Sabtu, 03 Januari 2026

[OPINI] BATASAN TOLERANSI BERAGAMA SEBAGAI WARA’ MENJAGA KEIMANAN

 

(Generate Image by Gemini AI)


            Indonesia merupakan negara yang di dalamya menyimpan banyak keberagaman, salah satunya adalah keberagaman agama. Perbedaan agama  menciptakan berbagai macam sikap seseorang dalam mengelola sebuah perbedaan tersebut menjadi suatu hal yang dapat mempererat tali persaudaran sesama sebangsa. Salah satunya adalah sikap toleransi.

            Toleransi adalah sikap menghargai dan menghormati suatu perbedaan sebagai wadah yang dapat menyatukan perbedaan tersebut menjadi keberagaman yang indah  selama dalam batas tertentu. Dalam beragama, sikap toleransi dapat dicerminkan dalam bentuk tidak mencemooh atau mengejek kepercayaan mereka, menghormati ibadah mereka dan tidak memaksakan orang lain yang berbeda dengan kita untuk mengikuti kepercayaan kita. Namun, seringkali toleransi dipraktikkan tidak dalam batas wajarnya. Terkadang, berlindung di balik kata toleransi, beberapa orang menyelipkan modus untuk kita mengikuti kepercayaan mereka.

            Pada hakikatnya, Allah SWT tidak melarang hamba-Nya untuk bersikap toleran terhadap kepercayaan agama lain, bahkan justru hal tersebut diperintahkan-Nya. Tetapi, perintah toleransi juga ditekankan untuk diberikan batasan supaya tidak menjadi berlebihan dan merusak keimanan seseorang. Iman suatu umat merupakan hal terpenting dalam meyakini sebuah agama atau kepercayaan, itulah mengapa dalam bertoleransi kita harus memiliki batasan.

            Batasan untuk melakukan toleransi beragama adalah jangan sampai mencampuradukkan urusan duniawi dengan aqidah. Sikap toleransi dalam beragama hanya cukup sampai dengan hal duniawi, sementara aqidah adalah hal hyang harus benar-benar kita jaga agar tidak diporak-pondakan oleh berbagai oknum mengatasnamakan toleransi untuk menyisipkan paham-paham agamanya secara memaksa.

            Contohnya saja pada zaman Nabi Muhammad Saw, dimana Ketika kaum Quraisy pada saat itu menyetujui untuk percaya pada keyakinan umat Islam dan bersedia untuk melakukan ibadah seorang muslim, namun dengan timbal balik yang ditawarkan. Dimana jika kaum Quraisy bersedia melakukan ibadah umat Islam, maka semua muslim juga bersedia untuk melaksanakan ibadah kaum Quraisy. Sejak saat itulah Allah SWT menurunkan surah Al-Kafirun yang menyatakan secara jelas “untukmu agamamu, untukku agamaku”, bahwa akidah seseorang tidak bisa dibeli dengan apapun bahkan dengan bayaran akidah sekalipun. Sebab, keimanan seseorang lebih utama dibandingkan dengan sikap toleransi itu sendiri.

            Toleransi diutamakan untuk kemasalahatan manusia yang tinggal di dunia. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk bertoleransi sebagai bentuk menghargai sesama ciptaan-Nya. Sebab, manusia diciptakan untuk menyembah Allah SWT dan mempercayai agama-Nya. Allah SWT juga memberikan akal untuk manusia berpikir dan perbedaan agama yang ada merupakan bentuk cerminan dari pola pikir manusia itu sendiri. Sebagai manusia yang masih dalam jalan pikiran yang lurus, tugas kita adalah berusaha mendoakan mereka supaya cepat kembali ke jalan yang sudah Allah SWT gariskan. Tentunya usaha dan doa tersebut harus diiiringi dengan menghargai dan menghormati mereka supaya merasa dirangkul dan tidak tersesat terlalu jauh.

            Dengan adanya toleransi, kita juga dapat menjadikannya sebagai alat ilmu pengetahuan untuk mempelajari sejauh mana akal manusia berpikir. Kita dapat sembari belajar bagaimana mengelola pemahaman kita mengenai perintah toleransi yang dimaksud. Sebab, seringkali kita temukan di Masyarakat luas yang sudah berkubang dalam sikap toleransi itu sendiri di suatu hubungan pertemanan, lingkungan dan yang lain sebagainya, dimana saking dekatnya dalam hubungan tersebut maka menjadikan beberapa kata penyebutan seperti “tuhanmu” kepada pemeluk agama lain dan mengatasnamakan hal tersebut sebagai sebuah toleransi yang diaplikasikan dalam bentuk bahasa.

            Dalam agama Islam, tuhan kita adalah Allah SWT dan Ia esa, yang artinya satu serta tidak ada sesiapapun yang satu derajat dengan-Nya. Sementara Kata “tuhanmu” yang dilontarkan kepada pemeluk agama lain bisa menjadi sebuah kata yang mengartikan bahwa ada tuhan selain Allah SWT. Hal inilah yang perlu diperhatikan untuk umat Islam, yang mana dengan ini umat Islam dapat menggantinya dengan cukup menyebut nama yang agama lain percaya, tidak perlu mencantumkan embel-embel “tuhanmu”. Sebab, ditakutkan hal ini menjadi bahasa lain dari meyakini bahwa ada tuhan selain Allah SWT.

            Begitu juga dengan menghormati perayaan-perayaan hari besar agama lain, kita cukup mengetahui dan menghargai umat dari agama lain merayakan hari besarnya, tetapi kita tidak perlu berkontribusi untuk ikut merayakannya juga. Sebab kita harus membatasi toleransi beragama ke dalam batas duniawi saja tidak perlu menyangkut akidah.

            Akidah atau keyakinan menjadi penopang utama dalam menjunjung tinggi tingkat keimanan seseorang dan iman seseorang dapat dilihat dari sikap yang dimilikinya. Yakni sikap yang bisa membedakan urusan duniawi dan urusan ukhrawi supaya tidak tercampur menjadi satu tetapi perlu diseimbangkan. Sehingga, tidak berat sebelah dalam bertahan hidup di dunia dan tepat mempersiapkan untuk akhirat.

            Contoh sikap yang dapat menjadi bekal bertahan hidup di dunia adalah dengan menyelaraskan kebiasaan di dalam diri kita dengan akidah. Itulah mengapa dulu pembelajaran madrasah mengenai akidah dan akhlak tidak dapat dipisahkan. Sebab, akhlak merupakan cerminan dari akidah seseorang dan akidah memperlihatkan tingkat keimanan.

            Bagaimana cara kita menyelaraskan akhlak dan akidah kita? Salah satunya adalah dengan bersikap mumayyiz, yaitu mampu membedakan yang baik dan buruk. Kita harus bisa membedakan dan menelaah setiap sikap atau sifat yang kita punya apakah hal tersebut akan memberikan dampak yang  baik atau justru malah memperburuk sesuatu. Karena sesuatu yang kita lakukan selalu memberikan dampak atau timbal balik baik sampak positif ataupun negative.

            Sikap mumayyiz juga dapat mencerminkan pola pikir seseorang. Mampu membedakan yang baik dan buruk mencerminkan pola pikir seseorang tentang kebijaksanaannya dalam memutuskan sesuatu. Dalam hal ini, seorang mumayyiz juga akan membentuk sikap wara’ dalam dirinya.

            Wara’ adalah kewaspadaan atau kehati-hatian dalam bersikap atau menyikapi sesuatu. Salah satunya adalah dalam bertoleransi. Dalam toleransi beragama kita juga harus memperhatikan apakah sikap tersebut dapat mengurangi Tingkat keimanan kita atau tidak. Karena seiring berkembangnya zaman, sikap toleransi dan fomo coba-coba seringkali sulit dibedakan. Ada beberapa oknum yang ingin merasakan bagaimana cara beribadah agama lain sehingga mengikuti untuk beribadah dengan cara agama lain dan mengatasnamakan toleransi. Padahal, pada hakikatnya, toleransi adalah menghormati dan menghargai bukan mengikuti, apalagi dalam hal beribadah yang mana hal ini akan sangat jelas mempengaruhi tebal tipisnya keimanan seseorang.

            Toleransi beragama memang sudah diperintahkan pada pancasila sila pertama, yakni “ketuhanan yang maha esa”. Dengan eksistensi tuhan yang esa, hal itu seharusnya menjadikan perbedaan yang ada pada komunitas manusia di dunia untuk bersatu dan menghargai serta menghormati keberagaman tersebut sebagai pembelajaran mengenai sudut pandang yang luas. Sebab, sikap toleransi selain mencerminkan tingkat keimanan seseorang juga memperlihatkan nilai-nilai Pancasila yang tertanam dalam dirinya sebagai bangsa Indonesia.

            Bangsa Indonesia merupakan kebangsaan yang harus diimplementasikan dengan baik perannya melalui sikap kebangsaannya. Sikap tersebut selalu berkaitan dengan toleransi baik dalam beragama, perbedaan budaya, Bahasa, ras, suku dan lain sebagainya. Namun memang dalam beragama menjadi sikap dan pembahasan yang sensitive dan perlu detail sikap karena mencakup akidah dan keyakinan seseorang yang mana hal tersebut adalah pedoman hidup manusia.

            Sebagai pedoman hidup manusia, keyakinan seseorang perlu dijaga sebaik mungkin karena apabila sebuah pedoman kehilangan jati dirinya maka dapat rusak pula iman seseorang. Itulah sebabnya dalam toleransi beragama kita perlu memiliki sikap wara’ terhadap semua bentuk toleransi yang ditawarkan dan direalisasikan.

            Sikap wara’ bukanlah menjadi batasan yang akhirnya membuat seseorang dalam suatu umat beragama tidak mempunyai kebebasan baik dalam pergaulan berbeda agama, mempelajari agama lain dan sebagainya. Tetapi, wara’ dilakukan untuk menjaga umat dalam suatu agama, terutama umat Islam agar tetap menjaga tingkat keimanannya.

            Dari beberapa hal di atas dapat kita ketahui bahwa dalam melaksanakan perbuatan baik pun, contohnya toleransi dalam beragama, kita juga tetap harus memiliki batasan yang jelas supaya tidak terjerumus kepada hal-hal yang dapat merusak sesuatu yang sejak awal sudah menjadi pedoman.

            Oleh karena itu, dalam toleransi beragama, kita tetap perlu membedakan antara urusan duniawi dan hal-hal yang menyangkut akidah. Toleransi beragama tidak perlu dengan mengikuti ibadah suatu agama lain, merayakan hari besar agama lain, tetapi cukup dengan menghargai dan menghormati perbedaan tersebut sebagai suatu ilmu pengetahuan.

Penulis: Riris Rizki Maulida

Ditulis sebagai Tugas Mandiri mata kuliah Creative Writing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...