![]() |
| (Generate Image by Gemini AI) |
1.
Biografi Penulis
Nama lengkapnya adalah Yahya bin
Sallam bin Abi Tsa’labah al-Taimy al-Bashri al-Ifriqy alQairawany. Merupakan
seorang ahli tafsir, ahli fikih, ahli hadis dan bahasa. Ia pernah bertemu
dengan sekitar tabi’in semasa hidupnya dan banyak meriwayatkan dari mereka. Dilahirkan
di Kufah dan akhirnya pindah ke Kufah Bersama ayahnya dan tumbuh di sana, ia
juga pernah melakukan perjalanan ke Mesir dan negara-negara Afrika lainnya.
Yahya bin Salam wafat pada tahun 200
Hijriyah sekembalinya ia berkunjung dari Mesir, beberapa catatan mengatakan
bahwa ia dilahirkan pada 124 Hijriyah.
Yahya bin Sallam banyak sekali
melakukan pengembaraan mencari ilmu, dan di setiap negara yang ia singgahi ia
bertemu dengan ulama-ulama yang berbeda-beda. Seperti ketika ia ke Kufah ia
bertemu dengan Yunus bin Abi Ishaq, ketika ia ke Basrah ia bertemu dengan Abi
al-Asyhab, ketika ia ke Syam ia bertemu dengan ‘Abdurrahman bin Yazid, ke Mekah
atau Madinah ia bertemu dengan Malik bin Anas, ke Mesir ia bertemu dengan Ibn
Lahi’ah, dan ketika ia berkunjung ke Afrika ia bertemu dengan ‘Abdullah bin
Farraukh.
Yahya bin Sallam tidak membatasi
diri dengan mengambil ilmu dari ulama-ulama yang tsiqah (terpercaya) saja. Akan
tetapi ia juga menimba ilmu dari ulama-ulama yang tergolong dhaif (lemah),
seperti al-Harits bin Nabhan, Bahr bin Kaniz al-Saqa (ulama ahli hadis telah
sepakat bahwa Kaniz adalah orang yang lemah dalam meriwayatkan hadis). Demikian
pula Yahya bin Sallam tidak segan-segan mengambil ilmu dari ulama yang
dikatakan ahl al-ahwa atau al-muttahimin (ulamaulama yang lebih buruk dari
sekedar lemah) seperti Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya.
Di masa hidupnya Yahya bin Sallam
juga memiliki murid yang tidak sedikit, dua di antaranya yang berasal dari
Afrika adalah Muhammad anak Yahya bin Sallam (w. 262 H/875 M), kemudian Abu
Dawud Ahmad bin Musa bin Jarir al-Azdi al- ‘Aththar (w. 274 H/ 887 M). Kedua
murid ini pada gilirannya meriwayatkan kitab tafsir yang ditulis oleh Yahya bin
Sallam sehingga sampai kepada kita saat ini
Beberapa ulama baik di Afrika maupun
Timur Tengah memberikan komentarnya tentang sosok Yahya bin Sallam. Mereka
sepakat bahwa ia adalah orang yang tsiqah (terpercaya) keilmuannya. Ibn Abi
Hatim al-Razi menyebut Yahya adalah orang yang shaduq (jujur namun tidak sampai
kepada terpercaya). Abu al-‘Arab menyebutnya sebagai ulama yang tsiqah,
al-Dibbagh menyebutnya sebagai Mahalluh min al-‘Ilm Ma’lum (kepiawaiannya di
bidang keilmuan telah diakui), meski begitu Imam Dar al-Quthni menyebutnya
sebagai orang yang lemah, namun riwayatnya masih layak ditulis.
2. Latar
Belakang Kepenulisan
Dalam menuliskan tafsirnya, terdapat
semangat yang ingin Yahya bin Slam tuliskan. Ia berusaha menghalau segala
bentuk bid’ah dan hawa nafsu serta mendorong orang-orang untuk mengikuti sunah
Rasulullah Saw. Seperti ketika ia menafsirkan firman Allah surat al-Hasyr ayat
10 berikut :
“Dan orang-orang yang datang sesudah
mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami
dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah
Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman;
Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Ketika menafsirkannya, Yahya bin
Sallam mengambil sebuah riwayat yang melarang orang-orang untuk mengikuti
orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Diriwayatkan dari alNadhr,
aku mendengar Abu Qilabah berkata kepada Ayub, wahai Ayub hafalkanlah tiga hal
ini dariku, janganlah engkau bergaul dengan ahlu al-ahwa (orang yang menuruti
nafsunya), dan janganlah engkau mendengarkan dari mereka…”
Kata wa laa taj’al fii qulubina
ghillan (janganlah Engkau menjadikan belenggu di dalam hati-hati kami),
diartikan dengan menjauhi orang-orang yang hanya mengikuti syahwatnya dalam
berprilaku. Ia juga mengutip hadis lain ketika menjelaskan hal tersebut,
sebagaimana berikut :
Dari Makhul, ia mengatakan,
Rasulullah Saw bersabda: “Sunah itu ada dua, sunah yang mengamalkannya adalah
sebuah kewajiban, dan sunah yang ketika mengamalkannya adalah keutamaan dan
meninggalkannya tidaklah mengapa.”
Dalam kesempatan lain Yahya bin
Sallam juga sangat konsen sekali dalam hal akidah dan mencela
perbuatan-perbuatan syirik.
3. Sistematika
Penulisan
Secara umum,
penulisan tafsir Yahya bin Salam mengikuti urutan dan struktur tafsir ayat demi
ayat atau surah demi surah, dengan menyertakan penjelasan mengenai: Asbab
al-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) yang memberikan konteks sejarah dan
situasional atas turunnya wahyu tersebut. Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an
(Yahya bin Salam sering mengutip ayat lain dalam Al-Qur'an untuk menjelaskan
makna sebuah ayat tertentu) Tafsir al-Qur'an bi al-Hadis (Penggunaan hadis Nabi
Muhammad SAW untuk memberikan penjelasan terhadap ayat yang bersangkutan) Tafsir
bi al-Athar (Mengutip riwayat dari sahabat dan tabi'in untuk menjelaskan tafsir)
Meskipun tafsir Yahya bin Salam tidak disusun dalam format yang sangat sistematis seperti tafsir-tefsir kontemporer, namun ia cenderung menguraikan tafsir secara runtut dan logis berdasarkan ayat demi ayat. Ia memberikan penjelasan yang tidak hanya mencakup aspek linguistik dan tekstual, tetapi juga dimensi hukum, akidah, dan sejarah.
4. Sumber
Penafsiran
Yahya bin Salam diketahui
menggunakan Al-qur’an, hadist dan pendapat para sahabat serta tabi’in untuk
dijadikan sebagai sumber penafsirannya. Yahya bin Sallam juga tidak membatasi
diri dengan mengambil ilmu dari ulama-ulama yang tsiqah (terpercaya) saja. Akan
tetapi ia juga menimba ilmu dari ulama-ulama yang tergolong dhaif (lemah).
5. Metode
Penafsiran
Dalam menuliskan tafsirnya ia
menggunakan metode yang umum digunakan oleh ulama-ulama lainnya, di mana ia
menafsirkan Alquran dengan Alquran, kemudian dengan Hadis, pendapat para
sahabat dan tabi’in atau dengan merujuk kepada makna-makna kalimat dalam bahasa
Arab. Oleh sebab itu, model penafsirannya bisa dikatakan sebagai tafsir bi
al-ma’tsur.
6. Corak
penafsiran
Corak penafsiran tafsir yahya bin salam adalah tafsir fiqh dimana beliau berusaha menghalau segala bentuk bid’ah dan hawa nafsu dan mendorong orang untuk mengikuti sunah Rasulullah Saw dan pada kesempatan lain Yahya bin Sallam juga sangat konsen sekali dalam hal akidah dan mencela perbuatan-perbuatan syirik.
SUMBER
REFERENSI
Munthe,
S. H. (2018). Studi Tokoh Tafsir. Pontianak: IAIN Pontianak Press, Cet, 1.
Yahya
bin Salam bin Abi Tha’labah. (2004). Tafsir Yahya bin Salam. Dar Al-Kutub
Al-Ilmiyyah Beirut Lebanon.
Penulis: Riris Rizki Maulida
Ditulis sebagai Tugas Mandiri mata kuliah Tafsir

Tidak ada komentar:
Posting Komentar