Sabtu, 03 Januari 2026

PENAFSIRAN MASA KLASIK

 

(Generate Image by Gemini AI)

1.      Pengertian

            Secara etimologis, tafsir berarti menjelaskan dan mengungkapkan. Sedangkan menurut istilah, Tafsir ialah ilmu yang menjelaskan tentang cara mengucapkan lafadh-lafadh Al-Qur’an, makna-makna yang ditunjukkannya dan hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri atau tersusun, serta makna-makna yang dimungkinkannya ketika dalam keadaan tersusun. Sedangkan cara menyajikan atau memformulasikan tafsir tersebut dinamakan teknik atau seni penafsiran.

2.      Karakteristik Penafsiran

a.      Segi Sumber Penafsiraan

      Pada periode klasik, terdapat dua sumber penafsiran yang digunakan oleh mufassir, yaitu tafsir bi al-ma’thur dan tafsir bi al-ra’yi.

1)      Tafsir bi al-ma’thur.

            Tafsir bi al-ma’thur  adalah tafsir yang berdasarkan  pada kutipan-kutipan yang s}ahih, yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan AlQur’an, menafsirkan Al-Qur’an dengan hadith karena hadith berfungsi sebagai penjelas Al-Qur’an,  menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapat sahabat karena mereka adalah orang yang paling memahami Al-Qur’an dan  menyaksikan turunnya wahyu, dan penafsiran Al-Qur’an dengan pendapat  tabi’in karena pada umumnya mereka menerima tafsir dari para sahabat.

2)      Tafsir bi ar-ra’yi

            Tafsir bi al-ra’yi adalah tafsir yang bersumber dari ijtihad yang didasarkan pada kaidah-kaidah penafsiran yang benar dan tidak hanya bersandar pada ijtihad semata atau hawa nafsu.  Dalam hal ini, Al-Suyuti memaparkan dalam kitabnya Al-Itqan bahwa seseorang diperbolehkan menafsirkan Al-Qur’an jika memenuhi syarat-syarat yaitu: memahami bahasa arab dan kaidah-kaidahnya, ushul fiqh, asbab al-nuzul, nasikh mansukh, qira’at dan mempunyai keahlian serta mengetahui  kaidah-kaidah yang

diperlukan untuk menafsirkan Al-qur’an.

b.      Segi Metode

      Mayoritas tafsir yang berkembang pada  periode klasik menggunakan  metode tahlili. Metode tahlili adalah metode penafsiran dengan menjelaskan uraian ayat demi ayat, surah demi surah sesuai dengan tata urutan mus}haf Uthmani dengan  penjelasan yang cukup terperinci. Metode ini berupaya untuk menyajikan pembahasan seluruh segi dan isi sebuah ayat atau sekelompok ayat maupun surah dengan melibatkan aspek penguraian kosakata (mufrodat), struktur bahasa (gramatika), pembahasan linguistik makna keseluruhan ayat yang ditafsirkan dan  pemaparan munasabah (korelasi antar ayat maupun surah) serta pemanfaatan asbab al-nuzul serta penyimpulan prinsip-prinsip umum serata pengetahuan lainnya yang dapat membantu pemahaman nash  Al-Qur’an.

c.       Segi Corak

      Tafsir sebagai suatu bentuk ekspresi intelektual mufassir dalam menjelaskan pengertian ajarran-ajaran Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan manusia (bi qadr taqah al-bashar), tentu akan menggambarkan minat dan horison pengetahuan mufassirnya. Dimana pada periode ini, muncul berbagai macam corak penafsiran seiring dengan perkembangan disiplin keilmuan yang ada. Diantaranya :

1)      Corak linguistic

            Tafsir linguistik (al-tafsir al-lughawi) adalah tafsir yang dalam menjelaskan ayat-ayat Al-qur’an didominasi dengan uraian tentang berbagai aspek kebahasaan dari pada pesan pokok dari ayat yang ditafsirkan.

2)      Corak Fiqih

            Tafsir fikih (al-Tafsir al-Fiqhi) adalah penafsiran AlQur’an yang menitik beratkan pada diskusi-diskusi tentang masalah hukum fikih. Tafsir corak fikih dibangun diatas wawasan mufassirnya dalam bidang fikih sebagai basisnya, karena fikih sudah menjadi minat dasar mufassirnya sebelum ia melakukan usaha penafsiran.

3)      Corak Teologis

            Tafsir corak teologis (al-tafsir al-i’tiqa>di) adalah suatu bentuk penafsiran Al-Qur’an yang lebih banyak mengedepankan tema-tema teologis dibanding pesan-pesan pokok Al-Qur’an, sebagaimana layaknya diskusi yang dikembangkan dalam literatur ilmu kalam (teologi Islam). Tafsir ini juga sarat dengan muatan sektarian dan pembelaanpembelaan terhadap paham-paham teologis tertentu yang menjadi referensi utama bagi mufassirnya, ayat-ayat Al-Qur’an tertentu yang nampak memiliki konotasi berbeda satu sama lain, seringkali dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok teologis tertentu sebagai basis penafsirannya, paling tidak ayat-ayat ini memberi peluang dan potensial untuk dijadikan alat sebagai pembenar atas paham-paham tertentu.

4)      Corak Sufistik

            Tafsir sufi (tafsir al-sufi) yang juga dikenal dengan tafsir al-isyari adalah tafsir yang dibangun atas dasar teori-teori sufistik yang bersifat falsafi, atau tafsir yang dimaksudkan untuk menguatkan teori-teori sufistik dengan menggunakan metode ta’wil dengan mencari makna  batin (esetoris).

3.      Aliran-aliran Penafsiran

a.      Aliran Tafsir Klasik

1)      Al-tafsir Al-Lughawi

            Al-Tafsir al-Lughawi ialah tafsir yang menjelaskan makna-makna al-Quran (termasuk setiap sumber dalam tafsir iaitu al-Qur’an, al-Sunnah, sebab nuzul dll) berdasarkan apa yang terdapat dalam Bahasa Arab (Al-Tayyar, 2001).

Kemunculan pentafsiran lughawi kepada alQuran bermula seiring dengan gerakan penulisan tafsir pada kurun kedua hijrah (‘Abbas, 2005) atau pada zaman atba’ al-tabi’in. Terdapat dua golongan yang turut sama dalam pentafsiran al-Quran (Al-Tayyar, 2001)

2)      Aliran Fiqh

            Tafsir bercorak fiqhÄ« ialah kecenderungan tafsir dengan metode fiqh sebagai basisnya, atau dengan kata lain, tafsir yang berada di bawah pengaruh ilmu fiqh, karena fiqih sudah menjadi minat dasar mufasirnya sebelum dia melakukan usaha penafsiran. Tafsir semacam ini seakan-akan melihat al-Qur`an sebagai kitab suci yang berisi ketentuan perundang-undangan, atau menganggap al-Qur`an sebagai kitab hukum.

3)      Aliran Ilmi

            Tafsir ‘ilmi adalah satu ijtihad dalam pentafsiran al-Qur’an berorientasikan sains dalam usaha menjelaskan makna saintifik terhadap ayat-ayat alQur’an terutama yang berkisar pada persoalan ciptaan atau ayat-ayat kawniyyat yang menepati kaedah-kaedah dan analisis sains moden.

4)      Aliran Al-Kalamiy/Al-‘Aqdi

            Al-Kalam dalam konteks ini merujuk kepada ilmu akidah. Perbezaan dalam permasalahan akidah tidak pernah berlaku pada zaman Rasulullah SAW namun ia berlaku pasca kewafatan baginda terutama dalam masalah al-Imamah. Perbezaan ini makin meluas secara berperingkat mencakupi masalah sifat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

5)      Aliran al-Falsafi

            Aliran ini mula terbentuk dan muncul pada zaman pemerintahan Khilafah ‘Abbasiyyah rentetan daripada penterjemahan tinggalan falsafah Greek, India, dan Parsi ke dalam Bahasa Arab. Kemasukan ideologi falsafah dalam persekitaran ilmu Islam membawa kepada kemunculan orientasi yang berbeza dalam kalangan umat Islam iaitu menolak atau menyokong ideologi tersebut berpandukan Al-Quran, ditambah pula hubungan kognitif yang menghubungkan ilmu falsafah dengan ilmu Kalam dan permasalahan ilmu Kalam yang timbul pada waktu tersebut memerlukan proses pemikiran falsafah. Aliran ini telah terbentuk pada kurun seterusnya, maka muncul banyak tafsiran bercorak falsafah yang memberi manfaat dalam pemahaman dan tafsiran Al-Quran pada zaman pembukuan dan masih menjadi praktikal dalam pentafsiran dewasa ini.

4.      Tokoh Tafsir Masa Klasik

a.      Tafsir Al-Jami’ al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur’an karya Al-T}abari.

      Nama lengkap Al-T{abari adalah Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid Ibn Ghalib al-Tabari, lahir di kota Amul, ibu kota Tabaristan, Iran pada tahun 223 H dan wafat pada tahun 310 H. Al-Tabari hidup dilingkungan keluarga yang memberikan cukup perhatian terhadap masalah pendidikan, terutama bidang keagamaan, berbarengan dengan situasi  Islam yang sedang mengalami kejayaan dan kemajuan dibidang pemikiran. Kondisi sosial tersebutlah yang secara psikologis turut berperan dalam membentuk kepribadian Al-Tabari dan menumbuhkan kecintaanya terhadap ilmu.

      Tafsir karya Al-Tabari ini terdiri dari 30 jilid dengan  menggunakan metode tahlili yang disusun mengikuti tata urutan mushaf Uthmani. Jenis tafsir Al-Tabari ini sering disebut dengan tradisi tafsir bi al-ma’thur  atau tafsir bi al-Riwayah. Dalam penafsirannya Al-Tabari tidak hanya memaparkan pendapatnya, akan tetapi banyak mengutip pernyataan Ibnu Abbas dan para mufassir awal. Keistimewaan tafsir Al-T{abari ini adalah dalam setiap kasus, pernyataannya selalu diiringi dengan rangkaian isnad yang menerangkan bahwa keterangan tersebut sampai kepadanya.

      Secara akumulatif, Al-T{abari lebih banyak menggunakan athar (riwayah), dibandingkan dengan pendapatnya sendiri (ra’yu), meskipun demikian, pengklasifikasian ini tidak menafikan proporsi pemakaian Al-Tabari dalam penggunaan nalar (ra’yu).

b.      Tafsir Ahkam al-Qur’an karya Al-Jashshash

      Tafsir ini dikarang oleh  Abu Bakar Ahmad bin Ali Al-Razi. Guru besar ulama’ pengikut mazh}ab Hanafi di Baghdad. Beliau adalah ulama’ terakhir pemimpin mazhab Hanafi pada masa itu.   Nama laqab beliau adalah Al-Jashshash yang dinisbatkan kepada pekerjaan beliau sebagai tukang kapur.  Beliau lahir di kota Ray Iraq pada tahun 305 H.   Al-Jashshash hidup pada masa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan Islam dalam berbagai bidang, hal itu terbukti dengan munculnya tokoh- tokoh ulama’ besar dan terkenal dikalangan masyarakat luas pada waktu itu.   Beliau wafat di Baghdad, pada hari Ahad, 7 Dzul hijjah Tahun 370 H. Kitab ini merupakan kitab tafsir ahkam pertama yang secara khusus membahas ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an.

c.       Tafsir Al-Kashshaf karya Al-Zamakhshari.

      Nama lengkap Al-Zamakhshari adalah Abu al-Qasim Mahmud bin Umar bin Muh}ammad al-Khawazrimi al-Zamakhshari. Lahir di Zamakhshar, sebuah desa di kawasan  Khawarizm (Turkistan Asia Tengah) pada hari Rabu, 27 Rajab 467 H bertepatan dengan 18 Maret 1075 M.   Al-Zamakhsyari  berasal dari keluarga miskin yang taat beragama. Beliau lahir pada masa pemerintahan sultan Jalal al-Din Abi al-Fath Maliksyah dengan wazirnya Nizam al-Mulk. Al-Zamakhshari termasuk salah satu ulama’ yang menganut paham Mu’tazilah dan bermaz}hab Hanafi.  Beliau wafat di Jurjaniyah pada malam Arafah tahun 538 H.

d.      Tafsir Al-Qur’an al-Az}im karya Ibnu Katsir.

      Nama lengkap Ibnu Katsir adalah Imad al-Din Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Kathir, seorang ulama’ terkemuka yang menguasai berbagai bidang, diantranya tafsir, hadith, tarikh dan fikih. Ia belajar kepada Ibnu Taimiyah dan mengikuti dalam sejumlah besar pendapatnya termasuk dalam prinsip-prinsip penafsiran Al-Qur’an. Lahir di Basrah pada tahun 700 H/ 1300 M. Wafat pada usia 74 tahun pada bulan Sha’ban 774 H.

      Dan kitab tafsirnya Al-Qur’an al-Azim merupakan tafsir yang paling terkenal diantara sekian banyak tafsir bi al-ma’thur yang pernah ditulis dan menduduki peringkat kedua setelah tafsir Al Tabari. Diantara keistimewaan tafsir ini adalah dalam hal ketelitian serta seleksi sanadnya dan kesederhanaan bahasanya.

5.      Sumber Penafsiran

            Sumber-sumber tafsir mengandung arti adanya faktor-faktor yang dapat dijadikan acuan atau pegangan dalam memahami kandungan ayat-ayat al-Qur‟an Acuan ini dapat digunakan sebagai penjelas, perbendaharaan dan perbandingan dalam menafsirkan al-Qur‟an. Dengannya juga hasil penafsiran itu walaupun tidak mutlak kebenarannya, tetapi setidaknya dapat mendekati kepada maksud yang diinginkan  ayat bersangkutan. 

            Sumber-sumber tafsir yang disepakati oleh ulama dan banyak dijadikan sebagai acuan oleh para mufassir ada tiga macam:

a.      Wahyu

      Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa sumber tafsir pada masa Rasulullah adalah wahyu. Secara bahasa wahyu berarti “isyarat yang cepat”. Dalam bahasa Arab jika dikatakan wahaitu ilaihi dan auhaitu maka maksudnya dia berbicara pada seseorang agar tidak diketahui orang yang lain. Sedangkan menurut istilah, wahyu adalah pemberitahuan Tuhan kepada para Nabi-Nya tentang hukum-hukum Tuhan, berita-berita dan cerita-cerita dengan cara yang samar tetapi meyakinkan kepada Nabi/Rasul yang bersangkutan, bahwa apa yang diterimanya adalah benar-benar dari Allah.

b.      Al-Ra’yu (Logika)

      Sumber tafsir yang kedua adalah al-ra’yu (pikiran manusia). Istilah ra’yu dekat maknanya dengan ijtihad (kebebasan penggunaan akal) yang didasarkan atas prinsip-prinsip yang benar, menggunakan akal sehat dan persyaratan yang ketat. Sandaran yang dipakai adalah bahasa, budaya Arab yang terkandung di dalamnya, pengetahuan tentang gaya bahasa sehari-hari dan kesadaran akan pentingnya sains yang amat diperlukan oleh mereka yang ingin menafsirkan al-Qur’an.

c.       Israiliyat

      Sumber tafsir yang ketiga adalah Israiliyat. Ulama mendefinisikan term Israiliyat sebagai cerita-cerita dan informasi yang berasal dari orang Yahudi dan Nasrani yang telah menyusup ke dalam masyarakat Islam setelah kebanyakan orang-orang yahudi dan Nasrani memeluk agama Islam.   Oleh para sahabat, ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dianggap memiliki pemahaman yang lebih baik dan lebih luas wawasann terhadap kitabn-kitab mereka (Taurat dan Injil). Maka tidaklah mengherankan apabila keterangan-keterangan ahli kitab oleh sebagian sahabat dijadikan sumber untuk menafsirkan al-Quir’an.  Para sahabat seperti dikisahkan tidak mengambil sesuatu dari ahli kitab ketika mereka memusatkan perhatian kepada tafsir al-Qur‟an, kecuali kepada halhal tertentu saja itupun sangat kecil.

    Dari pendapat-pendapat di atas tidak ada yang mengisyaratkan adanya larangan atau keharusan dalam mempergunakan keterangan-keterangan Israiliyat sebagai sumber tafsir. Artinya, boleh bila tidak bertentangan dengan al-Qur’an, sunnah, dan ra’yu (logika).

SUMBER REFERENSI

Hilmi, A. B. A., Yakub, M., Yusoff, Z. M., & Amir, S. (2020). Pengajian Tafsir Al-Quran: Sorotan Aliran Klasik dan Moden. Sains Insani, 5(2), 43-50.

Pratomo, H. (2020). Historiografi Tafsir Era Klasik: Dinamika Penafsiran Al-QurAn Dari Masa Nabi Hingga Tâbi’în. Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum, 6(01), 1-16.

Rozi, A. F. (2019). Tafsir Klasik: Analisis Terhadap Kitab Tafsir Era Klasik. KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin, 9(2), 148-167.

Sunarsa, S. (2019). Tafsir Theory; Study on Al-quran Methods and Records.(Teori Tafsir; Kajian Tentang Metode dan Corak Tafsir Al-quran). Al-Afkar, Journal For Islamic Studies, 247-259.

Zaini, M. (2012). Sumber-Sumber Penafsiran Al-Quran. Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 14(1), 29-36.

Penulis: Riris Rizki Maulida

Ditulis sebagai Tugas Mandiri mata kuliah Tafsir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...