PIK-MA Ganesh Gelar Grand Final Pemilihan Duta Genre 2025
PURWOKERTO
— Rabu (19/06/2025) menjadi momen istimewa bagi mahasiswa Universitas Islam
Negeri Prof. K. H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto, khususnya bagi Pusat
Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIK-MA) Ganesh. Pada hari itu, PIK-MA Ganesh
sukses menyelenggarakan Grand Final Pemilihan Duta Genre 2025 (PILDUGEN) yang
bertempat di auditorium utama kampus. Kegiatan ini menjadi ajang bergengsi bagi
para mahasiswa untuk menunjukkan potensi, intelektual, serta kontribusi mereka
dalam isu-isu kepemudaan dan kesehatan reproduksi remaja.
Salah
satu anggota panitia, Kak Puput, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk
memilih remaja-remaja berkualitas yang dapat menjadi inspirasi bagi remaja lain
di UIN Saizu untuk melakukan kegiatan positif.
Acara grand final diikuti oleh sepuluh finalis terbaik yang telah melewati berbagai tahap seleksi sebelumnya. Mereka bersaing untuk memperebutkan gelar Duta Genre 2025, sekaligus menjadi representasi mahasiswa dalam menyuarakan kampanye Genre (Generasi Berencana). Tema yang diangkat pada tahun ini, “Break the Limit: Mahasiswa Genre, Kolaborasi Tanpa Batas untuk Masa Depan Berkualitas”, menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi seluruh finalis dan peserta yang hadir untuk terus bergerak dan berkarya tanpa batas.
Acara
dimulai dengan pembukaan yang khidmat, diawali dengan pembacaan ayat suci
Al-Qur’an yang menggema syahdu di ruangan auditorium. Dilanjutkan dengan
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars UIN SAIZU, serta Mars Genre
yang dibawakan bersama-sama dengan penuh semangat. Usai pembukaan, sambutan
demi sambutan disampaikan oleh ketua panitia, ketua PIK-MA Ganesh, serta
pembina PIK-MA. Dalam sambutannya, para pembina menyampaikan harapan agar
kegiatan ini mampu mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam akademik,
tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, khususnya dalam edukasi
kesehatan reproduksi dan perencanaan masa depan remaja.
Sembari
menunggu hasil penilaian tahap pertama, acara diisi dengan penampilan atraksi
silat tradisional oleh dua pesilat putra. Mereka menampilkan aksi “debus”
berupa memecahkan balok dengan kepala yang sukses membuat takjub penonton.
Tepuk tangan dan sorak sorai menggema di ruangan, memberikan warna tersendiri
di sela-sela ketegangan kompetisi.
Salah
satu finalis menyampaikan gagasan tentang peran duta genre dalam menangani
kenakalan remaja, “Kami sebagai duta genre akan merangkul remaja untuk
berdialog—mengenali jati dirinya, value dan apa yang harus diperjuangkan oleh
remaja, sekaligus mendengarkan keluh kesah mereka. Pada dasarnya, suara mereka
bukan untuk dinilai, tapi didengar. Karena seringkali kenakalan remaja
disebabkan oleh adanya keinginan remaja yang tidak bisa diwujudkan oleh
pemerintah.” ungkapnya penuh keyakinan.
Acara
kemudian dijeda untuk ISHOMA (Istirahat, Shalat, dan Makan). Setelah jeda,
diumumkan empat finalis terbaik yang berhak maju ke tahap ketiga, yakni sesi
tanya jawab langsung dari dewan juri. Pada sesi ini, para finalis diuji
ketajaman analisis dan kemampuan berpikir cepat mereka menanggapi berbagai
pertanyaan dari dewan juri.
Sebagai penutup, diumumkan tiga besar pemenang. Juara pertama diberikan kepada finalis putra dan putri terbaik, juara kedua untuk kategori Intelligence, dan juara ketiga untuk kategori Advokasi. Kegiatan diakhiri dengan penyematan selempang kehormatan dan pemberian ucapan selamat dari Duta Genre tahun 2024. Suasana auditorium dipenuhi sorak sorai bahagia, sekaligus haru karena momen ini menjadi langkah awal bagi para pemenang untuk mengemban amanah besar di masa depan.
Acara ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu sosial, kesehatan, dan pengembangan diri generasi muda.
Laporan
Refleksi Kode Etik
Acara
Grand Final Pemilihan Duta Genre 2025 UIN SAIZU
Dalam pelaksanaan tugas fotografi
jurnalistik pada acara Grand Final Pemilihan Duta Genre 2025 yang
diselenggarakan oleh PIK-MA Ganesh UIN SAIZU, saya berusaha menerapkan prinsip-prinsip
kode etik jurnalistik, khususnya dalam proses pengambilan gambar yang berkaitan
dengan peristiwa publik serta dokumentasi partisipan di dalamnya. Meskipun
kegiatan ini bersifat terbuka untuk umum, tetap diperlukan sejumlah
pertimbangan etis agar foto-foto yang dihasilkan tidak melanggar hak subjek,
menjaga privasi, serta terhindar dari framing atau penyajian yang bias.
a. Pertimbangan
Etis dalam Pengambilan Foto
Dalam kegiatan ini, saya berupaya
memastikan bahwa setiap momen yang diabadikan tidak mengeksploitasi situasi
atau subjek di luar kepentingan jurnalistik. Saya menghindari pengambilan
gambar yang berpotensi mempermalukan, menyinggung, atau menampilkan ekspresi
tidak pantas dari para subjek. Selain itu, saya memilih untuk tidak mengambil
foto yang dapat menimbulkan kesan negatif terhadap peserta yang belum berhasil
lolos ke tahap selanjutnya, demi menjaga suasana kompetisi yang sehat dan
sportif.
Saat pengambilan gambar atraksi
silat “debus”, saya memastikan untuk mengambil sudut aman, tanpa mengganggu
proses pertunjukan maupun membahayakan diri sendiri dan talent yang tampil.
Foto-foto yang dihasilkan bertujuan untuk menampilkan keunikan budaya tanpa
memperlihatkan adegan ekstrem yang dapat disalahartikan atau menimbulkan
ketidaknyamanan audiens.
b. Hak
Subjek Foto (Izin dan Privasi)
Terkait hak subjek foto, sebelum
pelaksanaan acara, pihak panitia melalui ketua acara telah memberikan
pernyataan bahwa seluruh dokumentasi foto dan video diperbolehkan selama
kegiatan berlangsung, baik oleh panitia resmi maupun adanya pihak lain yang
ingin meliput.
“Oh, untuk dokumentasi liputan
silakan saja dipotret, nggak perlu minta izin lagi ke finalis, takutnya ganggu
jalannya kegiatan. Yang penting, tetap jaga etika fotonya saja,” ujar Kak Dava,
ketua PIK-MA Ganesh.
Dengan adanya izin terbuka tersebut,
saya tidak lagi meminta persetujuan langsung kepada peserta atau finalis secara
individu saat pengambilan gambar, mengingat hal itu bisa mengganggu jalannya
acara dan kenyamanan peserta yang sedang fokus dalam kompetisi.
Namun demikian, saya tetap berupaya
menjaga etika pengambilan gambar dengan tidak memotret dalam situasi pribadi
atau emosional yang dapat membuat peserta merasa tidak nyaman. Dokumentasi
difokuskan pada momen-momen yang memang layak diberitakan dan sesuai konteks
kegiatan.
c. Bias
atau Framing
Dalam proses peliputan, saya juga
berusaha menghindari framing atau sudut pengambilan gambar yang bisa
menimbulkan bias atau persepsi keberpihakan. Setiap finalis difoto secara
proporsional, termasuk dokumentasi suasana audiens, dewan juri, serta jalannya
acara secara menyeluruh. Saya memastikan agar hasil foto tidak hanya
menampilkan peserta tertentu saja atau berfokus pada satu kelompok, melainkan
menggambarkan keseluruhan dinamika acara.
Melalui pelaksanaan tugas ini, saya memahami pentingnya menerapkan kode etik dalam fotografi jurnalistik. Selain memastikan informasi visual tersaji akurat dan adil, penerapan etika ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap subjek foto, penyelenggara acara, dan audiens yang menerima informasi. Dokumentasi bukan sekadar merekam momen, melainkan juga menyampaikan pesan dengan cara yang bertanggung jawab.
Fotografer & Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Fotografi








Tidak ada komentar:
Posting Komentar