![]() |
| (Generate Image by Gemini AI) |
Indonesia merupakan negara yang di
dalamya menyimpan banyak keberagaman, salah satunya adalah keberagaman agama.
Perbedaan agama menciptakan berbagai
macam sikap seseorang dalam mengelola sebuah perbedaan tersebut menjadi suatu
hal yang dapat mempererat tali persaudaran sesama sebangsa. Salah satunya
adalah sikap toleransi.
Toleransi adalah sikap menghargai
dan menghormati suatu perbedaan sebagai wadah yang dapat menyatukan perbedaan
tersebut menjadi keberagaman yang indah
selama dalam batas tertentu. Dalam beragama, sikap toleransi dapat
dicerminkan dalam bentuk tidak mencemooh atau mengejek kepercayaan mereka,
menghormati ibadah mereka dan tidak memaksakan orang lain yang berbeda dengan
kita untuk mengikuti kepercayaan kita. Namun, seringkali toleransi dipraktikkan
tidak dalam batas wajarnya. Terkadang, berlindung di balik kata toleransi,
beberapa orang menyelipkan modus untuk kita mengikuti kepercayaan mereka.
Pada hakikatnya, Allah SWT tidak
melarang hamba-Nya untuk bersikap toleran terhadap kepercayaan agama lain,
bahkan justru hal tersebut diperintahkan-Nya. Tetapi, perintah toleransi juga
ditekankan untuk diberikan batasan supaya tidak menjadi berlebihan dan merusak
keimanan seseorang. Iman suatu umat merupakan hal terpenting dalam meyakini
sebuah agama atau kepercayaan, itulah mengapa dalam bertoleransi kita harus
memiliki batasan.
Batasan untuk melakukan toleransi
beragama adalah jangan sampai mencampuradukkan urusan duniawi dengan aqidah.
Sikap toleransi dalam beragama hanya cukup sampai dengan hal duniawi, sementara
aqidah adalah hal hyang harus benar-benar kita jaga agar tidak diporak-pondakan
oleh berbagai oknum mengatasnamakan toleransi untuk menyisipkan paham-paham
agamanya secara memaksa.
Contohnya saja pada zaman Nabi
Muhammad Saw, dimana Ketika kaum Quraisy pada saat itu menyetujui untuk percaya
pada keyakinan umat Islam dan bersedia untuk melakukan ibadah seorang muslim,
namun dengan timbal balik yang ditawarkan. Dimana jika kaum Quraisy bersedia
melakukan ibadah umat Islam, maka semua muslim juga bersedia untuk melaksanakan
ibadah kaum Quraisy. Sejak saat itulah Allah SWT menurunkan surah Al-Kafirun
yang menyatakan secara jelas “untukmu agamamu, untukku agamaku”, bahwa akidah
seseorang tidak bisa dibeli dengan apapun bahkan dengan bayaran akidah
sekalipun. Sebab, keimanan seseorang lebih utama dibandingkan dengan sikap
toleransi itu sendiri.
Toleransi diutamakan untuk
kemasalahatan manusia yang tinggal di dunia. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya
untuk bertoleransi sebagai bentuk menghargai sesama ciptaan-Nya. Sebab, manusia
diciptakan untuk menyembah Allah SWT dan mempercayai agama-Nya. Allah SWT juga
memberikan akal untuk manusia berpikir dan perbedaan agama yang ada merupakan
bentuk cerminan dari pola pikir manusia itu sendiri. Sebagai manusia yang masih
dalam jalan pikiran yang lurus, tugas kita adalah berusaha mendoakan mereka
supaya cepat kembali ke jalan yang sudah Allah SWT gariskan. Tentunya usaha dan
doa tersebut harus diiiringi dengan menghargai dan menghormati mereka supaya
merasa dirangkul dan tidak tersesat terlalu jauh.
Dengan adanya toleransi, kita juga
dapat menjadikannya sebagai alat ilmu pengetahuan untuk mempelajari sejauh mana
akal manusia berpikir. Kita dapat sembari belajar bagaimana mengelola pemahaman
kita mengenai perintah toleransi yang dimaksud. Sebab, seringkali kita temukan
di Masyarakat luas yang sudah berkubang dalam sikap toleransi itu sendiri di
suatu hubungan pertemanan, lingkungan dan yang lain sebagainya, dimana saking
dekatnya dalam hubungan tersebut maka menjadikan beberapa kata penyebutan seperti
“tuhanmu” kepada pemeluk agama lain dan mengatasnamakan hal tersebut sebagai
sebuah toleransi yang diaplikasikan dalam bentuk bahasa.
Dalam agama Islam, tuhan kita adalah
Allah SWT dan Ia esa, yang artinya satu serta tidak ada sesiapapun yang satu
derajat dengan-Nya. Sementara Kata “tuhanmu” yang dilontarkan kepada pemeluk
agama lain bisa menjadi sebuah kata yang mengartikan bahwa ada tuhan selain
Allah SWT. Hal inilah yang perlu diperhatikan untuk umat Islam, yang mana
dengan ini umat Islam dapat menggantinya dengan cukup menyebut nama yang agama
lain percaya, tidak perlu mencantumkan embel-embel “tuhanmu”. Sebab, ditakutkan
hal ini menjadi bahasa lain dari meyakini bahwa ada tuhan selain Allah SWT.
Begitu juga dengan menghormati
perayaan-perayaan hari besar agama lain, kita cukup mengetahui dan menghargai
umat dari agama lain merayakan hari besarnya, tetapi kita tidak perlu
berkontribusi untuk ikut merayakannya juga. Sebab kita harus membatasi toleransi
beragama ke dalam batas duniawi saja tidak perlu menyangkut akidah.
Akidah atau keyakinan menjadi
penopang utama dalam menjunjung tinggi tingkat keimanan seseorang dan iman
seseorang dapat dilihat dari sikap yang dimilikinya. Yakni sikap yang bisa
membedakan urusan duniawi dan urusan ukhrawi supaya tidak tercampur menjadi
satu tetapi perlu diseimbangkan. Sehingga, tidak berat sebelah dalam bertahan
hidup di dunia dan tepat mempersiapkan untuk akhirat.
Contoh sikap yang dapat menjadi
bekal bertahan hidup di dunia adalah dengan menyelaraskan kebiasaan di dalam
diri kita dengan akidah. Itulah mengapa dulu pembelajaran madrasah mengenai
akidah dan akhlak tidak dapat dipisahkan. Sebab, akhlak merupakan cerminan dari
akidah seseorang dan akidah memperlihatkan tingkat keimanan.
Bagaimana cara kita menyelaraskan
akhlak dan akidah kita? Salah satunya adalah dengan bersikap mumayyiz, yaitu
mampu membedakan yang baik dan buruk. Kita harus bisa membedakan dan menelaah
setiap sikap atau sifat yang kita punya apakah hal tersebut akan memberikan
dampak yang baik atau justru malah
memperburuk sesuatu. Karena sesuatu yang kita lakukan selalu memberikan dampak
atau timbal balik baik sampak positif ataupun negative.
Sikap mumayyiz juga dapat
mencerminkan pola pikir seseorang. Mampu membedakan yang baik dan buruk
mencerminkan pola pikir seseorang tentang kebijaksanaannya dalam memutuskan
sesuatu. Dalam hal ini, seorang mumayyiz juga akan membentuk sikap wara’ dalam
dirinya.
Wara’ adalah kewaspadaan atau
kehati-hatian dalam bersikap atau menyikapi sesuatu. Salah satunya adalah dalam
bertoleransi. Dalam toleransi beragama kita juga harus memperhatikan apakah
sikap tersebut dapat mengurangi Tingkat keimanan kita atau tidak. Karena
seiring berkembangnya zaman, sikap toleransi dan fomo coba-coba seringkali
sulit dibedakan. Ada beberapa oknum yang ingin merasakan bagaimana cara
beribadah agama lain sehingga mengikuti untuk beribadah dengan cara agama lain
dan mengatasnamakan toleransi. Padahal, pada hakikatnya, toleransi adalah
menghormati dan menghargai bukan mengikuti, apalagi dalam hal beribadah yang
mana hal ini akan sangat jelas mempengaruhi tebal tipisnya keimanan seseorang.
Toleransi beragama memang sudah
diperintahkan pada pancasila sila pertama, yakni “ketuhanan yang maha esa”.
Dengan eksistensi tuhan yang esa, hal itu seharusnya menjadikan perbedaan yang
ada pada komunitas manusia di dunia untuk bersatu dan menghargai serta
menghormati keberagaman tersebut sebagai pembelajaran mengenai sudut pandang
yang luas. Sebab, sikap toleransi selain mencerminkan tingkat keimanan
seseorang juga memperlihatkan nilai-nilai Pancasila yang tertanam dalam dirinya
sebagai bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia merupakan
kebangsaan yang harus diimplementasikan dengan baik perannya melalui sikap
kebangsaannya. Sikap tersebut selalu berkaitan dengan toleransi baik dalam
beragama, perbedaan budaya, Bahasa, ras, suku dan lain sebagainya. Namun memang
dalam beragama menjadi sikap dan pembahasan yang sensitive dan perlu detail
sikap karena mencakup akidah dan keyakinan seseorang yang mana hal tersebut
adalah pedoman hidup manusia.
Sebagai pedoman hidup manusia,
keyakinan seseorang perlu dijaga sebaik mungkin karena apabila sebuah pedoman
kehilangan jati dirinya maka dapat rusak pula iman seseorang. Itulah sebabnya
dalam toleransi beragama kita perlu memiliki sikap wara’ terhadap semua bentuk
toleransi yang ditawarkan dan direalisasikan.
Sikap wara’ bukanlah menjadi batasan
yang akhirnya membuat seseorang dalam suatu umat beragama tidak mempunyai
kebebasan baik dalam pergaulan berbeda agama, mempelajari agama lain dan
sebagainya. Tetapi, wara’ dilakukan untuk menjaga umat dalam suatu agama,
terutama umat Islam agar tetap menjaga tingkat keimanannya.
Dari beberapa hal di atas dapat kita
ketahui bahwa dalam melaksanakan perbuatan baik pun, contohnya toleransi dalam
beragama, kita juga tetap harus memiliki batasan yang jelas supaya tidak
terjerumus kepada hal-hal yang dapat merusak sesuatu yang sejak awal sudah
menjadi pedoman.
Oleh karena itu, dalam toleransi
beragama, kita tetap perlu membedakan antara urusan duniawi dan hal-hal yang
menyangkut akidah. Toleransi beragama tidak perlu dengan mengikuti ibadah suatu
agama lain, merayakan hari besar agama lain, tetapi cukup dengan menghargai dan
menghormati perbedaan tersebut sebagai suatu ilmu pengetahuan.
Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Mandiri mata kuliah Creative Writing

Tidak ada komentar:
Posting Komentar