Senin, 05 Januari 2026

EMPAT TEORI MOTIVASI

 

(Generate Image by Gemini AI)

A.    TEORI HIRARKI KEBUTUHAN (A. Maslow)

Abraham Maslow meyakini bahwa pada dasarnya manusia itu baik dan menunjukkan bahwa individu memiliki dorongan untuk berkembang dengan potensinya. Sistem hirarki kebutuhan, dikembangkan oleh Maslow, merupakan lima kategori motif manusia yang disusun dari kebutuhan yang paling rendah yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (Wallace, Goldstein dan Nathan, 2007: 277). Kelima tingkat kebutuhan sebagaimana diuraikan oleh Hamner dan Organ ditunjukkan dalam tingkatan kebutuhan berikut:

1.      Kebutuhan Fisiologis

Makanan, air, seks, tempat perlindungan

2.      Kebutuhan Rasa aman

Perlindungan terhadap bahaya, ancaman, dan jaminan keamanan serta kepastian akan masa depan.

3.      Kebutuhan Sosial

Memberi dan menerima cinta, persahabatan, kasih saying, harta milik, pergaulan, dukungan. Jika dua tingkat kebutuhan pertama terpenuhi seseorang menjadi sadar akan perlunya kehadiran teman

4.      Kebutuhan Harga Diri

Kebutuhan akan prestasi, kecukupan, kekuasaan, kebebasan, Status, pengakuan, penghargaan, dan martabat. Intinya hal ini merupakan kebutuhan untuk kemandirian atau kebebasan.

5.      Kebutuhan Aktualisasi Diri

Kebutuhan untuk menyadari kemampuan seseorang untuk kelanjutan pengembangan diri dan keinginan untuk menjadi lebih dan mampu untuk menjadi orang. (Kondisi kehidupan industri modern hanya memberi sedikit kesempatan untuk kebutuhan mengaktualisasikan diri untuk menemukan pernyataan) (Hamner dan Organ, 2005: 138).

Dua dalil utama dapat disimpulkan dari Teori Hirarki Kebutuhan Maslow yaitu:

1.      Kebutuhan kepuasan bukanlah motivator suatu perilaku,

2.      Bila kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi maka, kebutuhan yang lebih tinggi akan menjadi penentu perilakunya (Hamner dan Organ, 2005: 139).

Jika pekerjaan telah memenuhi beberapa kebutuhan yang lebih tinggi maka hal tersebut akan menentukan motivasi kerja. Tingkat aspirasi sangat berhubungan erat dengan hirarki kebutuhan, dan sikap akan menentukan jalan yang akan ditempuh seseorang untuk pencapaian kebutuhannya (Haiman, 2003, 219). Kategori kebutuhan yang paling pokok yang dikemukakan Maslow adalah aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri dan memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Referensi:

Andjarwati, T. (2015). Motivasi dari sudut pandang teori hirarki kebutuhan Maslow, teori dua faktor Herzberg, teori xy Mc Gregor, dan teori motivasi prestasi Mc Clelland. JMM17: Jurnal Ilmu ekonomi dan manajemen, 2(01).

B.     Teori Tiga Motif Sosial (D. McClelland)

Berdasarkan penelitian Lymann, David McClelland menyatakan dalam teori kebutuhannya yang dikenal sebagai tiga motif sosial. Adapun ketiga motif sosial tersebut adalah:

1.      Motif Bersahabat (Need for Affiliation-NAch)

Individu dengan motivasi afiliatif (motif bersahabat) dan mempunyai hubungan persahabatan cenderung untuk selalu berinteraksi dengan orang lain. Dorongan bersahabat menghasilkan motivasi dan butuh untuk disukai serta hidup dalam suasana populer. Orang-orang ini adalah kelompok bermain, yakni orang yang senang bermain (homo ludens- makhluk bermain).

Menurut David McClelland kebutuhan akan persahabatan selalu muncul pada setiap manusia, ada yang mempunyai skala tinggi, menengah/ sedang dan ada pula yang skala rendah. Justru kelebihan McClelland dalam hal ini adalah pada pengukuran yang terkuantifikasi untuk masing-masing motif.

Adapun ciri-cirt individu vang memiliki motif bersahabat adalah sebagai berikut:

·         Minat akan terjalinnya persahabatan

·         Sangat khawatir akan terputusnya persahabatan

·         Suka berkerjasama dan bergotong-royong

·         Toleransi individu sangat tebal

·         Suka meminta persetujuan

·         Bangga kalau diterima masuk sebagai anggota kelompok

·         Pekerjaan akan lebih senang kalau dengan orang lain

·         Risih kalau menyendiri

·         Setia pada keputusan-keputusan kelompok

2.      Motif Berkuasa (Need for Power-N Pow)

Individu dengan N-Pow tinggi adalah orang yang termotivasi oleh otoritras. Dorongan ini menghasilkan sebuah kebutuhan untuk menjadi berpengaruh di antara orang lain, efektif dan membuat sebab akibat suatu kejadian. Motif ini melahirkan kebutuhan yang kuat untuk memimpin dan biasanya ada keinginan kuat untuk melaksanakan gagasan pribadi. Juga merupakan motivasi dan kebutuhan untuk menambah status personal dan prestis. Motif berkuasa penting, karena untuk mewujudkan prestasi dibutuhkan kekuasaan.

Menurut McClelland, individu yang mempunyai motif berkuasa akan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

·         Menunjukkan akan minat kekuasaan

·         Suka mempengaruhi orang lain

·         Mengendalikan orang lain

·         Peka terhadap struktur dalam suatu kelompok

·         Mencoba membantu orang lain meskipun tidak diminta.

·         Berbuat sesuatu yang menimbulkan perasaan kuat

·         Suka mengatur

·         Disipilinnya tinggi

·         Ingin dihormati, diakui, dan dihargai

·         Perasaannya mudah tersentuh

·         Berpendirian teguh

·         Peka terhadap hubungan antar pribadi

3.      Motif Berprestasi (Need for Achievement-NAch)

Jika diperhatikan cirri-ciri yang dikemukakan oleh David McClelland tentang Need for Achievement (N Ach), maka dapat disimpulkan bawa orang-orang yang terkena virus N-Ach akan menjadi manusia yang kompetitif. Manusia yang sempurna segalanya, pribadi yang utuh dan paripurna.

Orang dengan N-Ach tinggi adalah orang yang termotivasi oleh prestasi gemilang. Oleh karena itu selalu mencari prestasi, seorang yang realistis tapi senang akan tujuan yang penuh tantangan dan selalu mencari kerja. Ada keinginan keras untuk mendapatkan umpan balik guna mendapatkan prestasi dan kemajuan.

Adapun ciri-ciri Need for Achievement antara lain:

·         Suka berkompetisi dengan standar kemampuan pribadi

·         Ingin memperoleh bagian lebih banyak

·         Keunggulan merupakan hal yang memuaskan

·         Suka menyibukkan diri dalam kegiatan pribadi

·         Peka terhadap permasalahan

·         Suka terlibat pembicaraan penting

·         Pemiklran yang akan datang lebih mendominasi

·         Berani mengambil resiko

·         Rasa tanggungjawab individu sangat tinggi

·         Tekadnya kuat terhadap keinginan pribadi

·         Terbuka dan sportif

·         Sukses kelompok dianggap sukses pribadi

·         Suka mengatasi masalah secara unik

Motif bersahabat (need for affiliation), pada hakikatnya setara dengan kebutuhan akan kasih sayang pada teori kebutuhan menurut Maslow, kebutuhan akan harga diri setara dengan kebutuhan akan kekuasaan (need for poiver), sedangkan kebutuhan akan aktualisasi diri setara dengan motif berprestasi (need for achievement) pada tiga motif sosial. Sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:

a.       Motif Bersahabat = Kebutuhan Kasih Sayang

b.      Motif Berkuasa = Kebutuhan Harga Diri

c.       Motif Berprestasi = Kebutuhan Aktualisasi Diri

Referensi:

McCLELLAND, P. T. M. S. D. MANAJEMEN DIRI DAN KAJfcVN PSIKOLOGI: PERSPEKTIF TIGA MOTIF SOSUL DAVID McCLELLAND.

C.    Teori Dua Faktor (Frederick Herzberg)

Menurut    Frederick    Herzberg    yang    dikutip    oleh Hasibuan    (2014:228), mengemukakan Herzberg’s  two  factors  motivation  theory atau  teori  motivasi  dua faktor  atau  teori  motivasi  kesehatan  atau  faktor  higienis.  Menurut  teori  ini  motivasi yang  ideal  yang  dapat  merangsang  usaha  adalah  peluang  untuk  mengembangkan kemampuan. Herzberg  menyatakan  bahwa  orang  dalam  melaksanakan  pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor yang merupakan kebutuhan, yaitu:

1.      Faktor Higienis (Hygiene Factor/Maintenance Factors)

Maintenance   factor adalah  faktor   pemeliharaan   yang   berhubungan   dengan hakikat   manusia   yang   ingin   memperoleh   ketentraman   badaniah.   Kebutuhan kesehatan  ini  menurut  Herzberg  merupakan  kebutuhan  yang  berlangsung  terus-menerus,  karena  kebutuhan  ini  akan  kembali  pada  titik  nol  setelah  dipenuhi.

Misalnya  orang  lapar  akan  makan,  kemudian  lapar  lagi,  lalu  makan  lagi  dan seterusnya. Faktor pemeliharaan ini meliputi hal-hal:

a.       Gaji (salaries)

Menurut Mardi (2014:107) gaji adalah “sebuah bentuk pembayaran atau sebuah hak  yang  diberikan  oleh  sebuah perusahaan  atau  instansi  kepada  pegawai  atau karyawan”.

b.      Kondisi kerja (work condition)

Menurut  Mangkunegara  (2013:105)  kondisi  kerja  adalah  “semua  aspek  fisik kerja,  psikologis  kerja  dan  peraturan  kerja  yang  dapat  mempengaruhi  kepuasan kerja dan pencapaian produktivitas kerja”.

c.       Kebijaksanaan dan administrasi perusahaan (company policy and administrasion)

Menurut  Siagian  (2012:290)  kebijaksanaan  dan  administrasi  Perusahaan adalah “tingkat  kesesuaian  yang dirasakan tenagakerja terhadap semua kebijakan dan peraturan yang berlaku dalam Perusahaan.”

d.      Hubungan antar pribadi (interpersonal relation)

Menurut  Siagian  (2012:290)  hubungan  antar  pribadi  adalah “tingkat kesesuaian yang dirasakan dalam berinteraksi antar tenaga kerja lain”

e.       Kualitas supervisi (quality supervisor)

Menurut Siagian (2012:290) kualitas supervisi adalah “tingkat kewajaran supervisi yang dirasakan oleh tenaga kerja.”

Hilangnya  Faktor  pemeliharaan  dapat  menyebabkan  timbulnya  ketidakpuasan (dissatisfiers  =faktor  higienis/hygiene  factor)  dan  tingkat  absensi  serta turn over karyawan  akan  meningkat.  Faktor-faktor  pemeliharaan  perlu  mendapatkan  perhatian yang  wajar  dari  pimpinan,  agar  kepuasan  dan  kegairahan  bekerja  bawahan  dapat ditingkatkan.

2.      Faktor Motivasi (Motivation factors)

Motivation  factors adalah  menyangkut  kebutuhan  psikologis.  Kebutuhan  ini meliputi  serangkaian  kondisi  intrinsik,  Kepuasaan  pekerjaan  (job  content)  yangapabila  terdapat  dalam  pekerjaan  akan  menggerakan  tingkat  motivasi  yang  kuat,yang   dapat   menghasilkan   prestasi   pekerjaanyang   baik.   Faktor   motivasi   ini berhubungan  dengan  penghargaan  terhadap  pribadi  yang  secara  langsung  berkaitandengan pekerjaan. Faktor ini dinamakansatisfiersyang meliputi :

a.       Prestasi (achievement)

Menurut  Hasibuan  (2014:160)  prestasi,  “prestasi  kerja  adalah  suatu  hasil  kerjayang  dicapai  seseorang  dalam  melaksanakan  tugas-tugasnya  atas  kecakapan,usaha dan kesempatan.”

b.      Pengakuan (recognition)

Menurut Siagian (2012:290) pengakuan adalah “besar kecilnya pengakuan yang diberikan kepada tenaga kerja atas hasil kerja.”

c.       Pekerjaan itu sendiri (the work itself)

Menurut  Siagian  (2012:290)  pekerjaan  itu  sendiri  adalah  “berat ringannya tantangan yang dirasakan tenaga kerja dari pekerjaannya.”

d.      Tanggung jawab (responbility)

Menurut  Siagian  (2012:290)  tanggung  jawab  adalah “besar kecilnya yang dirasakan terhadap tanggungjawab diberikan kepada seorang tenaga kerja.”

e.       Pengembangan potensi individu (advancement)

Menurut  Siagian  (2012:290)  pengembangan  potensi  individu  adalah “besar kecilnya kemungkinan tenaga kerja berpeluang maju dalam pekerjaannya seperti  naik pangkat.”

Menurut Robbins dan Coulter (2010:112), teori dua faktor Frederick Herzberg mengusulkan bahwa faktor-faktor intrinsik terkait dengan kepuasan kerja, sedangkan faktor-faktor ekstrinsik berhubungan dengan ketidakpuasan kerja. Herzberg ingin mengetahui ketika seseorang merasa sangat nyaman (puas) / tidak nyaman (tidak puas) dengan pekerjaan mereka. Ia menyimpulkan bahwa jawaban yang diberikan orang-orang saat mereka merasa nyaman dengan pekerjaan mereka secara signifikan berbeda dari jawaban yang secara konsisten berkaitan dengan ketidakpuasan kerja.

Selain itu, Herzberg yakin data menunjukkan bahwa lawan dari kepuasan bukanlah ketidakpuasan, seperti yang selama ini diyakini. Menghilangkan karakteristik yang tidak memuaskan dari suatu pekerjaan belum tentu membuat pekerjaan itu lebih memuaskan (atau memotivasi). Herzberg percaya bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan kerja terpisah dan berbeda dari faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja.

Oleh karena itu, para manajer yang berusaha untuk menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja sebagai faktor higienis (hygiene), ketika faktor-faktor ini memadai, orang tidak akan puas, tetapi mereka juga tidak akan tidak puas (atau termotivasi). Untuk memotivasi orang, Herzberg menyarankan untuk menekankan motivator.

Referensi:

Andriani, M., & Widiawati, K. (2017). Penerapan motivasi karyawan menurut teori dua faktor Frederick Herzberg pada PT Aristika Kreasi Mandiri. Jurnal Administrasi Kantor, 5(1), 83-รข.

D.    Teori E-R-C (Clayion Elderier)

Teori ERG (Existence, Relatedness, and Growth) dariClayton Alderfer. Teori ini merupakan penyempurnaan dari teori Hirarki Kebutuhan Maslow. Alderfer mengangap bahwa teori Maslow kurang praktis bila dipraktekkan dalam dunia nyata secara empiric, karena teori ERG lebih sederhana dan menggabungkan beberapa sifat yang hampir sama kedalam satu macam kebutuhan.

Teori ERG juga memiliki dimensi frustrasi – regresi. Maslow menegaskan, bahwa seseorang akan tetap tinggal pada tingkat kebutuhan tertentu sampai kebutuhan tersebut terpuaskan. Alderfer membantah pendapat tersebut dengan menyatakan, bahwa ketika kebutuhan yang lebih tinggi mengalami frustrasi, dorongan individual pada tingkat kebutuhan yang lebih rendah akan meningkat. Sebagai Contoh, seseorang yang mengalami kegagalan untuk memenuhi kebutuhan interaksi sosial mungkin dorongan untuk mendapatkan uang lebih banyak akan meningkat. Jadi frustrasi dapat mengarah pada regresi terhadap kebutuhan yang lebih rendah. (Robbins, 1996).

Menurut teori ini terdapat tiga kelompok kebutuhan yang utama, yaitu:

1.      Kebutuhan akan keberadaan (Existency Needs)

Existence Needs berhubungan dengan kebutuhan dasar yaitu kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor seperti makanan, udara, imbalan, rasa aman berkelanjutan, dan kebutuhan dasar lainnya. Kelompok eksistensi dianggap sebagai kebutuhan dasar untuk eksis atau berada. Dalam teori hirarki Maslow, kebutuhan ini masuk pada kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman.

2.      Kebutuhan akan Afiliasi (Relatedness Needs)

Relatedness Needs yaitu kebutuhan yang dipuaskan oleh hubungan sosial dan hubungan antar pribadi yang bermanfaat, sebagai kebutuhan berkaitan dengan pentingnya pemeliharaan hubungan interpersonal dan juga kebutuhan untuk meningkatkan harga diri, status sosial dan reputasi baik yang dimiliki. Dimana kebutuhan akan afiliasi dan peningkatan akan harga diri dimasukkan dalam satu kebutuhan.

3.      Kebutuhan akan perkembangan atau kemajuan (Growth Needs)

Growth Needs yaitu kebutuhan dimana individu merasa puas dengan membuat kontribusi yang kreatif dan produktif demi kemajuan pribadi atau organisasi yang diikutinya. Pertumbuhan merupakan kebutuhan untuk berkembang secara intelektual yang berarti identik dengan kebutuhan aktualisasi diri seperti yang ungkapkan oleh Maslow (Kriyantono, 2006).

Teori ERG dari Alderfer mempunyai sifat beberapa pemenuhan kebutuhan yaitu:

1.      Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu (Need Frustration), makin besar pula keinginan untuk memuaskannya (Strength of Desires)

2.      Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi, semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan (Need Satisfaction)

3.      Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang lebih mendasar. Pada intinya, seseorang harus bisa memenuhi kebutuhan yang berada dibawahnya secara utuh baru bisa melanjutkan pemenuhan kebutuhan yang ada diatasnya.

Referensi:

Mario, T., & Silviandari, I. A. (2013). Pemenuhan Kebutuhan Untuk Bergabung Dalam Komunitas Cornering Malang (Analisis Teori Clayton Alderfer). Academia. Edu, 1-24.

PERBEDAAN EMPAT TEORI TERSEBUT:

A.    Berdasarkan Pengelompokan Kebutuhan:

1.      Teori Hirarki Kebutuhan (A. Maslow)

Lima tingkat kebutuhan: fisiologis, rasa aman, sosial, harga diri, aktualisasi diri.

2.      Teori Tiga Motif Sosial (McClelland)

Tiga motif sosial: bersahabat (afiliatif), berkuasa, berprestasi.

3.      Teori Dua Faktor (Herzberg)

Dua faktor: faktor higienis (ekstrinsik) dan faktor motivasi (intrinsik).

4.      Teori ERG Alderfer

Tiga kelompok kebutuhan: keberadaan (existence), afiliasi (relatedness), perkembangan (growth).

B.     Struktur Kebutuhan

1.      Teori Hirarki Kebutuhan (A. Maslow)

Hirarki linear, kebutuhan harus dipenuhi dari bawah ke atas

2.      Teori Tiga Motif Sosial (McClelland)

Tidak berhirarki, ketiga motif bisa ada bersamaan dan bervariasi intensitasnya

3.      Teori Dua Faktor (Herzberg)

Dua faktor berdiri sendiri, faktor higienis mencegah ketidakpuasan, faktor motivasi meningkatkan kepuasan

4.      Teori ERG Alderfer

Fleksibel, kebutuhan bisa dipenuhi secara bersamaan, ada mekanisme frustrasi-regresi (kebutuhan atas gagal dipenuhi, kembali ke kebutuhan bawah)

C.    Fokus Motivasi

1.      Teori Hirarki Kebutuhan (A. Maslow)

Pemenuhan kebutuhan dari yang paling dasar sampai aktualisasi diri.

2.      Teori Tiga Motif Sosial (McCelland)

Motivasi berdasarkan motif sosial yang berbeda: hubungan sosial, kekuasaan, dan prestasi.

3.      Teori Dua Faktor (Herzberg)

Memisahkan faktor yang menyebabkan kepuasan dan ketidakpuasan kerja.

4.      Teeori E-R-G (Clayiton Alderfer)

Memadukan kebutuhan dasar dan sosial serta perkembangan, lebih praktis dan empiris dibanding Maslow.

D.    Konsep Motivasi

1.      Teori Hirarki Kebutuhan (A. Maslow)

Kebutuhan yang lebih tinggi menjadi motivator setelah kebutuhan bawah terpenuhi

2.      Teori Tiga Motif Sosial (McCelland)

Motivasi muncul dari motif sosial yang berbeda dan dapat diukur intensitasnya.

3.      Teori Dua Faktor (Herzberg)

Menghilangkan ketidakpuasan tidak sama dengan memotivasi; motivasi berasal dari faktor intrinsic.

4.      Teori E-R-G (Clayiton Alderfer)

Kebutuhan yang tidak terpenuhi menyebabkan dorongan lebih besar, frustrasi pada kebutuhan atas bisa menyebabkan regresi ke kebutuhan bawah.

Penulis: Riris Rizki Maulida

Ditulis sebagai Tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Manajemen & Strategi Dakwah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...