciptakan suasana saling
menghormati dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan keagamaan. Pura Giri
Kendeng tidak hanya menjadi pusat spiritual tetapi juga simbol toleransi dan
kerukunan antarumat beragama.
Desa Klinting adalah salah satu
contoh nyata bagaimana keberagaman agama dapat menjadi kekuatan yang
mempersatukan masyarakat. Di desa klinting, toleransi antar umat beragama bukan
hanya sekedar nilai yang diajarkan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Warga Desa Klinting memahami bahwa meskipun mereka memiliki
keyakinan yang berbeda beda namun harmoni dan kedamaian hanya dapat tercapai
jika ada sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
Keberagaman agama di Desa Klinting
mencakup berbagai keyakinan, dengan mayoritas penduduk yang memeluk agama
tertentu, sementara pemeluk agama Hindu, meskipun cukup banyak, tetap berada
dalam kelompok minoritas. Namun, kondisi ini tidak menjadikan mereka
diperlakukan berbeda. Masyarakat setempat memperlihatkan sikap inklusif yang
tinggi, memastikan bahwa setiap individu dapat menjalankan keyakinannya dengan
bebas tanpa takut akan diskriminasi atau perlakuan yang tidak adil.
Seperti yang diungkapkan oleh Pak
Satam, salah satu pemangku Pura, “Kalo di sekitar sini memang iya, ya…
minoritas, lebih banyak yang muslim. Tapi, di kita itu tolerasinya sangat bagus
di sini… jadi, nggak ada istilahnya kayak membeda-bedakan ‘oh, saya Hindu, kamu
Muslim’, nggak ada. Intinya saling membaur, antara Muslim dan Hindu.”
Sikap toleransi ini terlihat dalam
banyak aspek kehidupan masyarakat Desa Klinting. Misalnya, ketika ada perayaan
hari besar agama tertentu, warga dari agama lain menghargai dan merayakan
dengan cara yang penuh penghormatan. Begitupun juga sebaliknya. Hal ini bukan
hanya menjadi momen untuk mempererat hubungan sosial, tetapi juga menciptakan
suasana persaudaraan yang mendalam. Sikap saling menghargai ini juga tidak
hanya lahir secara alami, tetapi juga di pupuk melalui berbagai kegiatan sosial
dan budaya yang melibatkan semua lapisan masyarakat.
Masyarakat Desa Klinting juga
memahami bahwa toleransi bukan berarti menghilangkan identitas agama masing
masing, melainkan menerima perbedaan sebagai bagian tak terpisahkan dari
kehidupan. Seperti ajaran agama hindu mengenai toleransi yang dapat di wujudkan
melalui beberapa ajaran yaitu pertama, Vasudhaiva Kutumbhakam yaitu ajaran yang
menunjukan bahwa kita semua bersaudara, tanpa membedakan agama, suku, bahasa,
budaya, tradisi, dan warna kulit. Kedua, Tri Hita Karana yaitu ajaran yang
mengajarkan untuk menjalin hubungan harmonis dengan Tuhan, sesame manusia dan
alam lingkungan. Ketiga, Tat Twam Asi yaitu ajaran yang mengharapkan manusia
untuk berempati dan merasakan apa yang orang lain rasakan. Ajaran ini juga
mengajarkan untuk menghormati perbedaan yang ada.
Perbedaan agama adalah sebuah
anugerah yang memperkarya kehidupan sosial. Oleh karena itu, mereka Masyarakat
Desa Klinting menjadikan toleransi sebagai pilar utama dalam menjaga hubungan
antar warga. Sehingga perbedaan tersebut tidak menjadi sumber konflik melainkan
menjadi pondasi untuk membangun kehidupan yang damai dan sejahtera.
Pura Giri Kendeng di Desa Somagede,
Banyumas, bukan hanya merupakan tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga simbol
dari keberagaman dan toleransi antarumat beragama yang telah terjalin kuat di
wilayah tersebut. Pura ini mencerminkan perpaduan antara tradisi Hindu dan
budaya lokal yang sudah ada, serta perjalanan sejarah yang panjang, termasuk
pertemuan antara kepercayaan lokal, seperti Wayah Kaki, dengan agama Hindu.
Keberadaan pura ini menunjukkan bagaimana perbedaan agama dapat memperkaya
kehidupan sosial, menciptakan kerukunan, dan membangun masyarakat yang saling
menghormati. Meskipun Hindu merupakan agama minoritas di Banyumas, khususnya di
Desa Klinting, masyarakatnya mampu mewujudkan sikap toleransi yang tinggi, baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perayaan agama. Pura Giri Kendeng
menjadi simbol nyata dari semangat Vasudhaiva Kutumbhakam, Tri Hita Karana, dan
Tat Twam Asi—ajaran Hindu yang mengajarkan persaudaraan, harmoni, dan saling
menghargai. Di tengah keberagaman ini, Desa Klinting menunjukkan bahwa
perbedaan agama adalah kekuatan yang menyatukan, bukan memecah belah, dan bahwa
kedamaian hanya dapat terwujud melalui sikap saling menghormati antarumat
beragama.
![]() |
| (Dokumentasi letak Pura Pedalaman Giri Kendeng - Nista Mandala) |
![]() |
| (Dokumentasi wawancara bersama Bapak Satam selaku salah satu Pemangku Pura Pedalaman Giri Kendeng) |
![]() |
| (Dokumentasi kelompok bersama Bapak Satam di depan lokasi Pura Pedalaman Giri Kendeng) |
![]() |
| (Dokumentasi kelompok - 2) |
- Amanta Fatia Salma
- Beti Nur Baeti
- Muhammad Lubus Dzulfikar
- Navi Khoerunnisa
- Riri Izzatur Hasna
- Riris Rizki Maulida
- Syafa Dwianto





Tidak ada komentar:
Posting Komentar