Senin, 05 Januari 2026

LIPUTAN FOTOGRAFI JURNALISTIK: KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT

 PIK-MA Ganesh Gelar Grand Final Pemilihan Duta Genre 2025

(Auditorium utama UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Rabu, 19 Juni 2025. Foto dipotret menggunakan aplikasi ReLens di handphone Realme C33. Teknik pengambilan menggunakan medium wide shot dengan komposisi symmetrical dan central framing, menempatkan peserta grand final di tengah frame secara rapi dan simetris. Dua pilar hijau di sisi frame membentuk natural frame yang mengarahkan fokus ke panggung. Exposure foto disetel pada ISO 1472, aperture f/1.8, shutter speed 1/827, dengan pencahayaan ambient light dari ruangan)

PURWOKERTO — Rabu (19/06/2025) menjadi momen istimewa bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. K. H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto, khususnya bagi Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIK-MA) Ganesh. Pada hari itu, PIK-MA Ganesh sukses menyelenggarakan Grand Final Pemilihan Duta Genre 2025 (PILDUGEN) yang bertempat di auditorium utama kampus. Kegiatan ini menjadi ajang bergengsi bagi para mahasiswa untuk menunjukkan potensi, intelektual, serta kontribusi mereka dalam isu-isu kepemudaan dan kesehatan reproduksi remaja.

Salah satu anggota panitia, Kak Puput, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memilih remaja-remaja berkualitas yang dapat menjadi inspirasi bagi remaja lain di UIN Saizu untuk melakukan kegiatan positif.

(Auditorium utama UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Rabu, 19 Juni 2025. Foto diambil menggunakan aplikasi ReLens pada handphone Realme C33. Teknik long shot dengan komposisi leading lines menonjolkan subjek utama beserta ekspresi dan gesture, sekaligus memperlihatkan situasi di belakang. Pilar hijau dan barisan peserta membentuk leading line alami yang memperkuat arah dan susunan acara. Exposure: ISO 1841, aperture f/1.8, shutter speed 1/643, menggunakan ambient light dari lampu plafon dan cahaya alami jendela)

Acara grand final diikuti oleh sepuluh finalis terbaik yang telah melewati berbagai tahap seleksi sebelumnya. Mereka bersaing untuk memperebutkan gelar Duta Genre 2025, sekaligus menjadi representasi mahasiswa dalam menyuarakan kampanye Genre (Generasi Berencana). Tema yang diangkat pada tahun ini, “Break the Limit: Mahasiswa Genre, Kolaborasi Tanpa Batas untuk Masa Depan Berkualitas”, menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi seluruh finalis dan peserta yang hadir untuk terus bergerak dan berkarya tanpa batas.


(Auditorium utama UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Rabu, 19 Juni 2025. Foto dipotret menggunakan aplikasi ReLens di handphone Realme C33. Menggunakan teknik long shot dengan komposisi central framing dan leading lines, menangkap momen dua peserta berjalan menuju panggung sekaligus memperlihatkan suasana penonton yang sedang menyaksikan dan mendokumentasikan. Pilar hijau di kiri dan kanan kembali berfungsi sebagai natural frame dan karpet merah sebagai leading line, mengarahkan mata dari bagian bawah foto menuju panggung. Exposure foto disetel pada ISO 1841, aperture f/1.8, shutter speed 1/643, dengan pencahayaan ambient light dari ruangan).

Acara dimulai dengan pembukaan yang khidmat, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang menggema syahdu di ruangan auditorium. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars UIN SAIZU, serta Mars Genre yang dibawakan bersama-sama dengan penuh semangat. Usai pembukaan, sambutan demi sambutan disampaikan oleh ketua panitia, ketua PIK-MA Ganesh, serta pembina PIK-MA. Dalam sambutannya, para pembina menyampaikan harapan agar kegiatan ini mampu mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, khususnya dalam edukasi kesehatan reproduksi dan perencanaan masa depan remaja.


(Auditorium UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Rabu, 19 Juni 2025. Foto diambil dengan aplikasi ReLens di perangkat Realme C33. Menggunakan teknik pengambilan gambar wide shot dengan komposisi symmetrical, central framing, dan leading lines, menangkap suasana ruangan, panggung, backdrop, peserta, dan penonton. Karpet merah dan barisan penonton yang duduk di kursi membentuk leading lines ke panggung, sementara dua pilar hijau menjadi natural frame yang menciptakan kesan simetris. Exposure: ISO 1324, f/1.8, 1/976, dengan ambient light dari lampu ruangan dan jendela)

Memasuki rangkaian acara inti, para finalis menampilkan pertunjukan tari kreasi tradisional yang diiringi musik modern. Suasana auditorium menjadi meriah, para penonton dan pendukung memberikan tepuk tangan usai penampilan tersebut. Setelah itu, dilakukan sesi perkenalan masing-masing finalis dan dilanjutkan dengan penilaian tahap pertama, yaitu pemaparan visi-misi. Dalam sesi ini, setiap finalis diberikan waktu untuk menjelaskan visi dan misi mereka jika terpilih sebagai Duta Genre. Poin-poin penilaian dalam tahap ini meliputi kejelasan visi-misi, relevansi isi dengan tema yang diusung, kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, serta nilai gagasan yang dibawakan.

(Auditorium UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Rabu, 19 Juni 2025. Foto diambil dengan ReLens di Realme C33. Menggunakan teknik eye level dengan komposisi symmetrical dan central framing, merekam gerakan tubuh pesilat beserta suasana sekitar. Dua pesilat diletakkan simetris di tengah frame, dengan pilar hijau kanan-kiri sebagai natural frame. Exposure: ISO 1384, f/1.8, 1/840, menggunakan ambient light dari plafon dan panggung)


Sembari menunggu hasil penilaian tahap pertama, acara diisi dengan penampilan atraksi silat tradisional oleh dua pesilat putra. Mereka menampilkan aksi “debus” berupa memecahkan balok dengan kepala yang sukses membuat takjub penonton. Tepuk tangan dan sorak sorai menggema di ruangan, memberikan warna tersendiri di sela-sela ketegangan kompetisi.

(Auditorium utama UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Rabu, 19 Juni 2025. Foto dipotret menggunakan aplikasi ReLens di handphone Realme C33. Teknik pengambilan menggunakan long shot dengan komposisi leading lines, menangkap subjek utama (finalis perempuan) dari sekitar kaki hingga kepala secara jelas, memperlihatkan ekspresi wajah, kostum, dan gesture tangan. Dua pilar hijau, garis lantai dan deretan kursi menciptakan leading lines halus yang mengarahkan mata ke subjek. Exposure foto disetel pada ISO 1384, aperture f/1.8, shutter speed 1/840, dengan pencahayaan ambient light dari lampu plafon ruangan)

Usai penampilan atraksi, diumumkan enam besar finalis yang lolos ke tahap kedua. Pada sesi ini, masing-masing finalis diminta untuk memilih gulungan kertas berisi pertanyaan yang telah disiapkan panitia. Mereka diberi waktu tiga menit untuk memaparkan jawaban secara lisan di hadapan dewan juri dan penonton. Penilaian pada tahap ini mencakup kejelasan jawaban, isi yang sesuai dengan pertanyaan, kemampuan komunikasi, serta ketegasan dan kepercayaan diri saat menjawab.

(Auditorium UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Rabu, 19 Juni 2025. Foto diambil dengan ReLens di Redmi Note 13. Menggunakan wide shot dengan komposisi symmetrical, central framing, dan leading lines, merekam suasana ruangan, panggung, peserta, dan penonton. Karpet merah menjadi leading line ke panggung, sementara pilar hijau membingkai panggung secara simetris. Exposure: ISO 816, f/1.8, 1/50, dengan ambient light ruangan)

Salah satu finalis menyampaikan gagasan tentang peran duta genre dalam menangani kenakalan remaja, “Kami sebagai duta genre akan merangkul remaja untuk berdialog—mengenali jati dirinya, value dan apa yang harus diperjuangkan oleh remaja, sekaligus mendengarkan keluh kesah mereka. Pada dasarnya, suara mereka bukan untuk dinilai, tapi didengar. Karena seringkali kenakalan remaja disebabkan oleh adanya keinginan remaja yang tidak bisa diwujudkan oleh pemerintah.” ungkapnya penuh keyakinan.

(Auditorium utama UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Rabu, 19 Juni 2025. Foto dipotret menggunakan aplikasi ReLens di handphone Realme C33. Teknik pengambilan menggunakan long shot dengan komposisi leading lines, menangkap dua peserta Duta Genre dari kepala hingga kaki dengan jelas, termasuk ekspresi wajah, kostum tradisional, serta latar suasana di belakangnya. Karpet merah berperan sebagai leading line, secara alami menarik pandangan ke peserta. Exposure foto disetel pada ISO 1155, aperture f/1.8, shutter speed 1/976, dengan pencahayaan ambient light dari ruangan)

Acara kemudian dijeda untuk ISHOMA (Istirahat, Shalat, dan Makan). Setelah jeda, diumumkan empat finalis terbaik yang berhak maju ke tahap ketiga, yakni sesi tanya jawab langsung dari dewan juri. Pada sesi ini, para finalis diuji ketajaman analisis dan kemampuan berpikir cepat mereka menanggapi berbagai pertanyaan dari dewan juri.

Sebagai penutup, diumumkan tiga besar pemenang. Juara pertama diberikan kepada finalis putra dan putri terbaik, juara kedua untuk kategori Intelligence, dan juara ketiga untuk kategori Advokasi. Kegiatan diakhiri dengan penyematan selempang kehormatan dan pemberian ucapan selamat dari Duta Genre tahun 2024. Suasana auditorium dipenuhi sorak sorai bahagia, sekaligus haru karena momen ini menjadi langkah awal bagi para pemenang untuk mengemban amanah besar di masa depan.

Acara ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu sosial, kesehatan, dan pengembangan diri generasi muda.

Laporan Refleksi Kode Etik

Acara Grand Final Pemilihan Duta Genre 2025 UIN SAIZU

            Dalam pelaksanaan tugas fotografi jurnalistik pada acara Grand Final Pemilihan Duta Genre 2025 yang diselenggarakan oleh PIK-MA Ganesh UIN SAIZU, saya berusaha menerapkan prinsip-prinsip kode etik jurnalistik, khususnya dalam proses pengambilan gambar yang berkaitan dengan peristiwa publik serta dokumentasi partisipan di dalamnya. Meskipun kegiatan ini bersifat terbuka untuk umum, tetap diperlukan sejumlah pertimbangan etis agar foto-foto yang dihasilkan tidak melanggar hak subjek, menjaga privasi, serta terhindar dari framing atau penyajian yang bias.

a.       Pertimbangan Etis dalam Pengambilan Foto

            Dalam kegiatan ini, saya berupaya memastikan bahwa setiap momen yang diabadikan tidak mengeksploitasi situasi atau subjek di luar kepentingan jurnalistik. Saya menghindari pengambilan gambar yang berpotensi mempermalukan, menyinggung, atau menampilkan ekspresi tidak pantas dari para subjek. Selain itu, saya memilih untuk tidak mengambil foto yang dapat menimbulkan kesan negatif terhadap peserta yang belum berhasil lolos ke tahap selanjutnya, demi menjaga suasana kompetisi yang sehat dan sportif.

            Saat pengambilan gambar atraksi silat “debus”, saya memastikan untuk mengambil sudut aman, tanpa mengganggu proses pertunjukan maupun membahayakan diri sendiri dan talent yang tampil. Foto-foto yang dihasilkan bertujuan untuk menampilkan keunikan budaya tanpa memperlihatkan adegan ekstrem yang dapat disalahartikan atau menimbulkan ketidaknyamanan audiens.

b.      Hak Subjek Foto (Izin dan Privasi)

            Terkait hak subjek foto, sebelum pelaksanaan acara, pihak panitia melalui ketua acara telah memberikan pernyataan bahwa seluruh dokumentasi foto dan video diperbolehkan selama kegiatan berlangsung, baik oleh panitia resmi maupun adanya pihak lain yang ingin meliput.

            “Oh, untuk dokumentasi liputan silakan saja dipotret, nggak perlu minta izin lagi ke finalis, takutnya ganggu jalannya kegiatan. Yang penting, tetap jaga etika fotonya saja,” ujar Kak Dava, ketua PIK-MA Ganesh.

            Dengan adanya izin terbuka tersebut, saya tidak lagi meminta persetujuan langsung kepada peserta atau finalis secara individu saat pengambilan gambar, mengingat hal itu bisa mengganggu jalannya acara dan kenyamanan peserta yang sedang fokus dalam kompetisi.

            Namun demikian, saya tetap berupaya menjaga etika pengambilan gambar dengan tidak memotret dalam situasi pribadi atau emosional yang dapat membuat peserta merasa tidak nyaman. Dokumentasi difokuskan pada momen-momen yang memang layak diberitakan dan sesuai konteks kegiatan.

c.       Bias atau Framing

            Dalam proses peliputan, saya juga berusaha menghindari framing atau sudut pengambilan gambar yang bisa menimbulkan bias atau persepsi keberpihakan. Setiap finalis difoto secara proporsional, termasuk dokumentasi suasana audiens, dewan juri, serta jalannya acara secara menyeluruh. Saya memastikan agar hasil foto tidak hanya menampilkan peserta tertentu saja atau berfokus pada satu kelompok, melainkan menggambarkan keseluruhan dinamika acara.

            Melalui pelaksanaan tugas ini, saya memahami pentingnya menerapkan kode etik dalam fotografi jurnalistik. Selain memastikan informasi visual tersaji akurat dan adil, penerapan etika ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap subjek foto, penyelenggara acara, dan audiens yang menerima informasi. Dokumentasi bukan sekadar merekam momen, melainkan juga menyampaikan pesan dengan cara yang bertanggung jawab.

Fotografer & Penulis: Riris Rizki Maulida

Ditulis sebagai Tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Fotografi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...