![]() |
| (Generate Image by Gemini AI) |
A.
TEORI HIRARKI KEBUTUHAN (A. Maslow)
Abraham Maslow meyakini bahwa pada dasarnya manusia
itu baik dan menunjukkan bahwa individu memiliki dorongan untuk berkembang
dengan potensinya. Sistem hirarki kebutuhan, dikembangkan oleh Maslow,
merupakan lima kategori motif manusia yang disusun dari kebutuhan yang paling
rendah yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang
lebih tinggi (Wallace, Goldstein dan Nathan, 2007: 277). Kelima tingkat
kebutuhan sebagaimana diuraikan oleh Hamner dan Organ ditunjukkan dalam
tingkatan kebutuhan berikut:
1. Kebutuhan
Fisiologis
Makanan,
air, seks, tempat perlindungan
2. Kebutuhan
Rasa aman
Perlindungan
terhadap bahaya, ancaman, dan jaminan keamanan serta kepastian akan masa depan.
3. Kebutuhan
Sosial
Memberi
dan menerima cinta, persahabatan, kasih saying, harta milik, pergaulan,
dukungan. Jika dua tingkat kebutuhan pertama terpenuhi seseorang menjadi sadar
akan perlunya kehadiran teman
4. Kebutuhan
Harga Diri
Kebutuhan
akan prestasi, kecukupan, kekuasaan, kebebasan, Status, pengakuan, penghargaan,
dan martabat. Intinya hal ini merupakan kebutuhan untuk kemandirian atau
kebebasan.
5. Kebutuhan
Aktualisasi Diri
Kebutuhan untuk
menyadari kemampuan seseorang untuk kelanjutan pengembangan diri dan keinginan
untuk menjadi lebih dan mampu untuk menjadi orang. (Kondisi kehidupan industri
modern hanya memberi sedikit kesempatan untuk kebutuhan mengaktualisasikan diri
untuk menemukan pernyataan) (Hamner dan Organ, 2005: 138).
Dua dalil utama dapat disimpulkan dari
Teori Hirarki Kebutuhan Maslow yaitu:
1. Kebutuhan
kepuasan bukanlah motivator suatu perilaku,
2. Bila
kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi maka, kebutuhan yang lebih tinggi
akan menjadi penentu perilakunya (Hamner dan Organ, 2005: 139).
Jika pekerjaan telah memenuhi beberapa
kebutuhan yang lebih tinggi maka hal tersebut akan menentukan motivasi kerja.
Tingkat aspirasi sangat berhubungan erat dengan hirarki kebutuhan, dan sikap
akan menentukan jalan yang akan ditempuh seseorang untuk pencapaian
kebutuhannya (Haiman, 2003, 219). Kategori kebutuhan yang paling pokok yang
dikemukakan Maslow adalah aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk menjadi versi
terbaik dari dirinya sendiri dan memaksimalkan potensi yang dimiliki.
Referensi:
Andjarwati, T. (2015). Motivasi dari sudut
pandang teori hirarki kebutuhan Maslow, teori dua faktor Herzberg, teori xy Mc
Gregor, dan teori motivasi prestasi Mc Clelland. JMM17: Jurnal Ilmu ekonomi dan
manajemen, 2(01).
B. Teori
Tiga Motif Sosial (D. McClelland)
Berdasarkan penelitian Lymann, David McClelland
menyatakan dalam teori kebutuhannya yang dikenal sebagai tiga motif sosial. Adapun
ketiga motif sosial tersebut adalah:
1. Motif
Bersahabat (Need for Affiliation-NAch)
Individu
dengan motivasi afiliatif (motif bersahabat) dan mempunyai hubungan persahabatan
cenderung untuk selalu berinteraksi dengan orang lain. Dorongan bersahabat
menghasilkan motivasi dan butuh untuk disukai serta hidup dalam suasana
populer. Orang-orang ini adalah kelompok bermain, yakni orang yang senang
bermain (homo ludens- makhluk bermain).
Menurut
David McClelland kebutuhan akan persahabatan selalu muncul pada setiap manusia,
ada yang mempunyai skala tinggi, menengah/ sedang dan ada pula yang skala
rendah. Justru kelebihan McClelland dalam hal ini adalah pada pengukuran yang
terkuantifikasi untuk masing-masing motif.
Adapun
ciri-cirt individu vang memiliki motif bersahabat adalah sebagai berikut:
·
Minat akan terjalinnya persahabatan
·
Sangat khawatir akan terputusnya
persahabatan
·
Suka berkerjasama dan bergotong-royong
·
Toleransi individu sangat tebal
·
Suka meminta persetujuan
·
Bangga kalau diterima masuk sebagai
anggota kelompok
·
Pekerjaan akan lebih senang kalau dengan
orang lain
·
Risih kalau menyendiri
·
Setia pada keputusan-keputusan kelompok
2. Motif
Berkuasa (Need for Power-N Pow)
Individu
dengan N-Pow tinggi adalah orang yang termotivasi oleh otoritras. Dorongan ini
menghasilkan sebuah kebutuhan untuk menjadi berpengaruh di antara orang lain,
efektif dan membuat sebab akibat suatu kejadian. Motif ini melahirkan kebutuhan
yang kuat untuk memimpin dan biasanya ada keinginan kuat untuk melaksanakan
gagasan pribadi. Juga merupakan motivasi dan kebutuhan untuk menambah status
personal dan prestis. Motif berkuasa penting, karena untuk mewujudkan prestasi
dibutuhkan kekuasaan.
Menurut
McClelland, individu yang mempunyai motif berkuasa akan mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut:
·
Menunjukkan akan minat kekuasaan
·
Suka mempengaruhi orang lain
·
Mengendalikan orang lain
·
Peka terhadap struktur dalam suatu
kelompok
·
Mencoba membantu orang lain meskipun tidak
diminta.
·
Berbuat sesuatu yang menimbulkan perasaan
kuat
·
Suka mengatur
·
Disipilinnya tinggi
·
Ingin dihormati, diakui, dan dihargai
·
Perasaannya mudah tersentuh
·
Berpendirian teguh
·
Peka terhadap hubungan antar pribadi
3. Motif
Berprestasi (Need for Achievement-NAch)
Jika
diperhatikan cirri-ciri yang dikemukakan oleh David McClelland tentang Need for
Achievement (N Ach), maka dapat disimpulkan bawa orang-orang yang terkena virus
N-Ach akan menjadi manusia yang kompetitif. Manusia yang sempurna segalanya,
pribadi yang utuh dan paripurna.
Orang
dengan N-Ach tinggi adalah orang yang termotivasi oleh prestasi gemilang. Oleh
karena itu selalu mencari prestasi, seorang yang realistis tapi senang akan
tujuan yang penuh tantangan dan selalu mencari kerja. Ada keinginan keras untuk
mendapatkan umpan balik guna mendapatkan prestasi dan kemajuan.
Adapun
ciri-ciri Need for Achievement antara lain:
·
Suka berkompetisi dengan standar kemampuan
pribadi
·
Ingin memperoleh bagian lebih banyak
·
Keunggulan merupakan hal yang memuaskan
·
Suka menyibukkan diri dalam kegiatan
pribadi
·
Peka terhadap permasalahan
·
Suka terlibat pembicaraan penting
·
Pemiklran yang akan datang lebih
mendominasi
·
Berani mengambil resiko
·
Rasa tanggungjawab individu sangat tinggi
·
Tekadnya kuat terhadap keinginan pribadi
·
Terbuka dan sportif
·
Sukses kelompok dianggap sukses pribadi
·
Suka mengatasi masalah secara unik
Motif bersahabat (need for affiliation),
pada hakikatnya setara dengan kebutuhan akan kasih sayang pada teori kebutuhan
menurut Maslow, kebutuhan akan harga diri setara dengan kebutuhan akan
kekuasaan (need for poiver), sedangkan kebutuhan akan aktualisasi diri
setara dengan motif berprestasi (need for achievement) pada tiga motif
sosial. Sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Motif
Bersahabat = Kebutuhan Kasih Sayang
b. Motif
Berkuasa = Kebutuhan Harga Diri
c. Motif
Berprestasi = Kebutuhan Aktualisasi Diri
Referensi:
McCLELLAND, P. T. M. S. D. MANAJEMEN DIRI
DAN KAJfcVN PSIKOLOGI: PERSPEKTIF TIGA MOTIF SOSUL DAVID McCLELLAND.
C. Teori
Dua Faktor (Frederick Herzberg)
Menurut
Frederick Herzberg yang
dikutip oleh Hasibuan (2014:228), mengemukakan Herzberg’s two
factors motivation theory atau teori
motivasi dua faktor atau
teori motivasi kesehatan
atau faktor higienis.
Menurut teori ini
motivasi yang ideal yang
dapat merangsang usaha
adalah peluang untuk
mengembangkan kemampuan. Herzberg
menyatakan bahwa orang
dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor yang
merupakan kebutuhan, yaitu:
1. Faktor
Higienis (Hygiene Factor/Maintenance Factors)
Maintenance factor adalah faktor
pemeliharaan yang berhubungan
dengan hakikat manusia yang
ingin memperoleh ketentraman
badaniah. Kebutuhan kesehatan ini
menurut Herzberg merupakan
kebutuhan yang berlangsung
terus-menerus, karena kebutuhan
ini akan kembali
pada titik nol
setelah dipenuhi.
Misalnya orang
lapar akan makan,
kemudian lapar lagi,
lalu makan lagi
dan seterusnya. Faktor pemeliharaan ini meliputi hal-hal:
a. Gaji
(salaries)
Menurut
Mardi (2014:107) gaji adalah “sebuah bentuk pembayaran atau sebuah hak yang
diberikan oleh sebuah perusahaan atau
instansi kepada pegawai
atau karyawan”.
b. Kondisi
kerja (work condition)
Menurut Mangkunegara
(2013:105) kondisi kerja
adalah “semua aspek
fisik kerja, psikologis kerja
dan peraturan kerja
yang dapat mempengaruhi
kepuasan kerja dan pencapaian produktivitas kerja”.
c. Kebijaksanaan
dan administrasi perusahaan (company policy and administrasion)
Menurut Siagian
(2012:290) kebijaksanaan dan
administrasi Perusahaan adalah “tingkat kesesuaian
yang dirasakan tenagakerja terhadap semua kebijakan dan peraturan yang berlaku
dalam Perusahaan.”
d. Hubungan
antar pribadi (interpersonal relation)
Menurut Siagian
(2012:290) hubungan antar
pribadi adalah “tingkat kesesuaian
yang dirasakan dalam berinteraksi antar tenaga kerja lain”
e. Kualitas
supervisi (quality supervisor)
Menurut
Siagian (2012:290) kualitas supervisi adalah “tingkat kewajaran supervisi yang
dirasakan oleh tenaga kerja.”
Hilangnya
Faktor pemeliharaan dapat
menyebabkan timbulnya ketidakpuasan (dissatisfiers =faktor
higienis/hygiene factor) dan
tingkat absensi serta turn over karyawan akan
meningkat. Faktor-faktor pemeliharaan
perlu mendapatkan perhatian yang wajar
dari pimpinan, agar
kepuasan dan kegairahan
bekerja bawahan dapat ditingkatkan.
2. Faktor
Motivasi (Motivation factors)
Motivation factors adalah menyangkut
kebutuhan psikologis. Kebutuhan
ini meliputi serangkaian kondisi
intrinsik, Kepuasaan pekerjaan
(job content) yangapabila
terdapat dalam pekerjaan
akan menggerakan tingkat
motivasi yang kuat,yang
dapat menghasilkan prestasi
pekerjaanyang baik. Faktor
motivasi ini berhubungan dengan
penghargaan terhadap pribadi
yang secara langsung
berkaitandengan pekerjaan. Faktor ini dinamakansatisfiersyang meliputi :
a. Prestasi
(achievement)
Menurut Hasibuan
(2014:160) prestasi, “prestasi
kerja adalah suatu
hasil kerjayang dicapai
seseorang dalam melaksanakan
tugas-tugasnya atas kecakapan,usaha dan kesempatan.”
b. Pengakuan
(recognition)
Menurut
Siagian (2012:290) pengakuan adalah “besar kecilnya pengakuan yang diberikan
kepada tenaga kerja atas hasil kerja.”
c. Pekerjaan
itu sendiri (the work itself)
Menurut Siagian
(2012:290) pekerjaan itu
sendiri adalah “berat ringannya tantangan yang dirasakan
tenaga kerja dari pekerjaannya.”
d. Tanggung
jawab (responbility)
Menurut Siagian
(2012:290) tanggung jawab
adalah “besar kecilnya yang dirasakan terhadap tanggungjawab diberikan
kepada seorang tenaga kerja.”
e. Pengembangan
potensi individu (advancement)
Menurut Siagian
(2012:290) pengembangan potensi
individu adalah “besar kecilnya
kemungkinan tenaga kerja berpeluang maju dalam pekerjaannya seperti naik pangkat.”
Menurut Robbins dan Coulter (2010:112), teori dua
faktor Frederick Herzberg mengusulkan bahwa faktor-faktor intrinsik terkait
dengan kepuasan kerja, sedangkan faktor-faktor ekstrinsik berhubungan dengan
ketidakpuasan kerja. Herzberg ingin mengetahui ketika seseorang merasa sangat
nyaman (puas) / tidak nyaman (tidak puas) dengan pekerjaan mereka. Ia
menyimpulkan bahwa jawaban yang diberikan orang-orang saat mereka merasa nyaman
dengan pekerjaan mereka secara signifikan berbeda dari jawaban yang secara konsisten
berkaitan dengan ketidakpuasan kerja.
Selain itu, Herzberg yakin data menunjukkan bahwa
lawan dari kepuasan bukanlah ketidakpuasan, seperti yang selama ini diyakini.
Menghilangkan karakteristik yang tidak memuaskan dari suatu pekerjaan belum
tentu membuat pekerjaan itu lebih memuaskan (atau memotivasi). Herzberg percaya
bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan kerja terpisah dan berbeda dari
faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja.
Oleh karena itu, para manajer yang berusaha untuk
menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja sebagai faktor
higienis (hygiene), ketika faktor-faktor ini memadai, orang tidak akan puas,
tetapi mereka juga tidak akan tidak puas (atau termotivasi). Untuk memotivasi
orang, Herzberg menyarankan untuk menekankan motivator.
Referensi:
Andriani, M., & Widiawati, K. (2017).
Penerapan motivasi karyawan menurut teori dua faktor Frederick Herzberg pada PT
Aristika Kreasi Mandiri. Jurnal Administrasi Kantor, 5(1), 83-รข.
D. Teori
E-R-C (Clayion Elderier)
Teori ERG (Existence, Relatedness, and Growth)
dariClayton Alderfer. Teori ini merupakan penyempurnaan dari teori Hirarki Kebutuhan
Maslow. Alderfer mengangap bahwa teori Maslow kurang praktis bila dipraktekkan
dalam dunia nyata secara empiric, karena teori ERG lebih sederhana dan
menggabungkan beberapa sifat yang hampir sama kedalam satu macam kebutuhan.
Teori ERG juga memiliki dimensi frustrasi – regresi.
Maslow menegaskan, bahwa seseorang akan tetap tinggal pada tingkat kebutuhan
tertentu sampai kebutuhan tersebut terpuaskan. Alderfer membantah pendapat
tersebut dengan menyatakan, bahwa ketika kebutuhan yang lebih tinggi mengalami
frustrasi, dorongan individual pada tingkat kebutuhan yang lebih rendah akan
meningkat. Sebagai Contoh, seseorang yang mengalami kegagalan untuk memenuhi
kebutuhan interaksi sosial mungkin dorongan untuk mendapatkan uang lebih banyak
akan meningkat. Jadi frustrasi dapat mengarah pada regresi terhadap kebutuhan
yang lebih rendah. (Robbins, 1996).
Menurut teori ini terdapat tiga kelompok kebutuhan
yang utama, yaitu:
1. Kebutuhan
akan keberadaan (Existency Needs)
Existence
Needs berhubungan dengan kebutuhan dasar yaitu kebutuhan yang dipuaskan oleh
faktor seperti makanan, udara, imbalan, rasa aman berkelanjutan, dan kebutuhan
dasar lainnya. Kelompok eksistensi dianggap sebagai kebutuhan dasar untuk eksis
atau berada. Dalam teori hirarki Maslow, kebutuhan ini masuk pada kebutuhan
fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman.
2. Kebutuhan
akan Afiliasi (Relatedness Needs)
Relatedness
Needs yaitu kebutuhan yang dipuaskan oleh hubungan sosial dan hubungan antar
pribadi yang bermanfaat, sebagai kebutuhan berkaitan dengan pentingnya
pemeliharaan hubungan interpersonal dan juga kebutuhan untuk meningkatkan harga
diri, status sosial dan reputasi baik yang dimiliki. Dimana kebutuhan akan
afiliasi dan peningkatan akan harga diri dimasukkan dalam satu kebutuhan.
3. Kebutuhan
akan perkembangan atau kemajuan (Growth Needs)
Growth
Needs yaitu kebutuhan dimana individu merasa puas dengan membuat kontribusi
yang kreatif dan produktif demi kemajuan pribadi atau organisasi yang
diikutinya. Pertumbuhan merupakan kebutuhan untuk berkembang secara intelektual
yang berarti identik dengan kebutuhan aktualisasi diri seperti yang ungkapkan
oleh Maslow (Kriyantono, 2006).
Teori ERG dari Alderfer mempunyai sifat beberapa
pemenuhan kebutuhan yaitu:
1. Makin
tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu (Need Frustration), makin besar
pula keinginan untuk memuaskannya (Strength of Desires)
2. Kuatnya
keinginan memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi, semakin besar apabila
kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan (Need Satisfaction)
3. Sebaliknya,
semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar
keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang lebih mendasar. Pada intinya,
seseorang harus bisa memenuhi kebutuhan yang berada dibawahnya secara utuh baru
bisa melanjutkan pemenuhan kebutuhan yang ada diatasnya.
Referensi:
Mario, T., & Silviandari, I. A.
(2013). Pemenuhan Kebutuhan Untuk Bergabung Dalam Komunitas Cornering Malang
(Analisis Teori Clayton Alderfer). Academia. Edu, 1-24.
PERBEDAAN EMPAT TEORI TERSEBUT:
A. Berdasarkan
Pengelompokan Kebutuhan:
1.
Teori Hirarki Kebutuhan (A. Maslow)
Lima tingkat kebutuhan:
fisiologis, rasa aman, sosial, harga diri, aktualisasi diri.
2. Teori
Tiga Motif Sosial (McClelland)
Tiga motif sosial:
bersahabat (afiliatif), berkuasa, berprestasi.
3. Teori
Dua Faktor (Herzberg)
Dua faktor: faktor
higienis (ekstrinsik) dan faktor motivasi (intrinsik).
4. Teori
ERG Alderfer
Tiga kelompok kebutuhan:
keberadaan (existence), afiliasi (relatedness), perkembangan (growth).
B. Struktur
Kebutuhan
1. Teori
Hirarki Kebutuhan (A. Maslow)
Hirarki linear, kebutuhan harus dipenuhi
dari bawah ke atas
2. Teori
Tiga Motif Sosial (McClelland)
Tidak berhirarki, ketiga motif bisa ada
bersamaan dan bervariasi intensitasnya
3. Teori
Dua Faktor (Herzberg)
Dua faktor berdiri sendiri, faktor
higienis mencegah ketidakpuasan, faktor motivasi meningkatkan kepuasan
4. Teori
ERG Alderfer
Fleksibel, kebutuhan bisa dipenuhi secara
bersamaan, ada mekanisme frustrasi-regresi (kebutuhan atas gagal dipenuhi,
kembali ke kebutuhan bawah)
C.
Fokus Motivasi
1. Teori
Hirarki Kebutuhan (A. Maslow)
Pemenuhan kebutuhan dari yang paling dasar
sampai aktualisasi diri.
2. Teori
Tiga Motif Sosial (McCelland)
Motivasi berdasarkan motif sosial yang
berbeda: hubungan sosial, kekuasaan, dan prestasi.
3. Teori
Dua Faktor (Herzberg)
Memisahkan faktor yang menyebabkan
kepuasan dan ketidakpuasan kerja.
4. Teeori
E-R-G (Clayiton Alderfer)
Memadukan kebutuhan dasar dan sosial serta
perkembangan, lebih praktis dan empiris dibanding Maslow.
D.
Konsep Motivasi
1. Teori
Hirarki Kebutuhan (A. Maslow)
Kebutuhan yang lebih tinggi menjadi
motivator setelah kebutuhan bawah terpenuhi
2. Teori
Tiga Motif Sosial (McCelland)
Motivasi muncul dari motif sosial yang
berbeda dan dapat diukur intensitasnya.
3. Teori
Dua Faktor (Herzberg)
Menghilangkan ketidakpuasan tidak sama
dengan memotivasi; motivasi berasal dari faktor intrinsic.
4. Teori
E-R-G (Clayiton Alderfer)
Kebutuhan yang tidak terpenuhi menyebabkan dorongan
lebih besar, frustrasi pada kebutuhan atas bisa menyebabkan regresi ke
kebutuhan bawah.
Ditulis sebagai Tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Manajemen & Strategi Dakwah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar