Sabtu, 03 Januari 2026

TAFSIR YAHYA BIN SALAM

(Generate Image by Gemini AI)

1.      Biografi Penulis

            Nama lengkapnya adalah Yahya bin Sallam bin Abi Tsa’labah al-Taimy al-Bashri al-Ifriqy alQairawany. Merupakan seorang ahli tafsir, ahli fikih, ahli hadis dan bahasa. Ia pernah bertemu dengan sekitar tabi’in semasa hidupnya dan banyak meriwayatkan dari mereka. Dilahirkan di Kufah dan akhirnya pindah ke Kufah Bersama ayahnya dan tumbuh di sana, ia juga pernah melakukan perjalanan ke Mesir dan negara-negara Afrika lainnya.

            Yahya bin Salam wafat pada tahun 200 Hijriyah sekembalinya ia berkunjung dari Mesir, beberapa catatan mengatakan bahwa ia dilahirkan pada 124 Hijriyah.

            Yahya bin Sallam banyak sekali melakukan pengembaraan mencari ilmu, dan di setiap negara yang ia singgahi ia bertemu dengan ulama-ulama yang berbeda-beda. Seperti ketika ia ke Kufah ia bertemu dengan Yunus bin Abi Ishaq, ketika ia ke Basrah ia bertemu dengan Abi al-Asyhab, ketika ia ke Syam ia bertemu dengan ‘Abdurrahman bin Yazid, ke Mekah atau Madinah ia bertemu dengan Malik bin Anas, ke Mesir ia bertemu dengan Ibn Lahi’ah, dan ketika ia berkunjung ke Afrika ia bertemu dengan ‘Abdullah bin Farraukh.

            Yahya bin Sallam tidak membatasi diri dengan mengambil ilmu dari ulama-ulama yang tsiqah (terpercaya) saja. Akan tetapi ia juga menimba ilmu dari ulama-ulama yang tergolong dhaif (lemah), seperti al-Harits bin Nabhan, Bahr bin Kaniz al-Saqa (ulama ahli hadis telah sepakat bahwa Kaniz adalah orang yang lemah dalam meriwayatkan hadis). Demikian pula Yahya bin Sallam tidak segan-segan mengambil ilmu dari ulama yang dikatakan ahl al-ahwa atau al-muttahimin (ulamaulama yang lebih buruk dari sekedar lemah) seperti Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya.

            Di masa hidupnya Yahya bin Sallam juga memiliki murid yang tidak sedikit, dua di antaranya yang berasal dari Afrika adalah Muhammad anak Yahya bin Sallam (w. 262 H/875 M), kemudian Abu Dawud Ahmad bin Musa bin Jarir al-Azdi al- ‘Aththar (w. 274 H/ 887 M). Kedua murid ini pada gilirannya meriwayatkan kitab tafsir yang ditulis oleh Yahya bin Sallam sehingga sampai kepada kita saat ini

            Beberapa ulama baik di Afrika maupun Timur Tengah memberikan komentarnya tentang sosok Yahya bin Sallam. Mereka sepakat bahwa ia adalah orang yang tsiqah (terpercaya) keilmuannya. Ibn Abi Hatim al-Razi menyebut Yahya adalah orang yang shaduq (jujur namun tidak sampai kepada terpercaya). Abu al-‘Arab menyebutnya sebagai ulama yang tsiqah, al-Dibbagh menyebutnya sebagai Mahalluh min al-‘Ilm Ma’lum (kepiawaiannya di bidang keilmuan telah diakui), meski begitu Imam Dar al-Quthni menyebutnya sebagai orang yang lemah, namun riwayatnya masih layak ditulis.

2.      Latar Belakang Kepenulisan

            Dalam menuliskan tafsirnya, terdapat semangat yang ingin Yahya bin Slam tuliskan. Ia berusaha menghalau segala bentuk bid’ah dan hawa nafsu serta mendorong orang-orang untuk mengikuti sunah Rasulullah Saw. Seperti ketika ia menafsirkan firman Allah surat al-Hasyr ayat 10 berikut :

            “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

            Ketika menafsirkannya, Yahya bin Sallam mengambil sebuah riwayat yang melarang orang-orang untuk mengikuti orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Diriwayatkan dari alNadhr, aku mendengar Abu Qilabah berkata kepada Ayub, wahai Ayub hafalkanlah tiga hal ini dariku, janganlah engkau bergaul dengan ahlu al-ahwa (orang yang menuruti nafsunya), dan janganlah engkau mendengarkan dari mereka…”

            Kata wa laa taj’al fii qulubina ghillan (janganlah Engkau menjadikan belenggu di dalam hati-hati kami), diartikan dengan menjauhi orang-orang yang hanya mengikuti syahwatnya dalam berprilaku. Ia juga mengutip hadis lain ketika menjelaskan hal tersebut, sebagaimana berikut :

            Dari Makhul, ia mengatakan, Rasulullah Saw bersabda: “Sunah itu ada dua, sunah yang mengamalkannya adalah sebuah kewajiban, dan sunah yang ketika mengamalkannya adalah keutamaan dan meninggalkannya tidaklah mengapa.”

            Dalam kesempatan lain Yahya bin Sallam juga sangat konsen sekali dalam hal akidah dan mencela perbuatan-perbuatan syirik.

3.      Sistematika Penulisan

            Secara umum, penulisan tafsir Yahya bin Salam mengikuti urutan dan struktur tafsir ayat demi ayat atau surah demi surah, dengan menyertakan penjelasan mengenai: Asbab al-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) yang memberikan konteks sejarah dan situasional atas turunnya wahyu tersebut. Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an (Yahya bin Salam sering mengutip ayat lain dalam Al-Qur'an untuk menjelaskan makna sebuah ayat tertentu) Tafsir al-Qur'an bi al-Hadis (Penggunaan hadis Nabi Muhammad SAW untuk memberikan penjelasan terhadap ayat yang bersangkutan) Tafsir bi al-Athar (Mengutip riwayat dari sahabat dan tabi'in untuk menjelaskan tafsir)

            Meskipun tafsir Yahya bin Salam tidak disusun dalam format yang sangat sistematis seperti tafsir-tefsir kontemporer, namun ia cenderung menguraikan tafsir secara runtut dan logis berdasarkan ayat demi ayat. Ia memberikan penjelasan yang tidak hanya mencakup aspek linguistik dan tekstual, tetapi juga dimensi hukum, akidah, dan sejarah.

4.      Sumber Penafsiran

            Yahya bin Salam diketahui menggunakan Al-qur’an, hadist dan pendapat para sahabat serta tabi’in untuk dijadikan sebagai sumber penafsirannya. Yahya bin Sallam juga tidak membatasi diri dengan mengambil ilmu dari ulama-ulama yang tsiqah (terpercaya) saja. Akan tetapi ia juga menimba ilmu dari ulama-ulama yang tergolong dhaif (lemah).

5.      Metode Penafsiran

            Dalam menuliskan tafsirnya ia menggunakan metode yang umum digunakan oleh ulama-ulama lainnya, di mana ia menafsirkan Alquran dengan Alquran, kemudian dengan Hadis, pendapat para sahabat dan tabi’in atau dengan merujuk kepada makna-makna kalimat dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu, model penafsirannya bisa dikatakan sebagai tafsir bi al-ma’tsur.

6.      Corak penafsiran

            Corak penafsiran tafsir yahya bin salam adalah tafsir fiqh dimana beliau berusaha menghalau segala bentuk bid’ah dan hawa nafsu dan mendorong orang untuk mengikuti sunah Rasulullah Saw dan pada kesempatan lain Yahya bin Sallam juga sangat konsen sekali dalam hal akidah dan mencela perbuatan-perbuatan syirik.

SUMBER REFERENSI

Munthe, S. H. (2018). Studi Tokoh Tafsir. Pontianak: IAIN Pontianak Press, Cet, 1.

Yahya bin Salam bin Abi Tha’labah. (2004). Tafsir Yahya bin Salam. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah Beirut Lebanon.

Penulis: Riris Rizki Maulida

Ditulis sebagai Tugas Mandiri mata kuliah Tafsir
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[ARTIKEL] “SELF-WORTH DALAM PANDANGAN ISLAM: PEMAHAMAN MENGENAI NILAI DIRI INDIVIDU”

Riris, Yusuf (Host Malam Puncak OSI Nasional & Festival Mahasantri 20025) Dalam menjalani sebuah proses kehidupan, individu bertahan s...