Sabtu, 03 Januari 2026

[ESAI] PURA GIRI KENDENG SOMAGEDE: JEJAK BUDAYA YANG MENYATUKAN TRADISI, KEIMANAN, DAN TOLERANSI

 

(Lokasi Pura Pedalaman Giri Kendeng)

            Di tengah lanskap budaya Banyumas yang kaya dengan tradisi Islam dan budaya Jawa, berdiri sebuah simbol keberagaman yang menggugah perhatian: Pura Giri Kendeng. Berlokasi di Desa Somagede, pura ini menjadi bagian dari dinamika masyarakat yang mayoritas Muslim, mencerminkan semangat toleransi yang telah lama terjalin. Pura Giri Kendeng bukan hanya sebuah tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga saksi sejarah tentang bagaimana perbedaan dapat menjadi penguat dalam kehidupan bermasyarakat. 

            Banyumas, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang dikenal dengan tradisi seni lengger, tembang macapat, dan keindahan alamnya, ternyata menyimpan lebih dari sekadar warisan budaya Jawa yang memikat. Di balik identitasnya sebagai wilayah yang mayoritas beragama Islam. Keberadaan pura-pura di beberapa sudut Banyumas menjadi salah satu bukti nyata bahwa daerah ini tidak hanya kaya secara budaya, tetapi juga dalam keberagaman agama yang hidup berdampingan.

            Kami sempat menelusuri tempat Pura di salah satu wilayah banyumas, yakni Somagede. Tempat yang biasa disebut Pura Pedaleman Giri Kendeng di desa Klinting ini tak banyak mendapat perhatian, baik oleh masyarakat lokal maupun khalayak luas, mungkin karena tempatnya yang berada di desa kecil, sepertinya. Ketika ditanyakan kepada pemangku adat, pura ini memiliki sejarah, budaya dan spiritual yang tak kalah penting.

            Pura Pedaleman Giri Kendeng di desa Klinting ini  memiliki nama yang bisa jadi berkaitan secara simbolis atau filosofis dengan Sunan Giri, Kata "Giri" dalam bahasa Sanskerta berarti "gunung." Sunan Giri (Raden Paku) adalah salah satu Wali Songo yang mendirikan pesantren di wilayah Giri, Gresik, dan namanya sangat dikenal dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa. Nama "Giri" pada Sunan Giri merujuk pada lokasi geografisnya. Dalam konteks Pura Pedaleman Giri Kendeng, nama "Giri" kemungkinan merujuk pada geografis yang terkait dengan gunung sebagai simbol kesucian atau tempat yang tinggi secara spiritual.

            Meski secara geografis tempat ini tidak secara langsung berkaitan dengan Sunan Giri, nama "Giri" bisa jadi menunjukkan pengaruh ajaran atau filosofi yang sejalan dengan nilai-nilai yang diperkenalkan oleh Sunan Giri, terutama dalam memadukan aspek spiritualitas Islam dan budaya lokal.

            Pura Pedaleman Giri Kendeng mungkin lebih terkait dengan tradisi lokal Banyumas yang memadukan unsur keislaman dengan budaya Hindu-Jawa, mirip dengan cara Wali Songo memperkenalkan Islam dengan pendekatan akulturasi budaya setempat. Jadi, hubungan ini lebih kepada semangat penyebaran spiritualitas yang inklusif daripada hubungan langsung secara historis.

            Pura Pedaleman Giri Kendeng memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Keberadaannya tidak hanya merefleksikan perjalanan spiritual umat Hindu di wilayah Banyumas, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjumpaan budaya dan keyakinan yang unik. Pendirian pura ini erat kaitannya dengan perjalanan para pengikut agama Hindu yang menetap di wilayah tersebut, baik melalui jalur migrasi maupun persebaran budaya dari masa ke masa.

            Fenomena ini mengundang pertanyaan menarik: bagaimana sebuah pura bisa bertahan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas di Banyumas? Jawabannya terletak pada semangat toleransi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, pura ini juga menjadi saksi hidup kerukunan antarumat beragama yang menjadikan Banyumas sebagai salah satu potret keberagaman Indonesia.

            Pada mulanya masyarakat Banyumas sekitar pura menganut kepercayaan Wayah Kaki yang dalam bahasa Jawa berarti “cucu kakek”. Kakek dalam kepercayaan mereka merujuk pada Eyang Semar sebagai Sang Pepunden. Para penghayatnya menyebut diri mereka sebagai wayah atau cucu dari Semar.

            Namun, saat era 80-an kebijakan pada Pemerintahan Orde Baru mewajibkan mereka untuk memilih di antara lima agama yang diresmikan, yaitu Islam, Hindu, Budha, Kristen dan Konghucu. Atas saran dari salah satu tokoh Wayah Kaki yang dihormati yaitu Ranameja, mereka memilih memeluk agama Hindu yang dianggap memiliki kesamaan dengan Wayah Kaki, di antaranya dari aspek spiritual atau ritual-ritual yang dilakukan, namun tetap kedua kepercayaan ini berbeda.

            Tidak berselang lama setelah memutuskan memeluk agama Hindu, Ranameja berangkat ke Bali untuk mempelajari lebih dalam tentang agama Hindu dan sekembalinya beliau ke Banyumas, salah seorang pemuka Hindu dari Bali men-sudhi-kan mereka (upacara masuk agama Hindu).

            Pura Giri Kendeng dibangun pada tahun 1987 di atas tanah warisan Ranameja oleh para penghayatnya sebagai tempat ibadah umat Hindu karena belum adanya tempat untuk ibadah dan kegiatan keagamaan di sana. Sekaligus sebagai bentuk usaha untuk memenuhi kebutuhan dari umat Hindu yang berada di Banyumas.

            Pura merupakan tempat suci dalam agama Hindu yang memiliki peran sentral dalam praktik keagamaan dan sosial masyarakat. Sebagai pusat peribadatan, pura tidak sekadar bangunan fisik, melainkan ruang sakral yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan spiritual umat Hindu. Fungsinya meliputi berbagai aspek keagamaan dan sosial, mulai dari upacara keagamaan hingga acara-acara penting dalam siklus kehidupan masyarakat.

            Keberadaan pura dan praktik-praktik yang dilakukan di dalamnya mencerminkan filosofi Hindu yang kompleks. Setiap elemen, dari aturan kesucian hingga ritual persembahyangan, memiliki makna filosofis yang mendalam tentang hubungan manusia dengan kehidupan, alam semesta, dan kekuatan spiritual.

            Pura tidak hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga menjadi tempat diselenggarakannya berbagai kegiatan spiritual dan sosial. Di sekitar Pura Giri Kendeng, umat Hindu menjalankan berbagai kegiatan pendidikan agama non-formal yang dikenal sebagai asramantu. Setiap hari Minggu, anak-anak dari PAUD hingga SMA berkumpul untuk mengikuti program yang mencakup membaca kitab suci, mekidungan (nyanyi-nyanyian), dan yoga. Kegiatan ini dipandu oleh pamong guru dan pemangku adat, yang berperan penting dalam mendidik generasi muda tentang ajaran Hindu. Selain itu, anak-anak juga diajarkan keterampilan tradisional seperti jejaitan, yaitu membuat janur, yang dilatih sejak dini sebagai bagian dari warisan budaya.

            Pura Giri Kendeng memiliki norma-norma yang jelas terkait dengan pembagian area pura dalam tri mandala: Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala. Utama Mandala diperuntukkan bagi orang-orang yang berkepentingan beribadah, di mana perempuan yang sedang haid atau dalam keadaan tidak suci dilarang masuk untuk menjaga kesucian tempat tersebut. Sebelum beribadah, para umat juga diwajibkan mengenakan selendang dan ikat kepala yang dianggap sebagai simbol untuk menjaga konsentrasi dan fokus. Di area ini terdapat pelinggih atau altar kecil untuk memuja dewa-dewi seperti Dewi Saraswati dan Ganesha, yang dipercaya bahwa Dewi Saraswati merupakan dewi ilmu pendidikan dan Ganesha yang melindungi kemakmuran. Bahkan, di setiap rumah warga umat Hindu disana terdapat penunggon karang, yaitu bangunan mirip mandala yang dipercaya untuk melindungi area rumah mereka dari marabahaya, sehingga sesajen juga disiapkan di sekitar penunggon karang tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada entitas spiritual yang melindungi mereka.

            Rutinitas keagamaan di Pura Giri Kendeng mencakup sembahyang bersama, yang disebut sebagai purnama tilem dan dilaksanakan setiap bulan, serta perayaan Hari Nyepi yang berlangsung selama 24 jam dengan larangan bepergian dan aktivitas lainnya. Meskipun ada tantangan dalam penerapan aturan Nyepi di tengah masyarakat yang beragam, umumnya umat Hindu mematuhi tradisi tersebut. Seperti adat menonaktifkan semua akses jejaring sosial serentak yang dilaksanakan di Bali, tidak bisa diterapkan di Indonesia, terkhusus wilayah desa Klinting ini, karena bukan merupakan agama mayoritas. Namun, keharmonisan sosial angat terjalin antara umat Hindu dan masyarakat beragama lain di Desa Klinting, menciptakan suasana saling menghormati dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan keagamaan. Pura Giri Kendeng tidak hanya menjadi pusat spiritual tetapi juga simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

            Desa Klinting adalah salah satu contoh nyata bagaimana keberagaman agama dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat. Di desa klinting, toleransi antar umat beragama bukan hanya sekedar nilai yang diajarkan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Warga Desa Klinting memahami bahwa meskipun mereka memiliki keyakinan yang berbeda beda namun harmoni dan kedamaian hanya dapat tercapai jika ada sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

            Keberagaman agama di Desa Klinting mencakup berbagai keyakinan, dengan mayoritas penduduk yang memeluk agama tertentu, sementara pemeluk agama Hindu, meskipun cukup banyak, tetap berada dalam kelompok minoritas. Namun, kondisi ini tidak menjadikan mereka diperlakukan berbeda. Masyarakat setempat memperlihatkan sikap inklusif yang tinggi, memastikan bahwa setiap individu dapat menjalankan keyakinannya dengan bebas tanpa takut akan diskriminasi atau perlakuan yang tidak adil.

            Seperti yang diungkapkan oleh Pak Satam, salah satu pemangku Pura, “Kalo di sekitar sini memang iya, ya… minoritas, lebih banyak yang muslim. Tapi, di kita itu tolerasinya sangat bagus di sini… jadi, nggak ada istilahnya kayak membeda-bedakan ‘oh, saya Hindu, kamu Muslim’, nggak ada. Intinya saling membaur, antara Muslim dan Hindu.”

            Sikap toleransi ini terlihat dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Desa Klinting. Misalnya, ketika ada perayaan hari besar agama tertentu, warga dari agama lain menghargai dan merayakan dengan cara yang penuh penghormatan. Begitupun juga sebaliknya. Hal ini bukan hanya menjadi momen untuk mempererat hubungan sosial, tetapi juga menciptakan suasana persaudaraan yang mendalam. Sikap saling menghargai ini juga tidak hanya lahir secara alami, tetapi juga di pupuk melalui berbagai kegiatan sosial dan budaya yang melibatkan semua lapisan masyarakat.

            Masyarakat Desa Klinting juga memahami bahwa toleransi bukan berarti menghilangkan identitas agama masing masing, melainkan menerima perbedaan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Seperti ajaran agama hindu mengenai toleransi yang dapat di wujudkan melalui beberapa ajaran yaitu pertama, Vasudhaiva Kutumbhakam yaitu ajaran yang menunjukan bahwa kita semua bersaudara, tanpa membedakan agama, suku, bahasa, budaya, tradisi, dan warna kulit. Kedua, Tri Hita Karana yaitu ajaran yang mengajarkan untuk menjalin hubungan harmonis dengan Tuhan, sesame manusia dan alam lingkungan. Ketiga, Tat Twam Asi yaitu ajaran yang mengharapkan manusia untuk berempati dan merasakan apa yang orang lain rasakan. Ajaran ini juga mengajarkan untuk menghormati perbedaan yang ada.

            Perbedaan agama adalah sebuah anugerah yang memperkarya kehidupan sosial. Oleh karena itu, mereka Masyarakat Desa Klinting menjadikan toleransi sebagai pilar utama dalam menjaga hubungan antar warga. Sehingga perbedaan tersebut tidak menjadi sumber konflik melainkan menjadi pondasi untuk membangun kehidupan yang damai dan sejahtera.

            Pura Giri Kendeng di Desa Somagede, Banyumas, bukan hanya merupakan tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga simbol dari keberagaman dan toleransi antarumat beragama yang telah terjalin kuat di wilayah tersebut. Pura ini mencerminkan perpaduan antara tradisi Hindu dan budaya lokal yang sudah ada, serta perjalanan sejarah yang panjang, termasuk pertemuan antara kepercayaan lokal, seperti Wayah Kaki, dengan agama Hindu. Keberadaan pura ini menunjukkan bagaimana perbedaan agama dapat memperkaya kehidupan sosial, menciptakan kerukunan, dan membangun masyarakat yang saling menghormati. Meskipun Hindu merupakan agama minoritas di Banyumas, khususnya di Desa Klinting, masyarakatnya mampu mewujudkan sikap toleransi yang tinggi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perayaan agama. Pura Giri Kendeng menjadi simbol nyata dari semangat Vasudhaiva Kutumbhakam, Tri Hita Karana, dan Tat Twam Asi—ajaran Hindu yang mengajarkan persaudaraan, harmoni, dan saling menghargai. Di tengah keberagaman ini, Desa Klinting menunjukkan bahwa perbedaan agama adalah kekuatan yang menyatukan, bukan memecah belah, dan bahwa kedamaian hanya dapat terwujud melalui sikap saling menghormati antarumat beragama.

LAMPIRAN DOKUMENTASI

(Dokumentasi letak Pura Pedalaman Giri Kendeng - Nista Mandala)

(Dokumentasi wawancara bersama Bapak Satam selaku salah satu Pemangku Pura Pedalaman Giri Kendeng)


(Dokumentasi kelompok bersama Bapak Satam di depan lokasi Pura Pedalaman Giri Kendeng)


(Dokumentasi kelompok - 2)

Penulis:
  1. Amanta Fatia Salma
  2. Beti Nur Baeti
  3. Muhammad Lubus Dzulfikar
  4. Navi Khoerunnisa
  5. Riri Izzatur Hasna
  6. Riris Rizki Maulida
  7. Syafa Dwianto
Ditulis sebagai Tugas Kelompok mata kuliah Creative Writing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...